HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Mengulurkan Tangan untuk Pakistan

August 22
23:08 2010

* Sana Saleem

Korban Banjir Di Pakistan

Pakistan, HMINEWS.COM-  “Kelihatannya jumlah orang yang terkena dampak banjir Pakistan ini lebih banyak dari gempa Haiti, tsunami atau gempa Pakistan tahun 2005. Dan jika benar korbannya sebanyak yang disampaikan pemerintah [Pakistan], berarti lebih banyak dari gabungan jumlah korban ketiga bencana itu,” demikian ungkap Maurizio Giuliano, jurubicara Badan PBB untuk Masalah Kemanusiaan (OCHA) kepada Associated Press.

Selama beberapa minggu, saya melihat berbagai gambar dari daerah-daerah yang terkena banjir: potret lelaki dan perempuan yang menggendong anak-anak mereka melintasi air setinggi pinggang, membawa sedikit yang tersisa dari keluarga dan rumah mereka dengan rasa tak menentu. Ada juga gambar-gambar helikopter penolong yang menjatuhkan makanan dan orang-orang berlomba merebutnya demi keluarga mereka; ketakutan, kemarahan dan ketidakpastian tampak di wajah banyak orang itu. Selama bertahun-tahun, hanya wajah-wajahnya saja yang berubah; dari orang-orang yang mengungsi dari Lembah Swat hingga orang-orang yang selamat dari banjir dari Khyber-Pakhtunkhwa, yang terus ada hanyalah kerusakan.

“Lebih baik kami mati diterjang banjir sebab hidup kami yang menderita sekarang lebih menyakitkan,” kata Ahmed, yang bersama keluarganya melarikan diri dari kota Shikarpur di provinsi Sindh, dan melewatkan malam kedinginan dan kehujanan.

Tak ayal, ini merupakan bencana terbesar dalam sejarah Pakistan. Banyak yang telah disampaikan berkenaan dengan parahnya kondisi korban banjir. Dari simpati kepada permintaan para korban, hingga kekesalan pada ketakacuhan presiden Pakistan, kita telah mengamati situasi ini berulang kali.

Minggu lalu, laporan BBC News mewartakan bahwa lebih dari 14 juta orang terkena dampak banjir. Namun, dalam salah satu kalimat berikutnya, berita itu menyatakan bahwa badan amal suatu kelompok yang diduga terkait Al-Qaeda telah memberikan pertolongan yang dibutuhkan para korban banjir. Ini bukan satu-satunya berita yang seperti itu; kebanyakan liputan media Barat menekankan “segi Taliban” ketika mewartakan banjir ini.

Saya mengerti bahwa kesedihan para korban yang bisa dieksploitasi, tapi apakah itu yang harus menjadi satu-satunya alasan untuk menolong mereka?

Daripada mengkritisi apa yang terjadi dan mengapa demikian, kita seharusnya fokus pada upaya menekan pemerintah Pakistan untuk bisa mempunyai kebijakan manajemen bencana yang lebih baik. Toh, ketidakcekatan dalam menanggapi bencanalah yang membuat tak ada pilihan lain selain bergantung pada bantuan dari organisasi bantuan independen. Negara telah punya banyak kesempatan di masa lalu untuk belajar dari kesalahannya dan untuk mengembangkan kebijakan manajemen bencana yang lebih baik. Tapi tampaknya ini tidak menjadi prioritas utama negara.

Ketidakacuhan ini telah menciptakan kesenjangan antara pemerintah dan rakyat Pakistan, dan kebanyakan kita memilih memercayai organisasi bantuan independen daripada presiden. Jikapun sebagian organisasi bantuan ini mempunyai kaitan dengan kelompok teror, itu karena kegagalan pemerintah memenuhi tanggung jawab mereka.

Orang-orang di Swat dan daerah sekitarnya telah cukup menderita karena Taliban. Perang telah menghilangkan nyawa dan harta mereka. Dan kalau itu tidak cukup, mereka kini dihantam dengan banjir terparah dalam 80 tahun. Dunia harus membantu mereka bukan karena alasan ketidakamanan dan ketakutan, tapi atas dasar kemanusiaan.

###

* Sana Saleem adalah redaktur BEE Magazine dan menulis untuk blog Global Voices, Asian Correspondent, dan blog pribadinya, Mystified Justice. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) seizin The Dawn Blog.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment