HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Kampusku – Universitasku

August 24
04:10 2010

Kampusku, Universitasku

HMINEWS.COM- Kampus di Indonesia selalu dibayangkan sebagai perabot kekuasaan. Ilmu pengetahuan adalah sebuah grandeur. Itu sebabnya kampus-kampus yang didirikan Negara ini menyandang bukan nama Empu atau petani teladan – yakni orang yang sebenarnya berpraktek langsung dalam pengetahuan – melainkan nama-nama seperti Gajah Mada, Airlangga atau Sunan Ampel.

Wajar memang manakala kita mencoba mempertalikan kemegahan masa kini dan nanti yang ditandai oleh Sains dan Teknologi dengan “kebesaran” masa silam. Namun, ternyata “kebesaran” itu ditandai dengan nama-nama yang tak ada hubungannya dengan dunia kreatif dan pemikiran. Nama-nama itu lebih dekat dengan cerita tahta dan penaklukan. Bahkan tentang pemikiran pun kita sudah terlupakan dengan Syekh Siti Jenar. Mana ada Universitas atau IAIN yang menyandang nama itu.

Seorang pencari Tuhan yang radikal dan menemukan pemikiran yang begitu menembus batas. Bahkan juga, tentang penguasa pun kita lupa dengan tokoh seperti Karaeng Pattengaloan, seorang Raja Makasar yang menyukai ilmu yang begitu rupa sehingga baginda yang mempunyai koleksi buku berbahasa Spanyol ini, yang fasih berbahasa Portugis, yang pandai Matematika, yang punya catatan harian yang rapi tentang kekuasaannya, pada tahun 1654 M sudah mendatangkan teleskop Galileo ke Makasar.

Semua orang bisa mengatakan bahwa sejarah kita tak lengkap kalau realitasnya seperti ini, dan tak cukup tahu siapa tokoh-tokoh ilmu dan teknologi kita di abad-abad nyaris tak berbekas itu. Memang sah!!! Tapi mengapa demikian? Kita tak pernah mempersoalkan, kita tampaknya tak begitu peduli bahwa ada semacam penghapusan jejak dan manipulasi kenang-kenangan yang menyebabkan orang-orang yang piawai dalam menciptakan inovasi berbeda di masa lampau tak dicatat, sehingga yang ditampilkan ialah orang-orang yang bisa menitahkan agar diri merekalah yang abadi.

Siapa arsitek yang membangun Borobudur, siapa pencipta wayang kulit yang melahirkan bentuknya seperti sekarang ini, benarkah pejuang perempuan itu adalah Kartini atau si “anu”, semuanya itu tak pernah mengusik diri kita. Barangkali kita memang senang bahwa yang menandai prestasi para pendahulu kita hanyalah prasasti para penguasa dan seni, sedangkan ilmu hanyalah untuk melayani mereka.

Tidak mengherankan jika didirikan Universitas (kampus), yang terbayang bukanlah dorongan ketika nenek moyang kita di zaman dahulu mendirikan sebuah lembaga atau “padepokan” bahkan pesantren yang jauh dari kota besar (Keraton), dan hampir tidak bersentuhan dengan harta dan tahta. Ketika batu pertama diletakkan, adalah sebuah lambang kemegahan yang muncul untuk diperdebatkan.

Maka benarkah yang dominan dalam kehidupan kampus-kampus kita adalah percakapan ilmu? Hari-hari ini, pertanyaan itu layak di ajukan. Karena kebebasan berbincang ilmu dalam acara perkuliahan hanyalah “drama academicus”. Bisakah, misalnya orang mendengarkan pendapat si A atau yang lain, bisakah suasana argumentasi dan debat di lazimkan? Bisakah birokrasi perkuliahan memungkinkan seorang mahasiswa menjelajah ilmu seluas-luasnya hingga melintasi batas-batas fakultas dan jurusan? Bisakah para pengajar membuktikan bahwa mereka bukan pemamah-biak teks-teks usang, bukan pembeo pendapat orang lain, dan bahkan bukan pemplagiat karya-karya tulis mahasiswa mereka sendiri?

Rentetan pertanyaan ini tentu tidak cuma di ajukan untuk IAIN Sunan Ampel, sebuah Institut Agama Islam yang kantor Pak Rektornya lebih megah magrong-magrong ketimbang tempat belajar mahasiswanya. Pertanyaan ini juga ditujukan untuk Perguruan Tinggi mana saja yang para pengajarnya banyak yang sudah lulus dari Universitas di luar negeri dan sempat menikmati system yang lebih baik sebagai lembaga keilmuan, tetapi ketika kembali pulang di kampus mereka sendiri, mereka mentok-mentoknya hanya mengajar bahasa asing.

Dengan begitu, pertanyaan beruntun atas semuanya sebenarnya bersangkut-paut dengan konsep sebuah Universitas (kampus). Sebab, sangat menyedihkan untuk melihat “insting” yang dahsyat di antara kita untuk mengaitkan ilmu pengetahuan dengan kekuasaan. Sangat menyedihkan dan menakutkan : Benih-benih yang akan membuat klaim kebenaran terakhir yang dinyatakan dengan label “ilmiah” bukan saja melahirkan kewibawaan, tapi juga hardik dan terror, intoleransi dan represi. Sadarlah!!! [] Abdi Walhakim

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment