HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Puasa Sebagai Jihad Kebudayaan

August 06
10:34 2010

HMINEWS.COM- Puasa adalah menahan diri dari nafsu untuk mengkonsumsi dalam durasi waktu tertentu. Kata kunci yang muncul di sini adalah menahan yang berlawanan dengan menumpahkan/mengkonsumsi. Semangat untuk menahan inilah yang sebenarnya harus diwujudkan dalam lembaga sejarah—baik itu negara maupun agama.

Semangat ini perlu untuk dimunculkan dalam konteks kekinian karena peradaban dan lembaga-lembaga yang menopangnya cenderung untuk—meminjam istilah dari Emha—menumpahkan. Peradaban kita adalah peradaban yang bertujuan untuk menumpahkan hasrat untuk mengkonsumsi. Filosofi hidupnya adalah lebih banyak konsumsi, lebih baik. Kualitas hidup seseorang diukur dari tingkat konsumsinya. Bahkan dalam level negara, indikator untuk menunjukkan sehat tidaknya suatu negara juga menggunakan filosofi ini sebagai dasarnya.

Tetapi filosofi hidup seperti ini hanya akan membawa manusia menuju kehancuran yang tidak terelakkan. Konsumsi pada level individual yang berlebihan mengakibatkan dua hal. Pertama, meningkatnya konsumsi memaksa perusahaan untuk lebih banyak memproduksi. Produksi itu sendiri merupakan sebuah aktivitas untuk mentransformasikan alam menuju kebudayaan—sebuah produk yang siap untuk dikonsumsi. Ini adalah sebuah permainan zero sum game. Aktivitas produksi mensyaratkan hilangnya suatu bagian dalam alam.

Pada titik ini urutan logikanya sudah jelas, konsumsi berarti penghancuran terhadap alam. Pada level yang wajar, hal ini bukanlah sebuah masalah karena alam punya kemampuan untuk mereproduksi dirinya sendiri. Tetapi ketika konsumsi menjadi konsumtivisme maka saat itu pula manusia akan membunuh dirinya sendiri. Kecepatan manusia untuk mengkonsumsi tidak sebanding dengan kecepatan alam untuk mereproduksi apa yang sudah diambil manusia untuk dikonsumsi. Alam yang menopang sebuah peradaban konsumsi pada akhirnya akan menyerah. Bencana ekologis adalah satu-satunya kesimpulan logis dari masa depan umat manusia.

Akibat yang kedua juga tidak kalah menyeramkan. Aktivitas konsumsi dalam bentuk apapun mensyaratkan adanya residu. Sesuatu yang tidak terpakai. Lagi-lagi alam sebenarnya punya mekanisme sendiri untuk mentransformasikan residu ini ke dalam bentuk baru yang siap dipakai manusia untuk aktivitas produksi. Tetapi logika yang sama kembali muncul, aktivitas konsumsi yang tidak mengenal batas membuat alam tidak mampu menampung dan mentransfomasikannya kembali. Sampah pun kemudian menumpuk dan wabah muncul. Konsumtivisme berakhir menjadi degradasi kualitas hidup. Hal ni menunjukkan bahwa pilihan peradaban untuk menjadikan konsumsi sebagai tujuannya benar-benar merupakan pilihan yang irasional.

Sampai saat ini kekuatan sejarah masih berada pada pihak mereka. Lembaga-lembaga yang terbentuk untuk mempertahankan kekuatan ini masih menjadi pusat-pusat referensial bagi pemaknaan akan kehidupan yang baik. Iklan misalnya, sekarang masih menjadi dakwah akan ‘keselamatan’ yang paling diminati manusia. Mall masih menjadi tempat tawaf yang menggariskan awal dan tujuan hidup manusia, berawal dari konsumsi untuk konsumsi, baca:berawal dari menghancurkan untuk kehancuran.

Oleh karena itu puasa kali ini bisa kita maknai sebagai jihad sejarah. Sebuah usaha dari Nuh-Nuh baru untuk membangun kapal di tengah gurun pasir guna menyelamatkan manusia dari peradaban yang sedang membunuh dirinya sendiri. Puasa kali ini diharapkan menjadi momentum bagi reorientasi ulang bagi model berkehidupan yang tidak rasional. Bahkan mungkin momentum revolusi untuk mengganti rezim peradaban yang sedang membusuk karena tidak mengenal batas menjadi rezim yang lebih mengenal batasan.

Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa semangat ini tidak pernah atau jarang terlembagakan secara struktural. Akhirnya semangat spiritual untuk berpuasa tersedot dalam logika konsumtivisme. Puasa menjadi bentuk hura-hura baru. Bahkan pengalaman terbatas saya juga menunjukkan kalau konsumsi justru menjadi berlipat ganda dalam bulan puasa. Akhirnya logika puasa pun menjadi; berawal dari konsumsi/sahur, menunggu untuk konsumsi, berakhir dengan konsumsi. Atau jangan-jangan sebenarnya sudah tidak ada lagi interval waktu untuk menunggu karena syahwat konsumsi yang ditahan dilampiaskan dengan mengkonsumsi hal lain.

Hal ini membawa akibat pada pemaknaan puasa yang menjadi terasa sangat dangkal. Puasa hanya bermakna menunggu waktu untuk makan. Bukan untuk menahan diri dari hasrat menghancurkan alam untuk kepentingan sesaat manusia, bukan pula untuk menahan diri dari syahwat untuk menguasai.

Negara sebagai alat yang paling efektif untuk merekayasa sejarah seharusnya wajib turut serta dalam jihad ini. Negara menjadi berkewajiban bukan karena mayoritas manusia Indonesia adalah Muslim. Ini bukan merupakan pilihan agama melainkan sebuah pilihan rasional tentang ke mana manusia Indonesia ini akan dibawa. Menuju kehancuran dengan terus mengkonsumsi atau menahan diri untuk kualitas hidup yang lebih baik? Tetapi sejarah sekali lagi menunjukkan bahwa negara tidak pernah menahan diri untuk menunjukkan kekuasaannya. Mereka menggusur rumah, pasar dan sawah, justru untuk dijadikan tempat untuk aktivitas yang memuaskan hasrat konsumsi. Kita tunggu dampak spiritual dan sosial puasa tahun ini bagi diri, bangsa, dan peradaban kita.

GM. Nur Lintang Muhammad

Email: gmnurlintang@yahoo.co.id

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment