HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Skeptisisme Terhadap Agama

February 18
11:11 2011

Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Oleh : Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah

KATA agama, sebagaimana juga kata religion, memiliki puluhan definisi sehingga kata yang sama bisa memiliki makna dan maksud berbeda di antara mereka yang mengucapkannya.

Di Indonesia ada yang membuat perbedaan tegas antara agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Yang pertama diyakini datang dari Tuhan melalui Rasul-Nya yang kemudian terabadikan pesan ilahi itu ke dalam kitab suci, sedangkan yang kedua tidak mengenal konsep ketuhanan dan kerasulan. Tetapi, kategori yang populer dengan istilah ”agama langit” dan ”agama bumi” ini juga mengundang perdebatan.

Baik bumi dan langit keduanya adalah ciptaan Tuhan. Di Indonesia banyak penganut aliran kepercayaan yang juga meyakini Tuhan sekalipun tidak memiliki konsep kenabian. Dalam berbagai literatur, umat Buddha hampir tidak pernah bicara tentang Tuhan. Begitu pun Kong Hu Cu yang lebih dikenal sebagai filsafat hidup. Tetapi, karena terikat konstitusi negara yang berlandaskan Pancasila, keduanya yang telah resmi diakui sebagai agama mesti mengakui Tuhan Yang Maha Esa.

Pengakuan ini langkah bijak untuk memperoleh perlindungan hukum dan administrasi karena keberadaan sebuah agama atau aliran kepercayaan memerlukan perlindungan hukum. Tetapi, urusan keyakinan yang bersifat pribadi, negara tidak bisa mencampuri. Di Barat pernah terjadi skeptisisme terhadap lembaga keagamaan karena dianggap korup dan terlibat berbagai konflik dan perang berdarah-darah.

Munculnya faham humanisme-sekularisme dan Marxisme antara lain dipicu oleh kebobrokan organisasi dan penguasa gereja waktu itu yang menekan penalaran ilmiah serta lebih sibuk dengan perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan Tuhan. Butuh waktu sangat lama gereja dan agama-agama di Barat untuk bisa menarik kembali simpati masyarakat Barat yang sudah merasa hidup damai dan nyaman tanpa agama. Mereka percaya kepada Tuhan, tetapi enggan bergabung dengan lembaga keagamaan.

Tidak hanya terjadi di Barat yang mayoritas Kristiani, di dunia Islam pun gejala ini mulai tampak terjadi. Berbagai ekspresi keagamaan dengan bahasa kekerasan dan kebencian telah menimbulkan kekecewaan dan skeptisisme di kalangan remaja- remaja dan mereka yang tengah tertarik mempelajari agama. Saya berjumpa kalangan eksekutif kota yang tengah tertarik mempelajari Islam yang merasa kecewa melihat materi dan metode dakwah yang dirasakan kurang tepat bagi kalangan intelektual dan eksekutif yang pergaulannya lintas agama dan bangsa.

Berbagai tindak kekerasan atas nama agama yang mendominasi pemberitaan di media massa juga membuat kecewa. Agama yang selalu dibayangkan sebagai sumber kedamaian, ilmu pengetahuan, dan kebajikan hidup ternyata diwarnai dengan fanatisme- ekstremisme yang tidak memberi ruang untuk berdialog dengan santun, cerdas, dan bersahabat. Agama lalu menjadi pemisah dan sumber kecurigaan serta persaingan yang tidak sehat dalam kultur sebuah perusahaan atau perkantoran.

Ini sangat tidak sehat dan akan menggerogoti profesionalitas dan produktivitas kerja. Semestinya agama menjadi pendorong untuk berlomba dalam berprestasi, sebagai tali pengikat persahabatan yang saling menghargai perbedaan, bukan penyebar suasana pengap, ruwet, curiga, dan saling gertak. Orang yang mudah terpancing untuk marah, apa pun alasannya, akan mudah ditunggangi dan dibelokkan oleh mereka yang menyimpan agenda politik partisan.

Mereka sangat rentan dimanfaatkan sebagai ujung tombak untuk melukai atau menusuk kelompok tertentu. Ini sudah sering terjadi di mana-mana. Ironisnya, banyak di antara mereka yang dijadikan sebagai ujung tombak merasa jadi pembela agama dan berjuang di jalan Tuhan, dan seringkali menunjukkannya dengan berperilaku brutal terhadap orang di luar kelompoknya meskipun sesama muslim. Akhir-akhir ini banyak orang mulai merasa skeptis terhadap ormas dan gerakan keagamaan karena isu keagamaan yang mencuat ke permukaan selalu seputar soal kekerasan dan pertikaian.

Media massa pun sering tidak selektif dan edukatif dalam menyajikan beritanya. Simbol-simbol keulamaan dalam Islam seperti kiai, ustad, dan habib yang semestinya dijaga kehormatannya, kemudian tercoreng dan tak lagi memperoleh simpati dan kepercayaan masyarakat. Padahal di Indonesia ketiganya memiliki konotasi ahli agama atau pendakwah agama yang dihormati. Terhadap fenomena seperti itu, ada tiga macam bentuk respons.

Pertama, ada kelompok mayoritas yang bersikap moderat dan memilih diam, dua kutub lainnya adalah mereka yang bersuara lantang dan terkesan galak dalam membela Islam, dan mereka yang bersikap skeptis dan sinis pada organisasi dan gerakan keagamaan. Di Barat pernah muncul slogan: Spirituality-Yes, Religion-No. Ada lagi ungkapan lain: Yes to God, No to Religion. Bukan mustahil bahwa di Indonesia slogan-slogan seperti ini bisa saja berkembang.(OZ)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. Vekky
    Vekky February 21, 12:48

    Pak Komarudin, mohon maaf, pwerkenankna saya menagggapi bagian atas tulisan bapak dan saya sampaikan bahwa dalam kitab2 Agama Khonghucu: antara lain Shijing, Liji, Shujing, dan Lunyu; di sana kata “Tian” atau “Shangdi” yang bermakna Tuhan YME bdapat anyak bapak temukan di sana.
    Mohon bapak dapat memeriksanya lagi.
    Tks atas perhatian bapak,
    salam saya, Vekky…

    Reply to this comment

Write a Comment