HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Opini publik, kebijakan politik dan Mesir baru

August 28
13:08 2011

Kairo – Kini ada Mesir baru — di mana opini masyarakat menjadi penting. Mesir telah melewati tujuh bulan masa yang sarat kekacauan, dan Ramadan memberi kesempatan untuk jeda dari urusan politik karena kaum Muslim menunaikan puasa dan banyak melakukan perenungan spiritual di bulan ini.

Tapi pemilu parlemen kian dekat – mungkin dalam beberapa bulan lagi – dan para aktor politik perlu memikirkan strategi-strategi mereka. Jelas bahwa perpecahan telah muncul dalam jajaran penggerak revolusi, antara mereka yang fokus menjadi pengkritik dan mereka yang fokus pada pemilihan umum. Ramadan memberi mereka kesempatan untuk berdiskusi, berdebat dan, setelah itu, membentuk kelompok kembali.

Opini publik tidak bisa diabaikan seperti pada masa rezim yang lalu, meskipun opini publik tidak (belum) menguasai negeri ini. Meski faksi-faksi politik telah menyuarakan pikiran mereka tentang Mesir baru, gagasan-gagasan bagus semata tidak serta-merta menciptakan para pemimpin yang baik. Bahkan saat mereka tidak setuju dengan suara publik, para politisi yang mau sukses harus bicara dengan masyarakat.

Ekonomi, agama, militer dan media sosial adalah empat masalah penting yang perlu dimengerti dan dipikirkan oleh para politisi. Abu Dhabi Gallup Center kini tengah mengikuti perkembangan transisi penting Mesir setiap bulan – dan data dari beberapa bulan terakhir mengungkap kecerdasan publik tentang keempat tema tersebut.

Partai-partai politik Mesir harus menyiapkan rencana-rencana ekonomi yang matang – sesuatu yang akan perlu dengan cepat dilakukan. Data Gallup menunjukkan bahwa orang Mesir lebih optimis dengan masa depan setelah revolusi; mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa bangkit dari situasi ekonomi sekarang, yang mereka tahu akan tidak mulus dalam jangka pendek, menuju situasi yang jauh lebih baik di masa depan. Penting untuk menekankan bahwa, menurut jajak pendapat masyarakat, perbaikan situasi ekonomi lebih diperhatikan dari semua masalah yang lain. Seluruh kekuatan politik mau tidak mau harus membahasnya dengan tepat.

Peran agama di ruang publik adalah masalah penting lainnya – setidaknya di media – secara nasional dan internasional. Berdasarkan data Gallup, memikirkan kembali fokus ini cukuplah bermanfaat.

Orang Mesir (Kristen maupun Muslim) umumnya menerima agama lain. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, orang Mesir adalah bangsa yang paling bisa menerima seorang tetangga dari agama lain, setelah orang Lebanon. Pada saat yang sama, sebagian besar orang Mesir (96 persen) merasa agama itu penting. Ini menunjukkan bahwa orang Mesir boleh jadi ingin agama memainkan peran serupa seperti di negara-negara Eropa yang punya gereja-gereja yang mapan – untuk menjadi kekuatan moral di ranah publik.

Namun, menghormati agama tidak mesti berarti memiliki visi Islamis: gerakan politik Islamis yang utama, al-Ikhwan al-Muslimun, hanya mendapat dukungan 15 persen dalam jajak pendapat, dan kurang dari satu persen responden menganggap Iran sebagai model politik bagi Mesir. Agama menjadi wilayah pertikaian hanya jika partai-partai memutuskan untuk menjadikan agama demikian.

Mengenai militer, media Mesir penuh dengan kritik terhadap kekuatan bersenjata dalam berbagai isu. Namun, meski ada ketidakpuasan yang diekspresikan lewat berbagai cara, entah dibenarkan atau tidak, tentara menjadi yang paling populer di mata publik. Gallup baru-baru ini menemukan bahwa 94 persen orang Mesir percaya pada militer, sesuatu yang harus betul-betul dipertimbangkan oleh kekuatan politik yang mau berhasil.

Akhirnya, media sosial, yang dampaknya telah terpublikasi begitu luas, tampaknya tidak akan penting dalam pemilu. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa hanya seperlima orang Mesir yang menggunakan internet, apalagi mengakses situs seperti Twitter atau Facebook. Kendati ada klaim-klaim sebaliknya, revolusi 25 Januari sendiri bukanlah “revolusi media sosial”; hanya delapan persen orang Mesir yang mengatakan mereka menggunakan Facebook atau Twitter untuk mendapatkan berita tentang aksi-aksi protes, menurut data Gallup. Media sosial bukanlah, sampai sekarang, media informasi utama bagi rata-rata orang Mesir. Tidak ada jalan pintas untuk menjangkau “orang di jalanan”, dan semua pihak mestilah dianggap hanya akan mencoba melakukan itu.

Ramadan bisa memberi kesempatan kepada kekuatan-kekuatan untuk menata strategi, tetapi Ramadan segera berakhir dan pemilu pun semakin dekat. tidak ada orang yang bisa mendapat dukungan rakyat begitu saja. Data Gallup menunjukkan bahwa mayoritas orang Mesir acuh tidak acuh pada partai politik, dan tidak ada partai yang mendapat dukungan lebih dari sepertujuh dalam jajak pendapat. Orang-orang yang bereaksi secara strategis terhadap opini publik bisa mendapat banyak keuntungan dalam situasi ini; begitu pula halnya, orang-orang yang meremehkan opini publik akan banyak kehilangan dukungan. Waktu untuk mengatur rencana tidak akan tiba setelah Ramadan – waktu untuk itu telah tiba di hari Mubarak digulingkan dari kekuasaan. Orang-orang yang belum menyadari hal ini, perlu mengejar ketinggalan, dengan cepat.

###

* Dr. H.A. Hellyer ialah Analis Senior di Abu Dhabi Gallup Center (UEA)/Gallup Center for Muslim Studies (AS), dan peneliti Centre for Research in Ethnic Relations, University of Warwick (Inggris).

Artikel ini ditulis kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment