HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Di Tunisia, Tempat Dialog Musik Bernaung

August 12
23:35 2010

Martina Sabra

Bonn, Jerman – Perkampungan para seniman di Sidi Bou Said – kota di Tunisia utara – telah menjadi tujuan favorit para wisatawan asing. Jalan-jalan sempit dan berangin, rumah-rumah putih bergaya Andalusia dengan bunga bougainville merah menyala yang menggelayut di dinding-dindingnya, serta pemandangan laut nan indah, semuanya menarik perhatian para wisatawan dari berbagai penjuru. Namun, hanya sedikit pengunjung yang sadar bahwa Sidi Bou Said juga merupakan tempat salah satu proyek budaya paling menggairahkan di seantero kawasan Mediteranea.

Menteri Kebudayaan Tunisia telah menyediakan tempat bagi Pusat Musik Arab dan Mediteranea (CMAM, Centre des Musiques Arabes et Méditerranéennes) di Istana Ennejma Ezzahra (yang berarti Bintang Venus dalam bahasa Arab) yang merupakan bekas kediaman pelukis sekaligus musikolog Prancis Baron Rodolphe d’Erlanger yang meninggal pada 1932, yang telah dipugar hingga lebih lega dan megah.

CMAM mengadakan beragam program, termasuk menyelenggarakan acara musik, dan menyimpan koleksi musik Tunisia dari National Sound Archive, yang melestarikan dan menyebarluaskan dokumen-dokumen musik Tunisia dan Arab, sehingga bisa dipelajari oleh para peneliti musik. CMAM juga memastikan pemeliharaan warisan seni dan musikologi D’Erlanger, dengan berfungsi ganda sebagai museum sekaligus ruang pertunjukan.

Tak hanya itu, CMAM juga telah menjadi salah satu fasilitator paling penting dan dinamis dari pertukaran musik dan budaya antara Eropa dan dunia Arab. “Bagi para musisi muda Barat yang ikut serta dalam berbagai lokakarya kami, perjumpaan pertama dengan musik Arab sering kali seperti mendapat wahyu,” terang Mounir Hentati, kepala humas dan Deputi Direktur CMAM, dan “para peserta dari Tunisia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempelajari jazz atau musik klasik secara langsung.”

Andaikan pembangun istana ini tahu, niscaya ia akan bangga. D’Erlanger, yang tinggal di Sidi Bou Said dari tahun 1910 hingga wafatnya, membantu menciptakan kemengertian yang lebih baik antara Timur dan Barat. Dia juga seorang tokoh kunci dalam perencanaan Konferensi Musik Arab pertama di Kairo pada 1932.

Motivasi besar D’Erlanger untuk hijrah ke Tunisia adalah hasratnya untuk membangkitkan kembali peradaban Andalusia-Arab. Istana Ennejma Ezzahra menjadi markas untuk mewujudkan rencana ini. D’Erlanger mempelajari gedung-gedung besar tradisi Andalusia dan, di kota tua Tunis, ia membuat gambar detil seluruh bangunan. Dari sini, ia menciptakan Al-Andalus versinya sendiri: istana Arabia, dengan interior-interior bercorak Arab, Italia dan Inggris, yang menyandingkan budaya Timur dan Barat.

Pada tahun 1989, pemerintah Tunisia membeli istana ini dan menyatakannya sebagai monumen nasional. Para seniman terkenal Tunisia, termasuk pemain kecapi kondang Anwar Brahem dan penyair sekaligus pelukis Ali Louati, turut memberi dukungan untuk memastikan bahwa pusat ini tidak hanya akan menjadi sebuah museum, tapi juga menjadi sebuah proyek dinamis yang multidisipliner.

Barang-barang tertua yang dipamerkan di National Sound Archive dikumpulkan oleh etnomusikolog Jerman, Paul Träger, yang merekam lagu-lagu rakyat Tunisia pada 1903. “Saya menemukan rekaman-rekaman ini dalam suatu kunjungan ke Arsip Fonogram Berlin,” terang Hentati, yang berharap mendapat lebih banyak dana untuk penelitian musikologis. “Dalam kunjungan saya ke Berlin, saya menemukan bahwa selama Perang Dunia I para peneliti Jerman telah merekam lirik, melodi dan ritme dari lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para tawanan perang dari Tunisia.”

Banyak karya berbahasa Jerman diciptakan dengan menggunakan beberapa temuan penelitian ini. Sedangkan di Tunisia nyaris tak ada yang diketahui tentang wawancara penelitian itu ataupun pengumpulan bahan yang mengiringinya.

Konsep musik CMAM sendiri telah berubah mengikuti jaman. “Pada tahun-tahun awal, kami berkonsentrasi pada produksi musik tradisional kami sendiri,” kata Hentati. Kini fokusnya telah bergeser menjadi pertukaran antarbangsa melalui berbagai konser terbuka dan kuliah umum. Setiap tahun, pemain jazz solo dari Belgia dan Tunisia, dan negara-negara lain, berkumpul untuk sebuah acara bertajuk “Colours”.

Dengan dukungan Prancis, acara yang lain, “Young Virtuosos”, menghimpun para instrumentalis klasik muda ke CMAM untuk sebuah pertunjukan musik. Dan berbagai ansambel musik dunia dari lima benua turut serta dalam serial produksi CMAM bertajuk “Music”, yang didedikasikan untuk musik Tunisia.

“Saya bermimpi pusat musik ini akan membantu mendorong tidak saja pertukaran antara dunia Arab dan Eropa tapi juga seluruh dunia,” kata Brahem pada pembukaan CMAM. Tampaknya, sebagian mimpi itu kini telah menjadi kenyataan!

Martina Sabra adalah penulis lepas.  Tulisan lengkap bisa dilihat di www.qantara.de.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment