HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Politik Swiss di Amerika Serikat

September 15
11:55 2010

Politik Swiss di Amerika Serikat

Ariel Kastner

Washington, DC – Ini cerita yang terdengar familiar: seorang tokoh Muslim mencoba membangun sebuah masjid dengan dukungan walikota, tapi permohonannya memicu protes luas dan ditentang. Cerita ini terjadi di Swiss beberapa tahun yang lalu, tapi karena terjadi saat di sana berlangsung pemilu nasional, peristiwa ini bisa memberi beberapa pelajaran penting karena Amerika Serikat juga memasuki musim kampanye di tengah kontroversi seputar pembangunan pusat kegiatan Muslim di dekat Ground Zero.

Pada 2006, Mutalip Karaademi, orang Albania yang telah tinggal di Swiss sejak awal 1980-an, memohon izin dari pemerintah daerah Berne untuk membangun sebuah masjid di daerahnya, Lagenthal. Meski mendapat persetujuan dari pejabat setempat, protes publik terhadap menaranya yang setinggi 16,5 kaki menghentikan pembangunan masjid itu. Tentang proyek itu, Karaademi mengatakan, sebenarnya ia “mengira masjid itu akan mendorong dialog.”

Para penentang menara itu berpendapat bahwa mereka tidaklah menentang kaum Muslim atau hak Muslim mengamalkan agama. Mereka hanya menentang cara Muslim mendirikan bangunan ibadah: “Kami tidak menentang Muslim. Tapi kami tidak ingin ada menara masjid. Menara itu simbol dari Islam yang politis dan agresif,” kata Oskar Freysinger, anggota parlemen dari Partai Rakyat Swiss (SVP), sebuah partai kanan-jauh.

Ada beberapa kesetaraan yang jelas dan tak biasa antara kejadian ini dan apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat. Namun, banyak orang Amerika, termasuk para tokoh politik progresif, tampaknya belum belajar dari kasus Swiss, yang bisa berdampak pada pemilu November dan yang lain.

Kontroversi di Swiss terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi, di sela-sela keprihatinan kalangan konservatif atas identitas Swiss yang tengah berubah, dan menjelang pemilu parlemen 2007 – mirip dengan suasana sekarang di Amerika Serikat. Dalam kasus Swiss, SVP mengadakan kampanye kontroversial yang membangkitkan ketakutan rakyat dengan tidak hanya menentang masjid dan menaranya, tapi juga menyerukan pengusiran para imigran jika anak-anak mereka melakukan kejahatan. Tahun itu, SVP memenangi 29 persen suara – tertinggi dari semua partai yang ada, dan bahkan tertinggi dibanding yang pernah diraih partai mana pun dalam hampir 90 tahun.

Sama seperti di Swiss, isu lokal mengilhami sebuah strategi pemilu nasional dari para kandidat konservatif yang memanfaatkan ketakutan masyarakat. Di Amerika Serikat, hal ini telah menggerakkan suatu kelompok besar yang berisi orang-orang yang tampaknya juga akan menjadi pemilih dalam pemilu – gerakan Tea Party yang konservatif.

Pada saat kelompok-kelompok lain redup gerakan politiknya, oposisi vokal Tea Party terhadap kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh presiden, ditambah dengan antusiasme politiknya, telah membuat para anggotanya menjadi audiens sasaran bagi banyak kandidat partai Republik.

Akibatnya, seperti kampanye pemilu di Swiss, beberapa kandidat dan pejabat politik di Amerika Serikat tidak saja telah menyerukan dipindahkannya pusat kegiatan Muslim Park51 menjauh dari tempat bekas World Trade Center, tapi juga telah mendukung langkah-langkah anti-imigrasi yang menarik bagi kelompok Tea Party, seperti menggelar forum dengar pendapat tentang apakah perlu mencabut ketentuan-ketentuan yang menjamin kewarganegaraan bagi siapapun yang lahir di Amerika Serikat, bahkan jika orangtuanya berada di Amerika Serikat secara ilegal.

Apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat tidaklah sekadar sebuah ungkapan frustrasi di tengah ketidakpastian ekonomi sekarang; tapi juga ketidaksetujuan kaum konservatif tentang arah yang tengah dituju oleh identitas Amerika.

Karenanya, Walikota New York City, Michael Bloomberg, benar ketika berpendapat bahwa yang dipertaruhkan dalam Park51 adalah hak-hak konstitusional dan prinsip-prinsip dasar Amerika Serikat. Para pendukung Partai Demokrat dan pemimpin politik progresif harus mengikuti dan menyampaikan pesan yang satu dan koheren, yang tidak hanya menolak upaya-upaya penentang Park51, tapi juga mengartikulasikan narasi mereka sendiri tentang ke mana Amerika Serikat harusnya mengarah. Menyajikan pesan yang mencakup dipertahankannya hak-hak kelompok agama dan etnis tidak hanya akan membantu menggalang pemilih progresif di pemilu mendatang, tapi akan membantu melindungi nilai-nilai Amerika Serikat di masa depan.

Dua tahun setelah pemilu parlemennya, Swiss mengeluarkan referendum untuk melarang pembangunan menara masjid. Sebagian orang boleh jadi mengatakan bahwa hal seperti itu tak akan terjadi di Amerika Serikat, tapi yang perlu diingat: sama seperti Amerika Serikat, konstitusi Swiss juga menjamin kebebasan beragama.

* Ariel Kastner adalah seorang redaktur dan pengamat masalah luar negeri di Washington DC. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) yang telah bekerjasama dengan HMINEWS.COM

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment