HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Mengejar Mimpi di Palestina

September 27
15:08 2011

Oleh: Nora Murad*

Yerusalem – Di sebuah perkumpulan perempuan di Burqa, sebuah desa Palestina berpenduduk 6.000 jiwa, yang berjarak 30 menit ke arah barat laut dari Nablus, para perempuan menyambut masing-masing dari kami dengan tiga kali cipika-cipiki – pipi kanan, pipi kiri, lalu pipi kanan lagi. Kami telah delapan bulan menjalankan Perempuan Dukung Perempuan, sebuah program sembilan bulan yang diadakan oleh Dalia Association untuk membangun kecakapan perempuan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya pengembangan masyarakat dan mengerahkan kecakapan mereka sendiri.

Beberapa bulan pertama program ini berjalan lancar. Kami menjalin hubungan di kelima desa yang kami pilih untuk ikut dalam program ini, dan membangun kredibilitas kami dengan bersikap tulus – komoditas langka dalam budaya oportunistik zaman sekarang. Di masing-masing tempat, para perempuan menunjuk diri mereka sendiri atau ditunjuk oleh yang lainnya untuk mewakili desa mereka. Kami bertemu beberapa kali dengan 15 tokoh perempuan terpilih untuk mendiskusikan ide, kapasitas, aset dan prioritas mereka.

Tapi setelah beberapa bulan, para perempuan mogok.

Setiap kali staf kami kembali dari lapangan, mereka mengatakan, “Tidak ada uang. tidak ada yang bisa kamu lakukan.”

Tapi kami terus kembali untuk bertanya pada mereka: “Apa prioritas kalian? Apa yang ingin kalian wujudkan di desa kalian?”

Jawabannya selalu sama: “Tak ada yang bisa kami lakukan.”

Kami terus kembali.

Setelah beberapa bulan mendengar jawaban, “Tidak ada yang bisa kami lakukan”, kami pun kehabisan ide. Tampaknya program ini akan gagal.

Menurut analisis kami, masalahnya adalah “industri pembangunan” pasca Oslo yang melemahkan kerja-kerja kerelawanan skala kecil dan menciutkan semangat untuk menggunakan sumber daya lokal. Maka kami membagi para perempuan ini ke dalam tiga kelompok kecil untuk memilih sebuah program yang akan kami danai melalui hibah kecil yang akan disesuaikan dengan sumber daya lokal yang akan digalang dananya oleh para perempuan itu.

Sedikit memberontak, mereka menegaskan, “Kami lebih kuat bila jadi satu kelompok. Dan kami ingin membangun sebuah taman.” Taman? tetapi anggaran total kami cuma enam ribu dollar!

Tapi kami lanjut. Kami terus saja menempuh perjalanan hampir dua jam dengan angkot-angkot yang dikemudikan oleh para sopir yang sudah siap kalau harus bunuh diri, bersama para penumpang lain yang kadang mengebulkan asap rokok di depan kami atau tertidur bersandar di badan kami. Kami terus melewati persimpangan-persimpangan utama yang mengarah ke kota-kota penting Palestina, tetapi hanya ditandai dengan rambu-rambu dalam bahasa Ibrani yang menunjukkan permukiman-permukiman Israel. Kami melewati berbagai pos pemeriksaan di mana para prajurit berusia 20 tahun mengarahkan senjata otomatis ke arah kami.

Kami lanjut karena kami percaya pada para perempuan ini.

Kami bertemu dengan seorang perancang dari Nablus yang dengan antusias ingin berpartisipasi. Dalam sesi curah pendapat, ia menantang para perempuan itu.

“Bermimpilah!” katanya.

Para perempuan itu mulanya tidak nyaman. Lalu, seolah ada bendungan yang jebol, demikian pula resistensi para perempuan itu.

“Saya ingin kolam renang,” teriak salah satu mereka, sambil cengigisan dan menutup mulutnya karena malu telah mengungkapkan ide menggelikan yang tidak masuk akal seperti itu.

“Saya ingin teater ruang terbuka,” kata perempuan lainnya, sambil menoleh kanan-kiri untuk melihat apakah yang lain tertawa. Dan daftar impian mereka pun berlanjut:

“Taman bermain anak.”
“Area piknik.”
“Aula pernikahan.”
“Air mancur.”
“Trem!”

Siapa yang tahu apa yang membuat para perempuan ini bisa mengatasi mentalitas “tidak ada yang bisa kami lakukan”. Mungkin mereka berani bermimpi karena mereka menganggap mimpi mereka mustahil diwujudkan. Anda tidak bisa membangun taman hanya dengan 6.000 dollar! Ini hanya sebuah permainan – permainan yang mereka mainkan dengan cantik.

Tapi ketika sang perancang dan tim relawannya yang merupakan para mahasiswa arsitektur kembali dengan desain pertama taman itu, para perempuan itu pun terkejut.

“Kita melakukannya?”

Tata letak taman itu cukup indah. Taman itu adalah tempat di mana manusia bisa menjadi manusiawi; di mana anak-anak bisa bersenang-senang dan belajar; di mana keluarga bisa bersantai bersama; di mana acara budaya yang penting bisa digelar. Para perempuan itu melihat apa yang mereka telah ciptakan, dan mereka mendambakan itu. Mereka pun mulai menyanyikan paduan suara baru, “Bagaimana kita bisa mewujudkan ini?”

Tak lama kemudian, para pendukung dan relawan ada di mana-mana. Para perempuan sadar bahwa orang-orang ingin memberi. tidak penting lagi berapa pun uang yang mereka miliki atau tidak miliki. Yang penting adalah mereka bisa mendapatkan berbagai bahan dengan berjejaring secara strategis. Energi mereka menjadi berlipat-lipat.

Sejak saat itu, proyek itu dipegang oleh lembaga politik, tetapi tidak ada yang khawatir. Impian yang telah dikejar di lima desa di utara Nablus tidak bisa disangkal. Kalaupun Dalia Association menghentikan program ini sekarang (tapi kami tidak akan), program ini akan tetap berlanjut tanpa kami dalam bentuk tertentu.

Keberhasilan taman itu belum tentu, tetapi keberhasilan program ini jelas. Lima belas perempuan saling mendukung untuk menemukan cara melakukan hal-hal yang dianggap mustahil untuk diri mereka sendiri dan komunitas mereka karena pantas menerima itu. Ini adalah perubahan sosial yang tidak bisa diputar kembali.

###

* Nora Murad ialah peneliti dan konsultan independen yang tinggal di Yerusalem Timur. Ia seorang relawan Dalia Association. Artikel ini telah diposting di situs 1001 Stories of Common Ground, dan merupakan finalis dalam kompetisi Positive Change in Action. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Dalia Association, kunjungi www.Dalia.ps.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment