HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Bung, Kembalikan Dipo 16 pada Pemiliknya!

October 31
15:54 2010

Diponegoro 16

Oleh : Kanda Taufiq Ismail

HMINEWS.COM- Keponakan saya terdiam sebentar, lalu katanya; Asyik juga oom, kalau organisasi mahasiswa punya kantor semacam ABIM itu. Ya, apakagi karena itu sudah milik sendiri. Tidak seperti PB HMI sudah 40 tahun (56 Tahun) lamanya menikmati pemakaian rumah yang jadi kantornya didaerah Menteng di Jalan. Diponegoro 16 itu.

Lho,  maksud oom, Diponegoro 16 itu bukan milik HMI?

Bukan milik HMI. Pada tahun 50-an ada keluarga industrialis tekstil pemilik pabrik Relatex yang juga dermawan Islam, yaitu keluarga Rahman Tamin yang terkenal itu meminjamkan pada HMI rumah milik mereka pada PB HMI untuk dipakai kantor. Tidak mengontdak segala macam. Demikian simpatinya mereka pada perjuangan HMI.

Nah, walaupun sudah luar biasa terlambat yaitu lebih 5 windu lamanya, sekarang inilah saatnya KAHMI yang anggotanya banyak dan sudah memiliki kekuatan finansial itu secara kolektif membuatkan sebuah kantor baru bagi PB HMI dan menyerahkan kembali Diponegoro 16 itu kepada pemiliknya aslinya. Tentulah sangat pantas bila diiringin ucapan maaf dan terimakasih yang dalam. Tak usahlah jadi prioritas kini bikin sekolah atau universitas. KAHMI bikinkan kantor dululah untuk PB HMI” kataku.

Apa alumni HMI mampu? tanyanya

Aku yakin mampu Insya Allah. Sebab Alumni dari organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, betapa malu kalau tidak mampu. Cuma mesti ada yang bisa menemukan kiat atau cara memobilisasi gairah besar ini. Gerakkan hati mereka itu, hati alumni yang begitu banyak yang sudah jadi tokoh bisnis swasta atau BUMN, Bankir, Konsultan, Pengusaha real estate, industrialis, tokoh manufaktur, pengacara, insyinyur, arsitek, dokter, wartawan, duta besar, diplomat, pendidik, guru besar, dosen, rektor, dekan, ulama, pemikir, anggota DPR, LSM, menteri, sekjen, dirjen, politikus, jaksa, hakim, pengacara, psikolog, pekerja sosial, yang jumlahnya sudah beberapa puluh ribu orang itu. Harus ada yang bisa menemukan kiat menggerakkan mereka itu, potensi sebesar gergasi itu, kataku.

Wah oom, sebagai anggota HMI aku setuju betul gagasan ini. PB HMI jangan sama sekali berpikir untuk minta pula uang pindah keluar dari Dipo 16, karena itu jelas bukan cara orang muslim dan tidak bernapaskan Islam. Itu diluar akhlak orang Mukmin. HMI tentu harus sangat-sangat berterima kasih sudah segitu lama dipinjami rumah didaerah Menteng tanpa menyewa. Coba kalau mengontrak berapa? Empat Puluh tahun itu 480 bulan (56 tahun hingga saat ini, red). Kalau sebulanya 2.000 Dollar atau 4 juta rupiah, jadi 40 tahun sudah 1,9 milyar HMI disubsidi pemilik rumah. Wah!” teriak keponakan saya, terkejut sendiri sesudah menghitung jumlah yang sangat besar itu.

Kalau begitu hal ini harus dipikirkan serius oleh KAHMI, juga oleh ketua-ketua PB HMI dari sekuruh Periode. Mereka bisa kumpul nggak. oom, membicarakan ini? Wah berat lho, karena semuanya ikut menyangga beban tanggung jawab, sebelum kita bersama kelak repot di akhirat, oom.” lanjutnya lagi penuh semangat.

Kali ini kita harap KAHMI bukan cuma bayang-bayang,” kataku pila. “Tapi kalau dia memang tidak mampu membuat sesuatu yang kongkret dapat dipegang tangan seperti membangun 200 sekolah, sebuah universitas, atau minimum membangun sebuah kantor baru untuk HMI dan secara terhormat mengembalikan Diponegoro 16 kepada pemiliknya sesudah 40 (56) tahun lebih memakainya secara gratis, maka memang para alumni atau KAHMI cuma bayang-bayang saja dari kehebatan sejarah perjuangannya di zaman revolusi dan kebangkitan 1966 dahulu itu.”

Demikianlah kami berdua mengakhiri sbuah percakapan panjang menjelang buka puasa Ramadhan yang lalu.

Taufiq Ismail, “KAHMI bukan hanya Bayang-bayang,” Republika, 24 Maret 1994

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

2 Comments

  1. redaksi
    redaksi November 01, 00:51

    malu aku..!!!

    Reply to this comment
  2. nasdion chalidi
    nasdion chalidi May 06, 20:30

    seharusnya HMI mengembalikan tanpa minta uang tolak, seprti pereman, atau memamfaatkan status tanah

    Reply to this comment

Write a Comment