HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Demi Perdamaian Timur Tengah, Air Lebih Penting dari Minyak

October 11
09:57 2010

Demi perdamaian Timur Tengah, air lebih penting dari minyak

Mira Edelstein
HMINEWS.COM, Tel Aviv – Orang sering mengasosiasikan Timur Tengah dengan minyak. Namun, di kota-kota, desa-desa dan ladang-ladang di kawasan ini, sumber daya alam lainnya, yaitu air, belakangan kian sulit didapat. Mengatasi masalah ini tidak hanya bisa menjamin masa depan yang berkesinambungan, tapi juga membantu mengondisikan terciptanya perdamaian yang abadi.

Terdapat masalah kekurangan air di Timur Tengah. Pada saat yang sama, limbah industri dan penduduk mengalir melalui lembah sungai Hebron-Besor, yang mengalir dari Tepi Barat melalui kawasan Negev di Israel selatan hingga ke kawasan Mediteranea. Limbah ini telah merusak lingkungan sekitar dan membahayakan kesehatan para warga yang tinggal di daerah ini, sehingga menambah ketegangan politik yang sedang berlangsung. Misalnya, baru-baru ini, limpahan saluran pembuangan kotoran dari permukiman Israel di Tepi Barat mengakibatkan tercemarnya lingkungan dan lahan-lahan pertanian di sebuah desa Palestina di sebelahnya.

Sungai Yordania pernah mengalirkan rata-rata 1,3 milyar meter kubik air tawar ke Laut Mati setiap tahunnya. Kini, angkanya telah turun hingga hanya 20 sampai 30 juta meter kubik per tahun akibat pengalihan 98 persen aliran sungai oleh Israel, Yordania dan Syria untuk pertanian dan rumah tangga. Kurangnya air yang sampai ke Laut Mati adalah penyebab utama surutnya air di laut ini secara pesat, selain pengerukan mineral besar-besaran.

Contoh-contoh pencemaran air dan kelangkaan sumber daya alam ini hanyalah satu aspek dari krisis air Timur Tengah. Para pembuat keputusan di tingkat nasional dan regional menambah masalah dengan pengelolaan dan perencanaan yang tidak tepat bagi sumber-sumber daya air yang sangat penting bagi kawasan: Sungai Yordania, Laut Mati, dan sumber-sumber air tanah di kawasan pantai dan pegunungan. Dan konflik Arab-Israel seringkali jadi penghambat penerapan solusi yang tepat untuk mengelola air yang dimiliki bersama.

Kawasan ini perlu menangani masalah-masalah lingkungan, dan juga konflik-konflik yang telah berlangsung lama yang menghambat penyelesaian masalah air.

EcoPeace/Friends of the Earth Middle East (FoEME) didirikan pada 1994 sebagai sebuah kelompok yang disebut EcoPeace dan kini telah berkembang menjadi sebuah organisasi regional yang unik bagi para pencinta lingkungan dari Israel, Palestina dan Yordania. EcoPeace telah berhasil menjalin kerjasama lintas perbatasan untuk membangkitkan kesadaran dan mengatasi degradasi lingkungan, seraya menciptakan kesalingmengertian dan kesalingpercayaan.

Proyek Good Water Neighbors (GWN) FoEME adalah satu contoh program yang bisa melahirkan kerja sama. GWN menghimpun komunitas yang berdekatan di sekitar perbatasan Israel-Yordania, memadukan komunitas Israel dan Palestina atau Israel dan Yordania yang mempunyai sumber daya air bersama untuk mengatasi kelangkaan dan polusi air. Interaksi ini memungkinkan komunitas-komunitas yang bertetangga bersatu merehabilitasi lingkungan hidup, dan menunjukkan arti penting sekaligus keberhasilan pengelolaan lingkungan lintas perbatasan.

Misalnya, dari 2007 hingga 2009, komunitas Tsur Hadassah di Israel dan Wadi Fukin di Palestina berhasil mengajukan permohonan, mengampanyekan dan mengancam menempuh aksi hukum terhadap Menteri Pertahanan Israel untuk menghentikan pembangunan batas yang memisahkan komunitas-komunitas itu dengan alasan bahwa bila sumber daya air yang mereka miliki bersama rusak, itu tak akan bisa lagi diperbaiki. Mereka juga telah bersama-sama melaksanakan proyek-proyek lain, seperti mengembangkan produksi pertanian dari Wadi Fukin, Yerusalem, melalui sebuah koperasi milik seorang warga Tsur Hadassah, dan mengadakan pertukaran kunjungan di antara TK dan Taman Bermain Israel dan Palestina sebagai upaya melawan ketidakpercayaan dan kecurigaan sejak usia dini; dan mereka tengah merencanakan pembangunan sebuah taman di tengah komunitas mereka.

Belakangan, FoEME juga telah menyerukan koordinasi lintas perbatasan antara Israel, Palestina dan Yordania untuk memastikan pembangunan berkelanjutan Sungai Yordania dan Laut Mati. Bank Dunia memang telah melakukan kajian tentang sebuah Kanal antara Laut Merah dan Laut Mati untuk mengisi kembali air di Laut Mati, namun proyek ini bisa membawa risiko besar terhadap lingkungan sensitif Laut Mati dan mengubah komposisi mineralnya yang unik. FoEME juga menyerukan rehabilitasi hilir Sungai Yordania, anak sungai alami dari Laut Mati.

Belakangan, FoEME mengadakan acara “Terjun Bebas di Hilir Sungai Yordania” untuk menarik perhatian terhadap kondisi hilir Sungai Yordania. Para walikota, perwakilan daerah dan pemuda dari Israel, Palestina dan Yordania melakukan aksi terjun simbolik untuk tujuan bersama merehabilitasi sungai itu. Jelas bahwa pengelolaan air yang buruk akan terus mengancam hidup masyarakat dan lingkungan di kawasan bila tidak ada aksi besar-besaran untuk mengisi kembali ekosistem melalui pendekatan lintas perbatasan.

Seperti ditunjukkan program-program dan penelitian FoEME, kerja sama lintas perbatasan bisa menjadi jalan menuju kesinambungan ekologis – dan mungkin juga menuju perdamaian.

* Mira Edelstein adalah staf pelaksana Pengembangan Sumber Daya dam Media Asing di EcoPeace/Friends of the Earth Middle East, yang baru-baru ini dianugerahi Euro-Med Award for Dialogue between Cultures sebagai pengakuan atas upayanya mengembangkan dialog antarbudaya. Untuk informasi tentang FoEME, silakan kunjungi www.foeme.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) HMINEWS.COM.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment