HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

I’tikaf di Bandara Qatar

August 27
01:40 2010

Qatar, HMINEWS.COM-  Setelah delapan jam perjalanan udara akhirnya kami mendarat di Bandar udara Doha, Qatar dan untuk selanjutnya kami akan transit di bandara ini selama 12 jam, pfuh…..12 jam bo’. Sebenarnya waktu 12 jam akan sangat menyenangkan jika kami bisa keluar bandara untuk sekedar jalan-jalan keliling kota, sayangnya berhubung paspor kami adalah Indonesia maka petugas tidak mengizinkan kami untuk keluar bandara. Padahal pemilik paspor Negara lain seperti Belanda bisa jalan-jalan keluar dengan hanya membayar $30. Ah,…entah apa yang terjadi dengan nama Indonesia.

Tapi tak apalah, kami takkan kehilangan akal mencari berbagai cara membunuh waktu 12 jam menunggu tersebut. Yup, ini bulan Ramadhan, sebagai seorang jebolan pesantren, kami tahu dunk bagaimana menghabiskan waktu bermanfaat di bulan suci. Betul, kami langsung menuju Musholla bandara untuk I’tikaf, sholat, dan baca Quran. Jika mau, kami bisa habiskan 12 jam tersebut untuk terus i’tikaf, tak terhitung berapa pahala yang bisa didapat dari ibadah tersebut. Istimewanya, I’tikaf kali ini kami lakukan di negeri asing.

Dan benar, di Masjid ternyata sudah banyak para mu’takif dari berbagai Negara. Ada dari Arab, Iran, Eropa, Pakistan, India, dan tentunya Asia Tenggara. Mereka semuanya para musafir yang sedang transit menunggu penerbangan selanjutnya. Terasa sekali betapa Islam begitu plural dan melingkupi berbagai bangsa. Yang paling banyak adalah para mu’takif dari Pakistan dan Bangladesh, tentu dengan pakaian khasnya yang seperti para pengikut jamaah Tabligh di Indonesia. Dan memang sepertinya mereka adalah para Jamaah Tabligh yang barangkali sedang khuruj menuju suatu Negara.

Ramadhan di Doha

Berjam-jam i’tikaf di masjid bandara Qatar, akhirnya kami jenuh juga. Kami keluar masjid sekedar untuk refreshing pikiran (dan juga refreshing pandangan juga lah !). Waw, ternyata di bandara juga tersedia kompleks pertokoan yang menjual barang-barang sebagaimana di mal-mal. Ada elektronik, pakaian, parfum, makanan, dan bahkan mobil lux Jaguar-pun di jual di toko tersebut.

Sekarang konsep bandara memang sudah bergeser dari hanya sekedar tempat orang naik turun pesawat meluas menjadi tempat orang belanja dan jalan-jalan. Dan untuk trend yang satu ini, saya kira bandara-bandara di Timur Tengah memang menjadi salah satu pioneernya. Mereka menyedian ruang-ruang belanja yang luas, sehingga para pelancong yang transit bisa membelanjakan uangnya untuk membeli barang. Khanjadi pemasukan juga toh…buat Negara.

Sayangnya, HMINEWS tidak membekali kami uang ekstra untuk belanja, sehingga kami hanya bisa sempat berjalan-jalan saja diantara barisan-barisan display barang yang diperdagangkan oleh toko-toko tersebut. Pun untuk sekedar beli souvenir kecil, kami tak berani mengingat harga-harganya yang selangit.

Tapi kami tak kehabisan akal. Kami sempatkan juga untuk mengunjugi komplek yang menjajakan parfum tingkat dunia dengan merek-merek yang tentunya tak mungkin terjangkau oleh kantong HMINEWS. Dan Anda tahu apa yang kami lakukan? Kami dengan leluasa mencoba parfum-parfum berbagai merek kelas tinggi tersebut. Gratis lagi!

Pada setiap produk parfum yang dijual , pasti ada satu yang dijadikan sebagai sampel. Sampel itulah yang kami semprotkan ke pakaian kami. Untuk menghindari kecurigaan petugas, awalnya kami pura-pura hanya semprotkan ke punggung telapak tangan kami (ya, seperti orang mencoba parfum itu lah…), namun jumlah yang kami semprotkan banyak dan kemudian digosok-goskokkan ke baju he he….

Lumayan juga,.. sudah dari kemarin baju ini belum ganti…kini gak perlu ganti karena sudah wangi oleh perpaduan berbagai wewangian parfum kelas dunia. Ada Celvin Klein, Giovani, Armani, dsb..dsb…bepadu jadi satu…entah bagaimana aromanya, yang penting wangi lah.

Ketemu dengan Pramugari Asal Indonesia

Masih dalam rangka refreshing untuk persiapan i’tikaf selanjutnya, kami jalan-jalan menelusuri setiap lekuk bandara untuk menikmati suasana. Tak lupa, kami juga mendatangi bagian konter informasi untuk menambah informasi mengenai negeri yang baru pertama kali kami injak tersebut. “Excuse me, how far this airport to the downtown?”, begitulah saya mencoba membuka percakapan dengan petugas informasi bandara yang kebetulan juga ehm..ehm…cakep itu.

Mendengar pertanyaanku, sang petugas langsung kembali bertanya kepadaku, “Are you from Indonesia?”. Sontak saja saya jawab: “Ya”. “Selamat datang Pak, di Qatar. Saya juga dari Indonesia loh…”, dst..dst…dia terus nyerocos ngobrol pake Bahasa Indonesia. Kami jadi semakin akrab. Dan obrolan lebih berjalan lama lagi ketika ternyata bahasa Indonesianya dia juga bercampur dengan bahasa Jawa Ngayogyokartoan. “Loh panjengan nggih saged Jowo tho? Asale pundhi to?” (Anda juga bisa bahasa Jawa ya? Asalnya dari mana seh?).

Semakin lama kita semakin nyambung, apalagi setelah dia bia bilang aslinya juga Yogyakarta, tepatnya di Klitren, dekat Keraton. Saking nyambungnya, akhirnya tak terasa dibelakangku sudah banyak antrian yang bermaksud menanyakan suatu informasi terkait dengan penerbangan di bandara Doha.

Aku jadi agak risih, tapi gadis itu tidak peduli. Ia malah mengalihkan para antrian dibelakangku ke konter sebelahnya yang dijaga oleh temannya yang asli Qatar, lalu kami lanjutkan ngobrol, tuker nomor HP, dan tentu saja facebook (yeach…).

“Wah, dasar orang Indonesia,…asal ketemu di mana aja pasti suka ngorma (ngobrol lama),” pikiriku. Tapi bagiku, barangkali itu adalah hikmah melakukan perjalanan di bulan Ramadhan dan i’tikaf di Masjid negeri orang lain. Meski jauh-jauh kami bertandang ke negeri seberang, kami masih dipertemukan dengan sesama bangsa sendiri, sehingga perjalanan kami terhibur. [] Lara Kelana

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment