HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Heboh Susu Formula Berbakteri

February 21
23:57 2011

Heboh Susu Formula Berbakteri

Oleh : Suryo Pratomo

SALAH satu hal yang harus kita bisa lakukan adalah menjadikan bangsa ini sebagai masyarakat berpengetahuan. Dengan itulah maka bangsa ini akan mempunyai wawasan yang luas dan tidak terjebak dalam persoalan yang sekadar menimbulkan ingar-bingar.

Beberapa hari belakangan ini kita diramaikan oleh perdebatan berkaitan susu formula yang mengandung bakteri. Apalagi ketika Mahkamah Agung memutuskan untuk mengumumkan susu formula yang ada di pasaran, yang diduga tercemar Enterobacter sakazakii. Dengan alasan untuk kepentingan publik, maka para peneliti Institut Pertanian Bogor dan juga Badan Pengawasan Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan diharuskan mengumumkan secara terbuka nama susu formula yang didapati tercemar bakteri.

Kita tidak bermaksud untuk tidak menaati keputusan MA yang berkekuatan hukum tetap. Namun apa yang sedang terjadi sekarang ini tidak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan dan kebebasan yang dimiliki oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian bagi kebaikan kehidupan manusia.

Mengapa kita sampai mengatakan seperti itu? Peneliti IPB yang melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya Enterobacter sakazakii di dalam susu formula, bukan sedang melakukan pemeriksaan terhadap susu formula yang beredar di pasaran. Peneliti itu sedang mencoba menemukan ada atau tidak bakteri sakazakii di dalam susu formula.

Dari 22 sampel yang diambil, ditemukan adanya bakteri sakazakii pada lima sampel. Langkah selanjutnya adalah mencoba mengetahui bahaya dari keberadaan bakteri sakazakii tersebut di dalam susu formula. Untuk itulah lalu dilakukan percobaan kepada mencit atau anak tikus putih.

Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2003-2006 itu kemudian dibawakan dalam forum ilmiah dengan diberi judul “Potensi kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat infeksi Enterobacter sakazakii yang diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Formula”. Penelitian ini dipublikasikan melalui website IPB pada tanggal 17 Februari 2008.

Di kalangan para peneliti, hasil penelitian seperti ini merupakan sesuatu yang biasa. Bahkan dari debat ilmiah bisa dikembangkan lebih lanjut bagaimana misalnya mengendalikan bakteri tersebut agar tidak membahayakan kesehatan manusia. Atau kalau memang dianggap sangat membahayakan kesehatan masyarakat bisa dimasukkan sebagai usulan kepada BPOM maupun Kementerian Kesehatan untuk misalnya melakukan penelitian lebih lanjut dan bahkan mungkin melarang susu formula yang mengandung Enterobacter sakazakii untuk beredar di pasaran.

Hasil penelitian yang seharusnya didekati dari kacamata ilmiah menjadi persoalan ketika dibawa menjadi bahasan awam di ranah publik. Apalagi kemudian tidak ditempatkan konteks yang tepat bahwa yang sedang dilakukan bukanlah pemeriksaan terhadap semua produk susu formula yang ada di pasaran, tetapi pencarian terhadap ada atau tidaknya bakteri sakazakii pada susu formula.

Kesalahkaprahan ini semakin menjadi-jadi ketika dijadikan ajang untuk mencari sensasi. Penelitian ilmiah dibawa ke dalam ranah hukum. Yang lebih menyedihkan, kini persoalan dibawa lagi ke ranah politik. Anggota DPR begitu genit untuk seakan-akan membela kepentingan rakyat, tanpa mencoba memahami duduk perkara penelitian yang sebenarnya dilakukan.

Kalau persoalan ilmiah didekati dengan cara pandang yang tidak ilmiah, maka pasti yang lebih mencuat adalah kontroversi. Kalau peneliti selalu ditakut-takuti oleh cara-cara seperti itu, maka ilmu pengetahuan Indonesia tidak akan pernah berkembang. Sepanjang kita masih bersikap seperti itu, maka ilmu pengetahuan kita akan semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Padahal bangsa lain justru mendorong ilmuwannya untuk melakukan penelitian. Bangsa Korea misalnya sudah berhasil melakukan kloning pada hewan. Dengan dasar ilmu pengetahuan itu, maka bangsa Korea semakin melompat tinggi dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Apakah seorang peneliti bisa salah? Sebagai seorang manusia biasa, pasti peneliti bisa salah. Namun kesalahan yang dilakukan peneliti tidak bisa dikriminalkan. Kalau pun ada pelanggaran berat yang dilakukan, itu harus dinyatakan bersalah terlebih dahulu oleh Komite Etik Peneliti.

Kriminalisasi terhadap peneliti tidak bisa dibiarkan, karena itu akan mempengaruhi kemajuan bangsa ini. Orang akan malas menjadi peneliti, karena akan dihadapkan kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Padahal menjadi seorang peneliti tidak bisa begitu saja, tetapi harus melalui jenjang profesional yang panjang.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) harus turun tangan untuk menyelesaikan kekisruhan yang terjadi sekarang ini. AIPI tidak bisa membiarkan para peneliti kita dijadi-jadikan bulan-bulanan para politisi yang butuh panggung ataupun para petualang yang membutuhkan popularitas. AIPI harus tampil untuk mendudukkan perkara dan sekaligus mengedukasi bangsa ini.

Jangan biarkan persoalan yang berkaitan dengan bakteri pada susu formula menjadi persoalan IPB atau BPOM atau Kementerian Kesehatan semata. Ini harus menjadi persoalan AIPI, karena ini akan mempengaruhi nasib para peneliti Indonesia.

Bangsa ini tidak akan pernah mempunyai orang-orang sekelas Albert Einstein, kalau kondisinya seperti ini. Padahal dari “kegilaan” peneliti seperti itulah akan ditemukan sesuatu yang  besar dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa ini. Dari penelitian-penelitian yang jauh berwawasan ke depan akan bisa membawa Indonesia dikenal sebagai negara terkemuka, karena ilmuwan-ilmuwannya mendapat penghargaan Nobel dari hasil ketekunan melakukan penelitian.

Pilihan lain kita akan terus menjadi bangsa paria seperti sekarang ini. Bangsa yang hanya ramai dalam berwacana, namun tidak pandai dalam melakukan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negaranya.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. Luthfi
    Luthfi July 09, 19:58

    Maaf, tapi saya rasa tulisan anda tidak nyambung. Masalah utama dalam isu ini bukanlah mengkriminalkan penelitinya. Tetapi menerbitkan hasil penelitiannya dengan kejujuran. Dengan mengumumkan hasil penelitiannya dengan jujur, maka produsen susu yang merasa produknya bersih namun dinyatakan tercemar dapat memberikan klarifikasi, thus menjadi crosscheck terhadap data si peneliti.

    Sangat tidak relevan bila keputusan MA tersebut disamakan dengan mengkriminalisasi peneliti. Karena yang dituntut bukanlah kegiatan penelitian itu sendiri, tetapi keengganan untuk membuka dengan gamblang hasil penelitian tersebut.

    Dengan situasi seperti sekarang yang terjadi adalah:
    1. Secara tidak langsung semua produk susu dicurigai. Akibatnya.. gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.
    2. Kredibilitas penelitian juga menjadi jelek. Apa sih susahnya menyatakan sebuah kejujuran? Takut dituntut? Kenapa? Kalau kebenaran ada di belakang penelitian tersebut?
    3. Penghamburan energi dan biaya yang tidak perlu gara-gara nila setitik.
    4. Potensi pengalihan perhatian publik dari isu yang lebih patut dapat porsi lebih.

    Reply to this comment

Write a Comment