HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Nilai-Nilai kebangsaan, Jelang Tahun Baru Islam

December 07
10:07 2010

Merasa perlu menyampaikan dalam rangka spirit memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H (tahun Hijriah) dengan memperhatikan kondisi kebangsaan NKRI dan visi masa depan generasi muda dan generasi bangsa. Kiranya tidak salah dalam suasana peringatan tersebut kita kembali mengingatkan kondisi kebangsaan kita saat ini sudah dalam tahap memprihatinkan kita bersama dan sampai-sampai para pemimpin-pemimpin kita sangat miskin keteladanan religious yang mendukung nilai-nilai kebangsaan.

Bahkan dalam situasi ke Indonesiaan kita saat ini kemiskinan kebangsaan tersebut tidak hanya pada tingkat pemimpin-pemimpin namun pada tingkat golongan menengah dan golongan rakyat pun sudah hampir tak memiliki nilai kebangsaan. Kalaupun sedikit terlihat nilai kebangsaan pada dasarnya terpancar dari pemahaman yang ala kadarnya karena bersifat situasional, kepentingan sesaat, dan simbolis-simbolis saja.

Nilai kebangsaan memiliki aspek yang sangat luas dan pengejawantahannya pun bermancam-macam namun nilai kebangsaan dalam sikap dan tindakan apapun bentuknya akan bermuara kepada output kecintaan-kecintaan kepada ke Indonesiaan dalam segala aspeknya. Pemahaman terhadap nilai kebangsaan tersebutpun akan bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas-kapasitas yang dimiliki setiap warga Negara. Nilai kebangsaan Indonesia sedari visinya diawali dengan perjuangan-perjuangan para pahlawan kita sejak tahun 1908, tahun 1928 dan tahun 1945. Nilai-nilai kebangsaan pada masa itu tercetus akibat penjajahan, ketidak adilan, feodalisme, dan kekerasan-kekerasan penjajah Belanda yang dirasakan pada seluruh aspek hidup dan penghidupan rakyat di hindia belanda pada masa itu. Nilai kebangsaan tersebut pada dasarnya diresapi oleh para cendikia-cendikia muda kita pada masa itu. Para cendikiawan-cendikiawan tersebut serasa terilhami oleh suatu kekuatan nurani dan tingkat religius yang tinggi sehingga dapat menangkap penderitaan akibat penjajahan dan bertindak, membrontak dan hati dan tindakannya untuk membebaskan bukan diri mereka sendiri tetapi membebaskan saudara-saudaranya yang tertindas akibat pernjajahan Belanda.

Visi kebangsaan pada masa itu secara garis besar oleh pahlawan-pahlawan tersebut adalah dimaksudkan untuk kebebasan, kemerdekaan, dan kerjayaan anak cucu mereka dan dalam segala perjuangan, tekanan dan penderitaan yang mereka terima pada cendikia-cendikian tersebut berhasil menghantarkan saudaranya, bangsanya, rakyatnya, buminya, airnya dan kekayaan yang terkandung dalam tanah air tersebut terbebas dari penjajahan dan penindasan bangsa lain (belanda dan inlander-inlandernya) dan memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Mereka adalah contoh cendikiawan-cendikiwan yang bernilai kebangsaan yang tinggi, mereka adalah pahlawan-pahlawan pembebas, mereka adalah pemimpin-pemimpin yang telah sukses menerapkan nilai-nilai kebangsaan yang sesungghunya dan nilai-nilai kebangsaan yang sejati. Dan mereka adalah inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia dulu kini dan masa yang akan dating, mereka adalah tauladan-tauladan, mereka adalah manusia-manusia yang diberi ilham dan kekuatan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala, mareka lah harusnya tempat kita menggali bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan, mereka lah orang-orang yang telah diberi petunjuk jalan yang lurus oleh Allah SWT.

Para Pahlawan-pahlawan kita itu adalah juga cendikiwan-cendikiawan yang ulung pada cendikiawan-cendikiawan yang religius dengan ilmu dunia dan ilmu agamanya mereka berhasil memadukannya dalam suatu gerak kebangsaan hingga menghantarkan kita kepada jembatan emas kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dalam mukaddimah kemerdekaan itu mereka seakan diilhami dan diberi petunjuk Oleh Allah SWT dan dengan melihat ikrar “atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dan “di dorongkan atas keinginan yang luhur, berkebangsaan..dst…dst..” kita MERDEKA. Allah SWT akan tetap berpihak kepada kaum yang tertindas dan kaum cendikiwan adalah orang-orang yang ditinggikan Allah SWT derajatnya dibanding orang-orang biasa. Dan sunnatullah lah yang harus terjadi bahwa nilai-nilai kebangsaan harus dimulai dari keteladanan pada cendikiwan-cendikiwan dan arti yang yang luas.

Sebagai manusia muslim sesungguhnya telah diberi kekuatan oleh Yang Maha Pencipta dengan perantaraan kalam kalau lah mereka itu mengerti dan paham akan maksud-maksud diturunkannya kitab suci sebagai pedoman dalam mengarungi keruwetan-keruwetan berkebangsaan Indonesia ini. Setiap umat Islam telah dibekali Sang Khaliq ilmu dan hikmah. Sesungguhnya lah setiap umat Islam menjadi penentu dalam bertanggung jawab menentukan masa depan Ke Indonesiaan ini. Bekal untuk itupun banyak kita temui dan menginspirasi kita dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan (tentu dimaksudkan adalah nilai-nilai kebangsaan yang tinggi dan sejati bukan sekedar nilai-nilai kebangsaan sebagaimana sekedar dipahami seorang rakyat jelata tukang becak misalnya). Bahkan dalam Al Qur’an sekalipun Allah SWT memberi 7 Ayat sakti Ummu Al Qur’an (Surah Al Fatihah) kepada setiap muslim dalam memandang masa lalu masa kini dan masa yang akan datang dalam kehidupannya secara pribadi dan diwajibkan membacanya dalam setiap rakaat sholatnya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara setiap muslim pun dituntut mencari jalan yang lurus untuk memperoleh kesuksesan dunia dan akhirat. Dan sebenarnya telah diingat-ingat oleh Yang Maha Kuasa bahkan dalam Surat Al Fatiha terutama dalam ayat 6 : Ikhdinas Shiratal mustaqim = “tunjukkan kami jalan yang lurus”; Kita memohon kepadaNYA agar ditujuki jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan Rahmat dan BerkahNYA, mari kita dengar dan hati kalimat itu dan resapi dalam konteks perjalanan bangsa ini. Bagaimana kita mencari dan menemukan jalan yang lurus…? Tidak susah jika jiwa dan hati kita terang dan keinginan kita luhur dan mata hati kita tidak terkunci. Jawabannya ada dalam Ayat ke 7 nya yakni : Shiratal allazina an mata alaihim ghoiril maqdubi alaihim wa la dholim : “(yaitu) jalan orang-orang yang Engkau telah anugerahi nikmat kepada mereka, dan bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan)) mereka yang sesat.  Tentu diperlukan jalan yang kita dapat telusuri dan jalani yakni jalan orang-orang yang telah diberi nikmat bukan jalan orang-orang yang diberi murka dan bukan jalan orang-orang yang sesat. Kita dapat membayangkan orang-orang yang telah mendapat nikmat, kebahagian dan kesuksesan sebagai karunia dari Allah SWT. Bayangkan oleh kita pula kepada mereka-mereka yang telah diberi murka dan azab. Dan lihatkan oleh kita akan kesesatan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan dijauhkan dari jalan Allah SWT.  Al Fatiha adalah Ummu Al Qur’an yang akan hidup sepanjang masa dan berdimensi masa lalu masa sekarang dan masa depan disamping Surah tersebut juga berdimensi untuk segala aspek hidup dan penghidupan setiap muslim dan mengandung sunnatulloh.

Dalam konteks berkebangsaaan dan berkenegaraan Indonesia rasanya Al Fatiha itu dapat menjadi pedoman kita dalam mencari dan melaksanakan nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Bahwa tentu kita sepakat bahkan meyakini seluruh pahlawan-pahlawan bangsa kita itu adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT dan diberi jalan yang lurus bagi mereka pada masa itu untuk meraih kesuksesan, meraih nikmat, meraih kegemilangan, dan akhirnya mereka dapat memerdekakan bangsa ini melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 dan hasil-hasil kemerdekaan itu telah kita nikmati sebagai generasi penerus bangsa dalam segala keuntungannya baik ekonomi, social, budaya, politik, idiologi, pertahanan dan keamanan dan lain-lain kenikmatan dan anugerah telah dipersembahkan para pahlawan itu kepada kita anak cucu mereka. Oleh Karena petunjuk dan jalan yang lurus yang di ilhamkan kepada mereka dari Ilahi Robbi maka adalah bukti yang nyata terang dan benderang bagi kita akan kebenaran jalan lurus yang mereka tempuh dan jalan lurus anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya dalam konteks berkebangsaan dan bernegara dalam mencari dan menemukan nilai-nilai kebangsaan yang tinggi dan sejati adalah Allah SWT telah memberi petunjuk kepada kita semua warga Negara Indonesia untuk menggali dan memetakan jalan orang-orang sebelum kita (para pahlawan kita tersebut) karena itu lah setiap hari sebanyak 17 kali kita minta dan mohonkan kepada Allah SWT dalam Setiap rakaat Sholat kita dalam setiap harinya. Tanggal 17 merupakan jawaban atas doa-doa kita dalam rakaat sholat kita yang terkandung dalam Surah Al Fatiha. Bukan kah tanggal 17 Founding Father kita memproklamasikan kemerdekaan kita…..?!!! ya Tanggal 17 Agustus 1945 kita Merdekaaaa..! ( hal ini tidak dimaksudkan berpikir metafisik namun hanya sebagai inspirasi saja semoga tidak disalahartikan).  Jalan lurus berkah Allah SWT yang di anugerahi kepada para pahlawan-pahlawan kita itu sebaiknya kita gali kembali karena nilai-nilai yang mereka tegakkan tersebut tidak akan hilang sebab bagi kita sebagai Negara para pahlawan kita itu sesungguhnya syuhada bangsa. Dan para syuhada tak akan pernah mati bukan lah arwah para pahlawan kita tersebut tetap hidup dalam hati kita semua. Para syuhada itu adalah para cendikiawan-cendikiwan pada masa itu. Dan calon-calon cendikiwan-cendikiwan tentu diberi muatan nilai-nilai religius dalam konteks kehidupan bernegara untuk menggali dan menggelorakan nilai-nilai juang 45 ke dalam sanubari setiap pemuda dan generasi muda bangsa dan Negara ini. Hal ini rasanya dimohon dapat digelorakan oleh para cendikia mengingat nilai-nilai kebangsaan, utamanya nilai-nilai kejuangan 45 telah hampir hilang daripada benar generasi muda kita saat ini.

Dalam kehidupan keIndonesiaan saat ini kita akui telah lebih banyak bersalutkan materialisme, individualisme, budaya konsumtif, liberalisme, korupsi, kolusi, feodalisme dan sudah mengalahkan Pancasila, bhinneka tunggal ika, gotong royong, kekeluargaan sebagai budaya dan karakter bangsa kita sejak dulunya. Namun karakter-karakter tersebut mulai pudar digantikan dengan karakter-karakter ke kinian yang lebih banyak mudhoratnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibat yang ditimbulkannya telah kita saksikan bersama dalam pentas Indonesia saat sekarang ini. Secara moral rasanya kita hampir tak bisa lagi membangkitkan nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai juang 45 namun secara religius nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai 45 tersebut sebetulnya sejalan dan dapat kita gelorakan sepanjang kita dan seluruh komponen bangsa ini memiliki political will yang terukur dan realistis melihat perkembangan zaman agar output yang diharapkan dari menggelorakan kembali nilai-nilai tersebut juga sesuai dengan visi misi yang diharapkan. Usaha-usaha kita untuk itu tentu juga di ilhami dan disemngati oleh “AL FATIHA” tersebut disertai doa agar kita di cap manusia yang sombong karena berusaha terus tanpa ada doa kepada Ilahi Robbi dan juga tidak dicap manusia Indonesia yang pemalas karena berdoa terus tanpa ada usaha. Dengan “ora et labora” seberat apapun masalah dengan kerusakan yang semakin menganga dan  terbentang dihadapan kita dengan keyakinan dan kebersamaan tentu kita akan menemukan Jalan Yang Lurus (shirot al mustaqiimmm) sebagaimana Jalan Lurus yang telah di anugerahi kepada pahlawan-pahlawan kita terdahulu (demikian selalu kita mohonkan dan doakan kepada Allah SWT dalam setiap Sholat kita). Mari kita gali dan gelorakan kembali nilai-nilai juang 45 dan nilai-nilai kebangsaan untuk keperluan kita menatap masa depan yang lebih baik dan memperbaiki kembali jalan yang harus kita tempuh untuk kejayaan bangsa. Marilah kita tapaki kembali jalan lurus pahlawan-pahlawan pejuang 45 disanalah kita akan menemukan barometer dan tolok ukur apakah jalan yang kita tempuh saat ini dan saat yang akan datang perlu atau tidak kita perbaiki atau perbaharui.

Demikian sekilas kami sampaikan menyambut Tahun Baru Islam semoga dapat berkenan dan kami menyampaikan dan menjadi bahan wacana dan pemikiran. Semoga juga Bapak/Ibu Redaksi dapat meneruskan hal ini kepada pihak-pihak terkait lainnya. Atas bantuan dan kerjasamanya kami haturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua atas kukurangan dan hal-hal yang mungkin tak berkenan dalam tulisan ini semoga kami dimaafkan. Selamat Baru Islam 1 Muharram 1432 H. Salam Merdekaaa…!

Catatan dan Informasi :

•       Bahwa barangkali tidak banyak yang mengetahui saat ini martabat bangsa kita juga lagi diuji melalui suatu gugatan janda para korban kejahatan perang tentara Belanda di Rawagede Karawang pada tanggal 9 Desember  1947 yang mana para janda korban tersebut melakukan gugatan di pengadilan Den Haag Belanda untuk menuntut ganti rugi atas kejadian tersebut. Sesuai informasi yang kami dapat bahwa hingga saat ini Belanda mengakui akan kesalah tentara mereka dalam kejadian tersbut namun mereka tak mau peduli tentang tuntutan ganti rugi yang diminta para janda korban tersebut. Saat ini persidangan-persidangan untuk itu masih terus berlanjut dan tentu kita akan terus berjuang hingga Pihak Belanda bertanggung jawab secara hukum, secara moral, secara kemanusiaan, dan secara keadilan untuk menyelesaikan gugatan tersebut dengan baik. Adalah satu nilai kejuangan 45 kita dapat kita petik daripada gugatan janda-janda korban tragedy rawagede tersebut, yakni bahwa sangat kita ketahui para janda-janda itu adalah orang-orang yang berumur rata-rata diatas 80 tahun uzur , tua, tak bisa menulis membaca, tak paham politik anak zaman sekarang, kehidupan ekonominya sangat sangat memprihatinkan, NAMUN dengan segal kekurangan yang ada pada janda-janda itu dengan gagahnya menguggugat suatu Negara yang besar bekas penjajah yakni Negara Belanda, sampai-sampai banyak terungkap kelicikan-kelicikan Belanda dan menggetarkan Negara Belanda disana. Belanda mempetieskan masalah tersebut dan tidak diminta pertanggung jawaban para pelakunya. Nilai kejuangan 45 dapat menginspirasi kita dari janda-janda korban Rawagede tersebut. Para Janda-janda itu termasuk pemberani melawan ketidak adilan dank e zholiman Belanda dan keberanian itulah nilai-nilai kejuangan 45. Masih adakah generasi muda kita saat ini seberani merekaaa…!!?? Mudah2an masih banyak.

•       Bahwa ujian yang kedua adalah menyangkut pengakuan de jure atas Proklamasi Kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945 yang hingga saat ini tidak sudi diakui secara de jure oleh Negara Belanda karena mereka hanya mengakui penyerahahan kedaulatan kepada RI tanggal 27 Desember 1949 dan dalam catatan-catatan internasional dan lembaga-lembaga internasional pun kemerdekaan kita diakui pada tanggal 27 Desember 1949 bukan pada 17 Agustus 1945. Rasa ini juga menjadi ujian bagi kita sebagai bangsa dan Negara. Penting hal ini kita pikirkan bersama seluruh komponen bangsa karena 17 Agustus 1945 mengadung nilai tertinggi dalam Negara ini dan pengorbanan tertinggi yang pernah terjadi sejak berdirinya Negara ini dan penting rasanya kita sama-sama melakukan upaya penekanan kepada Negara Belanda itu untuk mengakui nya secara de jure. Penting dan penting ini kita perjuangkabn bersama seluruh komponen bangsa. Agar untung martabat kita kepada para pahlawan kita tersebut dapat terbayar dan diteruskan oleh generasi penerusnya. Penting penting rasanya barangkali ini dapat menjadi hal penguji dalam nilai-nilai kebangsaan kita. Penting penting rasanya agar generasi muda kita kelak menjadi generasi Indonesia yang merdeka secara de fakto dan se jure dalam pergaulan di era globalisasi. Semoga semua komponen bangsa dapat bersama-sama meminta Negara Belanda memberikan pengakuan secara de jure atas kemerdekaan kita 17 Agustus 1945 dan negeri Belanda menyampaikan permohonan maaf (apology) atas kekerasan tentaranya di Indonesia.

•       Bahwa informasi ketiga, kiranya kita juga perlu memberi apresiasi kepada sudara-sudara kita yang mewakili dalam penggugatan tragedi Rawagede yakni sebuah Yayasan yang dibentuk Sdr. Jeffry Pondaag di Belanda. Beliau dan rekan-rekan koleganya mencoba melakukan penguakan informasi-informasi kekejaman dan kekerasan-kekerasan tentara Belanda zaman dahulu kepada rakyat kita dan melakukan legal action untuk itu. Kita menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya seraya juga kita dapat mendukung perjuangan-perjuangan tersebut dengan pertimbangan nilai-nilai kebangsaan dan nilai-nilai juang 45. Semoga seluruh komponen bangsa dapat bersatu untuk memperjuangkan martabat bangsa martabat pahlawan dan martabat generasi muda kita di masa yang akan datang.

Penulis:

Irwan Lubis/ Anggota LKBH AngKatan 45 DHD DKI Jakarta- Gedong Joang – Jl. Menten Raya 31 Jakpus.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment