HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Di Jogja, Ada Tukang Becak Berlaptop

August 15
12:15 2010

                  Suatu hari di tahun 1994, seorang turis bule asal Amerika Serikat memberi sebuah saran yang lumayan ganjil bagi seorang tukang becak. Si bule meminta agar si tukang becak membuat sebuah akun e-mail agar lebih mudah berkomunikasi. Tukang becak itu bernama Blasius Hariyadi. Ia biasa mangkal di daerah Prawirotaman, ujung selatan Yogyakarta, arah ke Parangtritis. Mas Hari, begitu ia biasa disapa, akhirnya menuruti saran itu.

Kini ia sudah lupa nama sang turis. Ia pun sudah lupa nama akun e-mail pertamanya dulu, apalagi password-nya. Tetapi ia tidak bisa melupakan peristiwa yang mengubah hidupnya hingga bisa bertahan menarik becak hingga detik ini. Pria kelahiran Bantul, 20 Januari 1968, ini memulai “karier” memancal pedal becak sejak 1990.

Tak seperti umumnya tukang becak di Yogyakarta yang hanya lulusan sekolah dasar, Hari sempat mengenyam pendidikan di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta. Menarik becak pun tadinya sekadar sampingan untuk mencari biaya sekolah. Apalagi, di tahun 1998, duda beranak tiga ini sempat menjadi mahasiswa Jurusan Matematika di FMIPA Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Hari mesti putus kuliah di semester empat lantaran tak ada biaya. Bayaran kuliah Rp 10.000 per bulan terasa amat berat bagi ayahnya yang seorang petani kecil di Trirenggo, Bantul. Hasil menarik becak pun tak bisa membantu menopang biaya hidup yang semakin tinggi.

Alhasil ia pun menetapkan hati untuk terus membecak. “Saya tidak menyesal dengan pilihan ini, putus kuliah dan mbecak. Saya suka kebebasan, bisa cari uang kapan saja,” katanya. Kata Hari, setelah membuat akun e-mail, ia mulai rajin pergi ke warnet sekadar untuk memeriksa e-mail-nya.

Tetapi lama-lama ia merasa tak enak pada si penjaga warnet karena saban ke sana dia hanya mampir sebentar. “Apalagi kalau tak ada e-mail masuk,” katanya. Daripada terus-terusan merasa tak enak, ia pun mulai menjelajahi dunia maya. “Saya nyoba buka macem-macem, mulai dari game sampai yang porno,” katanya seraya tergelak.

Ketika fasilitas chatting lewat MIRC muncul, Hari pun ikut membuat akun dan mulai mengundang banyak peserta forum dunia maya itu termasuk yang dari luar negeri. Ia juga rajin mengikuti situs jejaring sosial mulai dari Flixster, Facebook, Twitter, hingga “facebook lokal”, Indoface dan Kaskus. “Ini jadi hobi. Yang penting situsnya gratisan. Kalau bayar, saya tinggal,” ujar Hari.

Saking banyaknya memiliki akun di internet, ia sampai tak hafal password akun-akunnya. Dari jaringan dunia maya itulah para turis tahu nomor kontak Hari sehingga ia banyak dihubungi turis lokal dan mancanegara yang ingin memanfaatkan jasanya. Ada turis dari Ambon, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, dan negara-negara lain.

Hari juga membuat grup “Becak Jogja” dan “Bellong Independent Tour”. Lewat jejaring maya inilah Hari bisa mengembangkan usahanya, dari sekadar tukang becak sampai menjadi penyedia jasa layanan wisatawan.

Koneksi Hari makin berkembang. Kenalan Hari banyak juga yang merekomendasikan dirinya pada teman maupun keluarga agar memanfaatkan jasanya jika berkunjung ke Yogyakarta. Sering ada orang yang tak dikenalnya menghubungi, minta jasa Hari untuk mencarikan hotel. Bahkan sampai mentransfer uang. “Saya heran, di dunia maya masih ada rasa percaya,” katanya.

Hari memang mematok uang muka dulu untuk jasanya, sebabnya, mungkin saja pesanan itu batal, padahal ia telanjur order ke hotel atau jasa transportasi. Karena itu, ia sadar harus bisa memegang kepercayaan pemesan. “Saya pertahankan dan nggak kecewakan pelanggan. Sejauh ini belum ada yang complain,” katanya.

Untuk memperlancar bisnisnya, sehari-hari tukang becak nyentrik ini menenteng “senjata” utamanya, sebuah laptop merek AP Probo seharga Rp 10 juta. Dengan laptop yang dilengkapi perangkat modem itulah ia saban hari bisa tersambung dengan dunia maya. Selain itu, Hari juga punya sebuah telepon seluler berbasis CDMA yang juga memiliki koneksi internet.

Para turis pun makin kesengsem pada layanan Hari. Apalagi, selain bisa dipercaya, Hari juga memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik hasil belajar di SMA dan saat kuliah. Sebelum masuk jurusan matematika, ia sempat masuk jurusan diploma bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma. Hari juga sedikit-sedikit belajar bahasa lain, semisal bahasa Belanda dari turis-turis asal negeri kincir angin itu.

Di balik kisah sukses itu, Hari menyimpan kisah duka. Sabtu pagi, 27 Mei 2006, gempa mengguncang Yogyakarta. Saat itu, sang istri tengah memandikan anaknya yang bungsu, Veronika Natalia Agnes Destriana, 4,5 tahun, yang waktu itu baru berumur 5 bulan. Guncangan gempa meluluhlantakkan rumah Hari. Puing-puing rumah menimpa sang istri, yang akhirnya meninggal dunia. Ajaibnya, Agnes selamat dari peristiwa itu tanpa luka sedikit pun.

Setelah kejadian itu, ia sempat menitipkan anak bungsunya di panti asuhan seorang kerabat di Bogor. Sedang dua putranya yang lain, Stefanus Lucky Ardian dan Nicolas Kevin Kristianto, ikut neneknya di Jambi. Hari terpaksa hidup sendirian di Yogyakarta, menarik becak sampai sampai rumahnya bisa dibangun kembali atas bantuan seorang turis bule kenalannya yang punya koneksi ke sebuah lembaga swadaya masyarakat di Inggris.

Selain itu, ada satu “kemalangan” lain yang juga menimpa Hari. Ia terpaksa menggadaikan laptop miliknya untuk membiayai putra keduanya yang akan masuk SMP. “Sekarang dengan ini saja,” kata Hari menunjukkan ponselnya.

Atas upaya uniknya itu, Hari pernah meraih beberapa penghargaan. Ia pernah punya laptop pemberian dari Yayasan Kolese De Britto. Menurut alamaternya itu, Hari menjalani hidup sesuai dengan ciri khas pendidikan sekolah tersebut: “Man for Others”. Maknanya, seseorang harus berani memilih dan menentukan jalan hidup secara bebas dengan bertanggung jawab dan bermanfaat bagi orang banyak.

Hari memang terhitung berani memilih hidup sebagai tukang becak. Padahal kakaknya, lulusan S1 akuntansi, bisa hidup mapan di Jakarta. Adiknya, lulusan IKIP Yogyakarta (kini Uiversitas Negeri Yogyakarta) bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Bantul. Sekali lagi, Hari tidak menyesali hal itu. Hari juga pernah mendapat piagam penghargaan dari Rotary Club of Tugu Yogya karena dinilai mempromosikan Kota Yogyakarta.

Hari cukup senang dengan penghasilan Rp 30.000-40.000 per hari menarik becak. Ia mengaku tak pernah bisa punya tabungan, tetapi tak khawatir bakal tak mampu menghidupi ketiga anaknya. “Rejeki itu selalu saja ada,” katanya. Hari-hari libur atau acara khusus seperti Muktamar Muhammadiyah yang dihelat Di Yogyakarta pekan lalu adalah musim panen baginya. Dari berbagai jasa yang ia sediakan, ia bisa mendapat penghasilan sebesar Rp 1 juta sehari. “Bahkan pernah sampai 5 juta,” katanya.

Tetapi setelah semua event akbar itu lewat, ia kembali harus menerima pendapatan yang tak menentu. “Pernah setengah bulan nihil penumpang,” katanya. Maka itu dia harus pintar-pintar mengelola uang yang dia hasilkan dari musim liburan.

Meski hidupnya rada morat-marit, uniknya para tetangga menganggap Hari makmur. Sebab saat ada kenalan bule main ke rumah, tetangga selalu mengira bule itu kaya dan memberinya uang. “Orang mikir saya kepenak, saya juga nggak punya kartu miskin, tetapi sebetulnya sama saja. Saya tidak punya apa-apa,” katanya merendah.

M. Agung Riyadi, dan Arief Koes Hernawan (Yogyakarta),
artikel ini dimuat di Gatra Nomor 39 Beredar Kamis, 5 Agustus 2010

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. joni
    joni October 05, 19:13

    asu gaya mu breng”koyo wong sugeh.

    Reply to this comment

Write a Comment