HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Gempa Sulteng, PB HMI Buka Posko dan Instruksikan Aksi Nasional HMINEWS.COM- Bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah Terbatas Palu dan Donggala telah menelan korban jiwa dan sampai saat ini terus bertambah. Ketua UmumPengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam...
  • Kohati Pekanbaru Rayakan HUT RI ke 73 bersama anak Panti   HMINEWS.COM- Korp HMI-wati (Kohati) cabang Pekanbaru meyarakan HUT RI -73 bersama anak-anak panti asuhan Al-hasanah di Pandau Pekanbaru pada 18-19 Agustus 2018  Ini merupakan kesekian waktu Kohati cabang Pekanbaru,...
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • OTT Kalapas dan Praktek Permisif Masif di Lembaga Pemasyarakatan Oleh: Zunnur Roin * OPINI, HMINEWS.COM -Konferensi Nasional Kepenjaraan d i Lembang Bandung, Tanggal 27 April 1964 telah mengubah wajah penghukuman terhadap narapidana di negeri ini. Konferensi tersebut diikuti oleh...
  • ‘Mahalnya’ Demokrasi Kita   Oleh: Laode Yayan * HMINEWS.COM-Betapa mahalnya demokrasi kita saat ini. Untuk pemilu legislatif, ada kelompok yang menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk setiap calon legislatifnya.  Demokrasi tidak sebatas pemilu yang...

Kampusku – Universitasku

August 24
04:10 2010

Kampusku, Universitasku

HMINEWS.COM- Kampus di Indonesia selalu dibayangkan sebagai perabot kekuasaan. Ilmu pengetahuan adalah sebuah grandeur. Itu sebabnya kampus-kampus yang didirikan Negara ini menyandang bukan nama Empu atau petani teladan – yakni orang yang sebenarnya berpraktek langsung dalam pengetahuan – melainkan nama-nama seperti Gajah Mada, Airlangga atau Sunan Ampel.

Wajar memang manakala kita mencoba mempertalikan kemegahan masa kini dan nanti yang ditandai oleh Sains dan Teknologi dengan “kebesaran” masa silam. Namun, ternyata “kebesaran” itu ditandai dengan nama-nama yang tak ada hubungannya dengan dunia kreatif dan pemikiran. Nama-nama itu lebih dekat dengan cerita tahta dan penaklukan. Bahkan tentang pemikiran pun kita sudah terlupakan dengan Syekh Siti Jenar. Mana ada Universitas atau IAIN yang menyandang nama itu.

Seorang pencari Tuhan yang radikal dan menemukan pemikiran yang begitu menembus batas. Bahkan juga, tentang penguasa pun kita lupa dengan tokoh seperti Karaeng Pattengaloan, seorang Raja Makasar yang menyukai ilmu yang begitu rupa sehingga baginda yang mempunyai koleksi buku berbahasa Spanyol ini, yang fasih berbahasa Portugis, yang pandai Matematika, yang punya catatan harian yang rapi tentang kekuasaannya, pada tahun 1654 M sudah mendatangkan teleskop Galileo ke Makasar.

Semua orang bisa mengatakan bahwa sejarah kita tak lengkap kalau realitasnya seperti ini, dan tak cukup tahu siapa tokoh-tokoh ilmu dan teknologi kita di abad-abad nyaris tak berbekas itu. Memang sah!!! Tapi mengapa demikian? Kita tak pernah mempersoalkan, kita tampaknya tak begitu peduli bahwa ada semacam penghapusan jejak dan manipulasi kenang-kenangan yang menyebabkan orang-orang yang piawai dalam menciptakan inovasi berbeda di masa lampau tak dicatat, sehingga yang ditampilkan ialah orang-orang yang bisa menitahkan agar diri merekalah yang abadi.

Siapa arsitek yang membangun Borobudur, siapa pencipta wayang kulit yang melahirkan bentuknya seperti sekarang ini, benarkah pejuang perempuan itu adalah Kartini atau si “anu”, semuanya itu tak pernah mengusik diri kita. Barangkali kita memang senang bahwa yang menandai prestasi para pendahulu kita hanyalah prasasti para penguasa dan seni, sedangkan ilmu hanyalah untuk melayani mereka.

Tidak mengherankan jika didirikan Universitas (kampus), yang terbayang bukanlah dorongan ketika nenek moyang kita di zaman dahulu mendirikan sebuah lembaga atau “padepokan” bahkan pesantren yang jauh dari kota besar (Keraton), dan hampir tidak bersentuhan dengan harta dan tahta. Ketika batu pertama diletakkan, adalah sebuah lambang kemegahan yang muncul untuk diperdebatkan.

Maka benarkah yang dominan dalam kehidupan kampus-kampus kita adalah percakapan ilmu? Hari-hari ini, pertanyaan itu layak di ajukan. Karena kebebasan berbincang ilmu dalam acara perkuliahan hanyalah “drama academicus”. Bisakah, misalnya orang mendengarkan pendapat si A atau yang lain, bisakah suasana argumentasi dan debat di lazimkan? Bisakah birokrasi perkuliahan memungkinkan seorang mahasiswa menjelajah ilmu seluas-luasnya hingga melintasi batas-batas fakultas dan jurusan? Bisakah para pengajar membuktikan bahwa mereka bukan pemamah-biak teks-teks usang, bukan pembeo pendapat orang lain, dan bahkan bukan pemplagiat karya-karya tulis mahasiswa mereka sendiri?

Rentetan pertanyaan ini tentu tidak cuma di ajukan untuk IAIN Sunan Ampel, sebuah Institut Agama Islam yang kantor Pak Rektornya lebih megah magrong-magrong ketimbang tempat belajar mahasiswanya. Pertanyaan ini juga ditujukan untuk Perguruan Tinggi mana saja yang para pengajarnya banyak yang sudah lulus dari Universitas di luar negeri dan sempat menikmati system yang lebih baik sebagai lembaga keilmuan, tetapi ketika kembali pulang di kampus mereka sendiri, mereka mentok-mentoknya hanya mengajar bahasa asing.

Dengan begitu, pertanyaan beruntun atas semuanya sebenarnya bersangkut-paut dengan konsep sebuah Universitas (kampus). Sebab, sangat menyedihkan untuk melihat “insting” yang dahsyat di antara kita untuk mengaitkan ilmu pengetahuan dengan kekuasaan. Sangat menyedihkan dan menakutkan : Benih-benih yang akan membuat klaim kebenaran terakhir yang dinyatakan dengan label “ilmiah” bukan saja melahirkan kewibawaan, tapi juga hardik dan terror, intoleransi dan represi. Sadarlah!!! [] Abdi Walhakim

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment