HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Mencari Rumah dengan Berpisah

February 08
11:20 2011

Mencari Rumah dengan Berpisah

Oleh : Taufiq Alimi

HMINEWS- Makan malam baru aku lewati dengan tanpa nafsu. Aku paksakan tanganku menjepit sumpit dan mengangkat mi rebus ala Vietnam ke dalam mulutku. Sesungguhnya mi rebus ini tak kalah enak dengan mi rebus di warung makan Jumpa Pers depan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta sana. Bahkan kecambahnya lebih panjang, dan dihiasi dengan daging sapi yang empuk. Tapi tetap tak terasa enaknya.

Karena enak itu datang dari perasaan yang memakan bukan dari makanannya. Kadangkala juga datang dari siapa yang memasak. Aku bersyukur ketika penggal terakhir daging sapi itu berhasil kutelan. Hehhhh….. lega rasanya!

Sambil berjalan pulang kutinggikan kerah jaket L.L Bean-ku, dan tanganku menyusup masuk ke saku. Mulutku pelan-pelan mengunyah permen karet, untuk mengusir kejang rahang karena angin dingin. Vancouver di bulan Agustus harusnya sudah lebih hangat. Matahari yang baik hati menunggui Vancouver tiap hari sampai pukul 20.15, masih tak mampu mengusir hawa dingin yang datang entah dari mana. Katanya ada pemanasan global, tapi kok musim panas Vanocuver masih tetap dingin saja?? Entahlah.

Terang toko kelontong di pojok pertokoan kompleks kampus Universitas British Columbia mengingatkanku akan keperluan sarapan esok pagi. Aku memang baru datang tadi pagi. Segera setelah datang aku harus sudah mulai bekerja, orientasi di lab komputer, ruang kerjaku selama tiga bulan, dan berkenalan dengan beberapa partner kerjaku nanti dari Institute for Research on Natural Resource Use Management. Dasar orang bule, tak pernah mereka berpikir untuk membiarkan tamunya beristirahat sejenak dan menghormati tamunya.

Rasanya, kalau mereka datang ke Universitas Gadjah Mada pasti akan aku biarkan dulu untuk istarahat dan paling tidak malamnya aku ajak jalan-jalan ke Rumah Makan Pringsewu. Masak ta, tamu kok disuruh cari makan sendiri di hari pertama.

“Hi Sir….”

Ah ternyata pemiliknya orang Jepang, aksennya masih sangat kelihatan walaupun tutur bahasanya halus. Usianya sebaya denganku, tapi pakaian jeans yang kotor dan apron kotor dan panjang yang ia pakai membuat ia tampak lebih tua. Tangannya repot memasukkan bunga yang semula ia jual dan letakkan di luar tokonya.

“Hai…..” sapaku agak malas…..

Setelah melihat apa yang ia jual aku memutuskan membeli apel, jus, pisang, sereal dan susu. Aku sebenarnya mencari mi instan, tapi rupanya Indomie belum sampai ke Vancouver.

“Hi Sir… can I help you???” Perempuan ini di balik kasir ini juga berwajah dan beraksen Jepang, walaupun sudah lebih luntur. Usianya tampak lebih muda dariku.

Tanpa berbasa basi, aku menyerahkan belanjaanku yang tidak banyak, membayar dengan gagap karena tidak terbiasa dengan uang Kanada, dan kemudian tersenyum lalu melangkah pulang. Hari pertama di Vancouver yang tidak terlalu mengesankan.

Hari kedua tampak lebih baik dari hari sebelumnya. Aku sudah mulai biasa merasakan kehangatan persahabatan profesional para professor dan peneliti di Universitas British Columbia ini. Walaupun, aku tetap harus makan sendirian; menyusuri University Boulevard dengan muka tunduk dan tangan terkunci di kantong jaket. Dingin dan sepi.

Aku melangkah lagi ke toko kelontong milik orang Jepang. Kali ini membeli pernik-pernik untuk mencuci pakaian seperti sabun dan pelembut. Toko agak sepi, walaupun hari ini aku datang tidak selarut kemarin. Si laki-laki Jepang, membaca buku berbahasa Jepang, dan si perempuan yang rambutnya dikucir itu di belakang counter kasir dengan senyumnya yang ramah, dan mata yang hangat dengan persahabatan.

“Kombanwa….”
Sapaku sambil berusaha melayani kehangatan persahabatan yang aku rasa sedang ia tawarkan.

“Ha… Anda bisa berbahasa Jepang”

“Tidak, Cuma itu saja!”

“Filipino…”

Ah sialan, kenapa tak pernah ada orang yang tahu kalau aku bukan orang Filipina.

“Bukan, saya dari Indonesia, sebelah Filipina”

Suasana mulai cair, dan dia mulai bertanya-tanya tentang apa yang aku lakukan di sini. Aku kemudian memutuskan untuk menambah belanjaanku, sekedar untuk membuatku lebih lama di toko ini. Sesudahnya aku berjalan pulang, dan Vancouver terasa lebih hangat walaupun hari beranjak larut.

Hari ketiga, pekerjaan berlangsung semakin intensif, dan kelelahan mulai terasa. Jetlag yang aku kira sudah menghilang, mulai menggangu irama kerja. Makan siang aku lewati dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Kali ini, Bruce, tuan rumah dan partner kerjaku mentraktirku makan siang. Suatu jamuan informal yang aku terima setelah aku dua hari menjadi tamunya.

Dia memilih One More Sushi restaurant, di sebelah toko kelontong yang dua malam ini selalu kunjungi. Kami makan sushi, dan tiba-tiba aku menjadi suka makanan Jepang, karena itu mengingatkanku pada mata hangat kasir toko kelontong di gedung sebelah. Aku jadi ingin bertemu kembali dengannya.
Malamnya, setelah makan malam sendiri, aku mampir ke toko kelontong tanpa tahu apa yang harus kubeli. Aku hanya ingin mendapat hangat dari mata kasir toko kelontong itu. Aku akhirnya membeli sebotol jus apel Minute Maid dan sebatang cokelat Kit Kat.

“Hi… kombanwa….”

“Hai… gimana kabarnya hari ini??” sapanya hangat dari balik kasir

“Menyenangkan, saya mulai senang tinggal di sini…” semoga dia tidak tahu apa yang membuatku mulai menyenangi tempat ini.

Aku merasa si lelaki di sudut toko, memindahkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca ke arah kami. Dia berpakaian sama seperti hari-hari sebelumnya, celana jeans kumal, apron putih kusam dan topi. Ia juga duduk di tempat yang sama, di sudut dekat deretan-deretan bunga-bunga dijajakan.

“Sudah lama di Kanada?”

aku berani bertanya karena logatnya masih sangat kental dengan aksen Jepang.

“Belum lama, kami baru tinggal di sini dua tahun” dia menyambung

“Kami ke sini segera setelah menikah…”

Ah rupanya mereka adalah suami isteri, satu hal yang mestinya sudah aku duga sejak semula. Aku jadi agak merasa bersalah dengan laki-laki di dekat bunga-bunga itu karena menyukai hangat mata isterinya.

Aku malam itu pulang dengan senyum yang aku sendiri tidak tahu apa maknanya.
Hari-hari berikutnya aku semakin rajin mengunjungi toko kelontong itu. Tidak tiap hari memang. Soalnya aku agak merasa bersalah, karena menyenangi berbicara dengan perempuan yang sudah bersuami.
Malam itu, aku seperti biasa membeli sereal, susu dan keperluan sarapan. Agak berbeda kali ini, Sunshuke-san—sang suami—tidak tampak duduk dengan bukunya di sudut bunga. Bunga-bunga juga melayu, mungkin sedih karena tidak ditunggui oleh pemiliknya. Didalamnya, Yumiko sang isteri yang memiliki mata hangat, tampak berwajah murung dan ditemani anaknya yang berumur sekitar enam bulan. Tangannya menyangga wajahnya yang tirus, kakinya menopang tangan, seolah kepala mungil berambut lurus itu beratnya berpuluh-puluh kilo. Mata hangat dan bundar, menjadi sayu dan kusam.

“Hai… dimanakah Sunshuke-san??”

“Hghhh….” Nafas berat mendahului jawabannya.

“Dia pergi, dan saya tidak tahu kapan ia pulang. Beberapa kawan lamanya dari Universitas Aizu datang tadi pagi, mereka sebenarnya sedang berlibur di Vancouver, dan kemudian mengajak Sunshuke untuk berkumpul. Dia tampak begitu senang…. Dan mengatakan akan pulang besok atau lusa, tapi aku tak yakin”

“Tapi kenapa kamu tampak begitu sedih… dia kan hanya pergi dengan teman, dan besok pasti akan kembali”

“kalau saja demikian, saya tak akan sesedih sekarang ini….”

“Engg… Anggg…”tiba-tiba anaknya menangis. Menangis keras, aku kira ini tangis paling keras dari seorang anak yang pernah aku dengar. Aku sendiri tidak tahu persis, karena belum pernah punya anak, tapi tangis ini kencang sekali.

“Cup… cup…. “ Yumiko menenangkan anaknya dengan menggoyang-goyang kursi tempat anaknya duduk setengah terlentang yang bentuknya seperti keranjang belanja.

Anaknya terus menangis, dan seorang pembeli mendatanginya untuk membayar.

“Boleh saya bantu…???” tanyaku sambil menyodorkan tanganku ke arah bayinya.

Aneh bayi itu melihatku, terdiam dan kemudian tersenyum. Ibunya ikut tersenyum dan matanya menghangat, dan tampak berkata “silahkan!”

Aku belum pernah menggendong dan menenangkan bayi, tapi aku merasa senang, dan merasa hangat memeluk bayi mungil itu.

Selepas pembeli tadi dilayani, Yumiko bercerita bahwa dia sangat khawatir karena suaminya sejak beberapa bulan ini sangat gelisah dan tidak kerasan tinggal di Vancouver. Dia ingin kembali ke Fukushima, tempat di mana mereka berdua berasal. Shunsuke suka merindukan keindahan alam di pinggir danau Inawashiro, keindahan alam pesawahan di lembah gunung Bandai.

“Sunshuke memang seorang yang romantis, dia suka menulis haiku ketika kami dulu pacaran di tepi danau Inawashiro…. Dia sangat halus perasaannya, dan sangat sayang sama saya.”

Aku merasa sedih, entah karena melihat Yumiko sedang merasa ditinggalkan, atau merasakan kesedihan Sunshuke yang rindu dengan kampung halamannya. Aku yang belum dua minggu sudah merasa rindu bukan kepalang, apalagi ia yang sudah dua tahun di sini.

Aku berusaha menunjukkan simpatiku atas persoalannya lewat mataku, dan aku berkata
“Aku mengerti rasanya rindu kampung halaman, dan mengerti kesulitanmu karena kalian harus hidup di sini dan berjuang untuk hidup di sini”

Dia menatapku, matanya tampak sedikit lebih cerah, dan kemudian ia berkata “Shunsuke juga tidak terlalu nyaman bekerja membuka toko ini. Dia ingin terus menjadi penulis, tapi kami belum pernah punya kesempatan” Dia melanjutkan,

“Ketika kami memutuskan untuk menikah, ayahku tidak menyetujuinya, dan menginginkan aku untuk terus sekolah mengambil master atau bahkan doktor di Universitas Keio. Tapi kami memutuskan lain. Kami ingin menjadi diri sendiri, dan memutuskan untuk berpinah ke Vancouver ini. Toko ini adalah usaha sementara kami, sampai Sunshuke bisa hidup sebagai penulis, dan aku mungkin bisa mengelola usaha yang lebih baik. Shunsuke juga merasa terasing di sini. Dia tak bisa lagi menulis haiku, atau mengolah keramik seperti yang dulu sering ia lakukan. Kasihan dia sebenarnya, tapi kami bisa berbuat apa? Ini toh pilihan kami sejak semula”

Aku menjadi tambah sedih. Aku tahu sekarang, sedihku karena rasa empati atas perasaan sedih Yumiko. Kami berdua sedih karena ketidaknyamanan perasaan Sunshuke.
Esok harinya, ketika makan siang aku melihat kembali Sunshuke di pojok yang sama. Tapi kali ini ia tidak membaca, ia terlihat sedang menulis. Wajahnya berganti-ganti antara ceria dan murung. Entah apa yang ia pikirkan. Aku merasa perlu untuk berbicara dengannya, bukan karena persoalan yang ia hadapi tetapi lebih karena rasa bersalahku karena merasa telah terlalu dekat dengan isterinya.
“Hai… untuk setangkai mawar ini berapa?”
“Itu 3 dolar sudah termasuk pajak. Sudah menemukan orang untuk diberi mawar rupanya?”
“Begitulah…..” aku sedang berbohong.
“Tampak sibuk menulis sesuatu…?” aku masih melanjutkan.
“Ah… kesenangan lama, menulis haiku. Puisi yang terdiri dari tiga baris dan masing-masing mengandung 5, 7 dan 5 suku kata”
“Saya bayangkan sangat sulit menulisnya, dengan aturan yang ketat seperti itu”
“Tidak juga, karena bukankah setiap kata sesungguhnya mewakili suatu perasaan yang khusus. Seperti setiap warna memiliki makna khusus bagi pelukis dan penikmat lukisan. Atau setiap bentuk, kekasaran, dan warna keramik bisa bercerita apa saja…”
Aku tidak paham benar apa yang ia ucapkan, tapi aku menjadi benar-benar tahu bahwa ia seorang seniman.
Malamnya aku kembali kehilangan dia. Di toko hanya terdapat Yumiko dan anaknya. Kali ini anak perempuan manis ini juga terdiam setelah aku menggendongnya. Yumiko bercerita lebih banyak, suaminya ingin kembali ke Jepang, karena merasa bahwa Vancouver bukan tempat yang pas buatnya. Sunshuke rindu keindahan gunung Bandai.
“Lantas, apa pendapatmu tentang hal itu?”
“Alasan ketika kami pindah kemari adalah karena kami merasa bahwa tidak nyaman tinggal di Jepang. Terlalu banyak aturan masyarakat yang mengungkung kami. Saya merasa nyaman tinggal di Kanada sini, tak banyak tetek bengek yang harus kami perhatikan dan tak banyak sanksi-sanksi sosial yang kami harus selalu khawatirkan. Aku kira aku tetap ingin tinggal di Kanada sini. Bahkan dengan toko kami ini kehidupan kami juga tidak buruk…. Aku menyukainya!”
“Tapi suamimu tidak menyukainya…???”
“Itulah masalahnya….”
“Terus rencanamu bagaimana?”
“Well, kalau memang tidak ada titik temu—dan tampaknya akan demikian—mungkin kami akan putuskan untuk bercerai”
Keterkejutan langsung menyambar perasaanku, mengingatkanku pada penderitaan anak mereka. Terbayang kesulitan-kesulitan dan kesakitan yang dialami oleh sepasang dosen fakultas Psikologi tetanggaku yang bercerai setelah 6 tahun menikah. Anaknya mengalami penderitaan yang luar biasa. Apakah mereka dan anak mereka harus mengalami hal serupa? Getir sekali.
“Apakah Anda mengijinkan kalau saya bicara dengan suami Anda, siapa tahu saya bisa membantu….” kataku tiba-tiba.
“Entahlah… aku tidak yakin”
Akupun tidak memiliki keyakinan apapun, aku hanya tidak ingin mereka bercerai entah kenapa. Mungkin aku hanya ingin bebas dari rasa bersalah, karena merasa sudah terlalu dekat dengan Yumiko.
Dua hari kemudian aku berhasil mengajak Sunshuke untuk makan siang bersama, setelah sebelumnya aku berpura-pura mengajaknya untuk mendiskusikan haiku dan geguritan. Pembicaraan dengan Sunshuke berlangsung jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Setelah aku menceritakan sejumlah geguritan—yang aku tidak tahu benar tentangnya—dan beberapa guritan asal-asalan yang aku bikin semalam sebelumnya, Sunshuke tampak sangat antusias cerita tentang haiku dan keindahan alam Fukushima. Dia antusias sekali menceritakan kerinduannya kepada kampung halamannya, tempat di mana ia seharusnya berada, tempat jiwanya terpaut.
“Aku tidak tahu siapa diriku setelah sekian lama di Kanada, aku tidak tahu sedang melakukan apa, atau untuk apa…Negara ini memberi pekerjaan dan kebebasan, tapi itu semua melelahkanku. Kebebasan di sini terasa liar bagiku. Orang-orang di sini, bergerak bagaikan mesin, dan aku sangat kesakitan ketika menjadi mesin…. Aku rindu rumahku”
Dalam perjalanan pulang, aku tahu persis bahwa kedua orang itu memang memiliki rumah yang berbeda kendati mereka tinggal satu atap. Mungkin mereka memang harus tinggal di rumah masing-masing, agar sama-sama tenteram hatinya. Agar tak harus terpaksa berganti menjadi orang lain, walaupun mereka harus berjauhan, walaupun mereka saling mencintai.

Aku teringat sebuah haiku yang dibacakan Sunshuke ketika bercerita tentang rindunya pada indahnya danau Inawashiro

Sugatami ni
Furu yuki utsushi……
kigaekeri
(bak cermin panjang
pantulkan gugur salju ……
aku tlah berubah)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment