HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Seorang Kristen Menyambut Pembangunan Masjid Dekat Lokasi 11 September

August 12
23:25 2010

Julie Clawson

Austin, Texas- Minggu lalu, di hadapan para perwakilan kelompok agama setempat, Walikota New York City, Mike Bloomberg, menyatakan bahwa “tidak ada komunitas di kota New York yang dilarang menerima cinta dan rahmat Tuhan.” Bagi saya, selaku orang Kristen yang sepenuhnya mendukung pembangunan pusat kegiatan Muslim dekat Ground Zero, Park51 (yang sebelumnya dikenal dengan Cordoba House), kata-kata sang walikota ini menggaungkan isi hati saya.

Namun, ada banyak orang Amerika Kristen yang menentang pembangunan pusat kegiatan ini, dan mengklaim bahwa pembangunan ini tidak sepantasnya dan merupakan pelecehan, dan bahwa kedekatannya dengan Ground Zero akan membuat orang Muslim bisa mengolok-olok peristiwa 11 September. Sejak menyatakan dukungan saya terhadap pusat kegiatan ini, saya telah mendengar orang-orang Kristen yang menuduh saya tengah mendukung usaha setan dan berpaling tidak saja dari agama saya, tapi dari semua hal yang Amerika Serikat bela.

Saya akan menjadi orang pertama yang mengakui bahwa, seperti halnya penganut setiap agama, orang Kristen kadang tidak mengikuti keteladanan cinta dan belas kasih yang ditunjukkan oleh Yesus. Kita lebih mendahulukan kecenderungan politik dan ketakutan budaya kita ketimbang melaksanakan perintah untuk mencintai sesama.

Kita boleh jadi sulit menyadari bahwa Tuhan yang kita sembah, jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Kita tidak bisa memonopoli cinta Tuhan dan di setiap tempat kita harus di garis terdepan untuk mengulurkannya, dengan mengupayakan rekonsiliasi dan pemulihan.

Namun, di tengah situasi kebingungan dan kesalahpahaman yang dipicu oleh peristiwa 11 September, saya sangat sering menjumpai budaya ketakutan dan balas dendam. Beberapa orang Kristen sayangnya menganggap bahwa aksi teroris merepresentasikan inti ajaran Islam. Mereka menumpahkan ketakutan dan kebencian mereka kepada semua Muslim, menyalahkan mereka atas peristiwa-peristiwa itu, dan menuduh bahwa mereka menginginkan kehancuran agama Kristen dan kebebasan Amerika.

Ironisnya, saat ada orang Kristen melakukan aksi-aksi kejam, kebanyakan dari orang-orang ini juga yang akan segera menyatakan bahwa pelaku tidaklah berbuat atas nama semua orang Kristen. Orang-orang tersebut bahkan mengatakan pelaku sebenarnya bukanlah orang Kristen, apalagi mewakili agama Kristen, seperti kita saksikan baru-baru ini ketika para anggota milisi Hutaree yang berbasis di Michigan ditangkap lantaran berencana membantai para aparat penegak hukum.

Tapi pembedaan serupa tidak diberlakukan kepada saudara-saudara kita yang Muslim.

Saya ingin bisa meminta maaf atas nama mereka yang punya anggapan keliru itu – untuk orang-orang Kristen yang tidak mengikuti jalan Yesus, dan malah menentang hak-hak Muslim untuk beribadah secara bebas di Amerika. Tapi saya tidak bisa bicara untuk mereka. Saya hanya bisa menjalani hidup saya dan menggunakan suara saya untuk mewakili sisi berbeda dari agama Kristen, sisi yang meyakini bahwa cinta dan rahmat Tuhan menjangkau setiap tempat.

Dan saya bisa berharap bersama Bloomberg bahwa pembangunan pusat kegiatan masyarakat ini akan mencapai tujuannya dalam mengupayakan rekonsiliasi dan “membantu menyangkal pemikiran yang keliru dan menyesatkan bahwa serangan 11 September selaras dengan Islam.”

Ketika para penganut agama-agama yang berbeda berkumpul, seperti mereka lakukan minggu lalu di New York, untuk mendukung pembangunan pusat kegiatan masyarakat itu, kita bisa mulai melucuti asumsi-asumsi keliru semacam itu dan secara kolektif memihak kebenaran.

Untuk itu saya berterima kasih kepada keluarga para korban 11 September yang bersuara atas nama Muslim dan mendukung Park51. Mereka termasuk September 11th Families for Peaceful Tomorrows, yang mengembangkan dialog, non-kekerasan dan kerja sama internasional, dan telah secara khusus bersuara mendukung pusat kegiatan ini. Terlepas dari duka mendalam mereka sendiri, mereka justru berhasrat melindungi Muslim dari kedukaan akibat dipersalahkan dan dikucilkan. Alih-alih mencemaskan ancaman terhadap kebebasan, mereka rela mengulurkan kebebasan yang berharga itu kepada semua orang.

Itulah wujud cinta Kristen.

Sayangnya, sebagian orang Kristen tidak mau menyambut baik pusat kegiatan ini atau berlaku baik kepada orang-orang Muslim sejak 11 September. Saya tidak ingin menyembunyikan fakta, bahkan saya menyesali kenyataan itu. Sebagian dari kita telah menyimpang dari inti iman kita yang berakar pada cinta dan kebebasan.

Saya mengharap kita bisa mengambil hati kata-kata Bloomberg baru-baru ini: “Muslim adalah bagian dari kota dan negara kita juga, sama seperti penganut agama mana pun. Dan mereka dipersilakan beribadah di pinggiran Manhattan sama seperti semua kelompok yang lain.” Kita harus mengubah respon kolektif kita agar membuktikan nilai-nilai itu dengan mendukung kemerdekaan beragama bagi semua.

Julie Clawson adalah penulis Everyday Justice: The Global Impact of Our Daily Choices. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment