HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Misi Mulia Pendaki Gunung Muda Mesir

December 07
17:07 2010

Rasha Dewedar : Misi mulia pendaki gunung muda asal Mesir

Rasha Dewedar
HMINEWS, Kairo – Anak-anak muda Mesir tengah mencoba membuat perubahan –dan pada saat yang sama memudarkan stereotipe. September lalu, 26 pendaki Mesir berhasil mendaki Gunung Kilimanjaro di Tanzania sebagai peserta prakarsa Hak untuk Mendaki (The Right to Climb), yang bertujuan meningkatkan bantuan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus di Mesir.

Melalui usaha mereka, para pendaki melawan stereotipe tentang anak muda Arab dan Muslim sebagai orang-orang yang tak bisa atau tak mau membuat dunia mereka lebih baik. Terlampau sering, apa yang kita baca di media tentang anak muda Arab, berkisar pada kurangnya kesempatan yang mereka miliki untuk bekerja, mengenyam pendidikan atau, terkadang juga, untuk mempunyai harapan.

Ini adalah tantangan-tantangan yang mengkhawatirkan namun nyata, tapi ada juga cerita-cerita, seperti cerita para pendaki itu, tentang apa yang anak muda lakukan untuk menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik.

Pendakian itu, yang dipimpin oleh Omar Samra, orang Arab termuda yang pernah mendaki Gunung Everest, dan sudah tiga kali mendaki Kilimanjaro, adalah buah kerjasama antara biro perjalanan Wild Guanabana dan Right to Live Association (RTLA), lembaga amal nirlaba yang memberikan perhatian dan pelatihan pada orang-orang dengan kebutuhan khusus di Mesir. Dengan slogan “We aren’t disabled, we are differently abled” (Kami tidak cacat, kami hanya berkemampuan berbeda), RTLA bertujuan membantu anak-anak itu dan keluarga mereka untuk menjalani kehidupan yang normal. Ini termasuk dengan memberikan latihan keterampilan agar mereka mendapatkan kesempatan bekerja dan mempunyai penghasilan.

Samra, seorang pendaki Mesir terkenal, menilai Wild Guanabana adalah agen perjalanan yang unik: membawa orang Mesir ke perjalanan yang mengubah hidup, di mana mereka bisa menjumpai pengalaman yang baru dan menantang yang mendorong mereka memaksimalkan kemampuan dan membuat mereka bisa menemukan jati diri mereka.

Meski rombongan Mesir merupakan mayoritas dari 26 pendaki yang mencapai puncak Kilimanjaro, satu orang Lebanon, dua orang Amerika dan dua orang Nepal juga turut serta dalam pendakian itu. Kelompok ini juga beragam dalam hal agama, ada penganut Islam, Kristen dan Buddha. Cukup banyak juga yang perempuan.

Perjalanan itu, yang berlangsung sekitar tujuh hari, diwartakan di banyak media sebagai sebuah pengalaman yang unik dan mengubah hidup bagi para pendaki. Ada pula pemerhati kelompok tersebut di Facebook dan Twitter, karena para pendaki rutin berkabar tentang kemajuan pendakian mereka, yang kemudian menerima banyak dukungan.

Samra, yang punya dua saudara perempuan dengan hambatan kecerdasan, telah terlibat mengurusi anak-anak dengan kebutuhan khusus selama bertahun-tahun dan menjadi relawan reguler di RTLA. Dengan prakarsa Hak untuk Mendaki, ia berupaya menggalang kesadaran dan dana untuk gerakan itu, sekaligus menyampaikan kerja-kerja yang sudah dilakukan RTLA.

Sejauh ini, para pendaki yang berusia antara 25 dan 45 tahun tersebut telah berhasil menggalang dana sejumlah hampir 175.000 dollar, namun masih butuh dukungan masyarakat untuk mencapai target mereka.

Mendaki gunung untuk sebuah misi bukanlah hal yang sepenuhnya baru di dunia Arab. Ditemani oleh satu orang Lebanon dan satu orang Maroko, pada 2009 Samra mendaki Gunung Toubkal, Maroko, puncak tertinggi di Afrika Utara. Mereka mengibarkan bendera Palestina di puncaknya untuk menarik perhatian dunia pada situasi di Gaza. Pendakian mereka diberitakan di banyak media populer Arab, dan di blog serta situs jejaring sosial.

Samra kini punya rencana ambisius untuk membentuk tim yang terdiri atas 12 orang Arab yang akan mendaki gunung tertinggi di setiap benua.

Pada akhirnya, pendakian ini bukan sekadar tentang penggalangan dana, tapi juga petualangan para pendaki dan upaya mereka untuk membuat perubahan positif. Prakarsa-prakarsa serupa dari berbagai belahan dunia, di mana para peserta mengikuti sebuah kegiatan untuk misi tertentu, akan menjadi wahana yang baik bagi orang-orang di Timur maupun Barat untuk menciptakan lebih banyak peluang di mana mereka bisa bersatu mencapai tujuan bersama.

###

* Rasha Dewedar adalah jurnalis Mesir yang menggeluti masalah Timur Tengah, isu jender dan sains. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment