HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

Konsumerisme Sebagai Bentuk Hegemony

July 11
20:08 2010

HMINEWS, Opini-  Istilah Postmodernisme menjadi sebuah kata yang paling sering dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, namun terkadang seseorang membicarakan hal tersebut tapi tak menyadarinya dan lebih daripada itu sebagian para intelektual kita masih memerlukan perdebatan yang sangat panjang untuk mendefinisikan seperti apa postmodernisme, terlebih lagi masyarakat awam yang belum sama sekali mendengar istilah tersebut.

Kita bisa mendengar istilah seperti itu di berbagai disiplin ilmu yang sangat luas, seperti di dalam bidang Musik ( Cage, Stock housen,) Seni rupa (Rauschenberg, Beselits), Fiksi ( novel-novel dari Venegut, Barth,), Film ( Lynch, Greenaway), Drama (teater dari Artaud), Fotografi (Sherman, Levin), Arsitektur (Jencks, Venturi), Kritik sastra (Spanos, Hassan), Antropologi (Clifford, Tyler, Herbert Marcus), Sosiologi (Denzin), Geografi (Soja), dan Filsafat (Lyotard, Derrida, Boudrillard).

Tulisan saya disini tidak ingin mengupas lebih jauh seperti apa postmodernisme, tetapi substantif dari tulisan ini adalah terma yang seperti itulah yang paling tepat untuk di berikan bagaimana pola penggambaran kehidupan masyarakat di era yang melebihi zaman modernisasi sekarang. Kita bisa melihat fenomena yang terjadi didalam masyarakat dewasa ini, perilaku konsumsi meningkat begitu besar mulai dari anak-anak sampai pada orang dewasa; kemudian merasakan hal tersebut dan tercatat di salah satu berita stasiun televisi yang mengatakan bahwa tingkat indeks kepercayaan konsumsi masyarakat yang sebelumnya hanya 47 % meningkat menjadi 76 %.

Mengkonsumsi memang sesuatu hal yang lazim untuk memenuhi kebutuhan hidup individu atau yang diistilahkan oleh Darwin sebagai “the survival of the fittes”, Tapi sekarang ini dunia menawarkan variasi kebutuhan baru agar individu mengkonsumsinya. Salah seorang tokoh pemikir postmodernisme yang consent mengkaji masyarakat konsumerisme yakni Jean Baudrillard mengatakan bahwa konsumerisme sebagai anak kandung kapitalisme telah merangsek sampai ke jantung masyarakat.

Masyarakat konsumtivisme adalah budaya yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk dusta, halusinasi, mimpi, fantasi, kesemuan, artifisialitas, pendangkalan, kemasan wujud komoditi, melalui strategi hipersemiotika dan imagologi, yang kemudian dikonstruksi secara sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, reality show, media dan sebagainya) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Konsumerisme berhasil menciptakan kebutuhan baru di masyarakat dan menggiring mereka menjadi masyarakat konsumtif dan dependen. Pada kondisi masyarakat sekarang ini, orang mulai mengkonsumsi barang bukan lantaran butuh secara fungsional, melainkan karena tuntutan prestige (gengsi), status, maupun sekadar gaya hidup (life style).

Sebagai contoh, seorang yang sudah membeli kendaraan mobil mewah bukan lantaran memenuhi kebutuhan fungsional akan alat transportasi, melainkan justru karena alasan status, kelas, genre dan jabatan yang disandangnya. Toh, di garasi rumahnya sudah terparkir dua unit mobil yang tak kalah mewahnya. Melihat fenomena tersebut, wajar bila banyak wakil rakyat kita berorientasi untuk melakukan penyimpangan kebijakan (distorsi policy) seperti adanya penyalahgunaan dan kasus korupsi sehingga berefek kapada masyarakat kecil ke bawah tidak menikmati hak yang seharusnya yang didapatkan–disebabkan oleh dengan meminjam apa yang diistilahkan oleh Fajlurrahman jurdi “predator-predator elit politik”. Jean Baudrillard mengganggap masyarakat hobi konsumsi semacam ini sebagai masyarakat konsumer (consumer society). Masyarakat yang memperlakukan praktik konsumsi sebagai life style-nya.

Hal itu terjadi karena pengaruh globalisasi yang kemudian mengglobal di seluruh dunia, belum lagi faktor lainnya yaitu perkembangan ekonomi dan juga politik dalam tingkatan global. Dan kita juga bisa meminjam teori yang termasyhur dari salah seorang tokoh sosiolog dan politikus, Antonio Gramsci yaitu hegemony.

Hegemoni dalam perspektif Gramsci tidak hanya untuk menjelaskan relasi antar kelas-kelas politik (ruling class/ruled class), akan tetapi relasi-relasi sosial yang lebih luas, termasuk relasi antara komunikasi dan media. Konsep hegemoni tidak hanya menjelaskan dominasi politik lewat kekuatan (force), akan tetapi yang lebih penting adalah lewat kepemimpinan intelektual dan moral.

Menurut Gramsci, dominasi kekuasaan diperjuangkan, disamping lewat kekuatan senjata, juga lewat penerimaan publik (public consent), yaitu diterimanya ide kelas berkuasa oleh masyarakat luas, yang diekspresikan melalui mekanisme opini publik seperti lewat media massa (koran, internet, televisi dan sebagainya). Statemen di atas sesuai dengan fenomena yang terjadi didalam realitas masyarakat sekarang dimana perilaku konsumtif semakin tak terkendali seakan menjadi kewajiban bagi seorang, terlebih lagi apabila ketika seseorang tak mampu untuk mencapai barang atau keinginan yang ingin dicapai akan mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kronis yang di istilahkan oleh Sigmund Freud “neorosis” atau mengalami penyakit kejiwaan dan bisa berakibat fatal yakni bunuh diri.

Apa yang dikatakan oleh Antonio Gramsci diatas bahwa hegemoni yang paling penting lewat pengaruh kekuatan (force) yaitu melalui penerimaan public (public consent). Melalui iklan baik yang terang-terangan maupun iklan terselubung, masyarakat disuguhi beragam produk baru. Lewat majalah maupun televisi, kita disuguhi 24 jam non-stop (tiada henti) beragam iklan yang akhirnya memaksa kita menjadi mengkonsumi produk yang diiklankan itu.

Bahasa iklan begitu menggoda, menghipnotis dan membutakan mata kesadaran kita serta menyadarkan kita betapa mahal dan pentingnya barang-barang tersebut. Sementara itu, pusat-pusat perbelanjaan seperti mal, hiper-(super) market, semakin merebak di berbagai kota. Hidup kita telah dikepung dan disetting oleh pusat-pusat belanja dari berbagai arah. Supermarket maupun hipermarket tidak juga sepi, justru pengunjung semakin hari semakin meningkat drastis. Orang-orang berjejal untuk memuaskan hasrat konsumsi mereka.

Ditambah dengan iming-iming dari market melalui pemberian diskon, hadiah, atau pun fasilitas kredit serta pernak-pernik lainnya. Akibatnya, orang berebut membeli produk yang ditawarkan meskipun sadar akan finansial tidak memungkinkan serta kondisi ekonomi tidak proporsional. Budaya konsumtif ini pun melekat erat di kehidupan remaja sekarang bahkan sudah menjadi life style dan trendy serta mode anak remaja sekarang. Ada komentar, majalah-majalah remaja sekarang pun sama saja seperti etalase toko. Isinya lebih banyak memamerkan atau promosi produk untuk dijual.

Kalangan yang katanya masih dalam pencarian jatidiri dan identitas ini menjadi sasaran empuk bagi pasar atau segmen pasar. Pasar menawarkan gaya hidup dan trend tertentu kepada remaja. Untuk memenuhi gaya hidup itu, remaja didorong mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan dengan aneka ragam dan terjangkau. Mereka suka gonta-ganti merek, mudah hanyut mengikuti trend. Kalau kita kritis, arus konsumerisme inilah yang menyebabkan pola hidup boros dan mubazzir.

Di kalangan remaja, dikenal istilah ‘borju’ atau ‘kaya baru’ yang diplesetkan menjadi ‘boros juajan.’ Kita sering tak berdaya jika diperhadapan dengan tawaran konsumsi yang mudah dijangkau tersebut. Baudrillard menegaskan, kita tidak lagi mengontrol produk (objek), tetapi kitalah yang dikontrol dan diatur oleh produk-produk tadi. Kita dihanyutkan dalam ekstasi konsumsi dan gaya hidup dalam masyarakat konsumer. Di dalam gelombang konsumerisme ini, Baudrillard menyebut orang-orangnya sebagai ‘mayoritas diam,’ dimana kita digiring ke dalam jaringan laba-laba yang menjaring dan mengkonsumsi apa pun yang ada di hadapan mereka. Masyarakat dibuat tidak berdaya, Apalagi pasar terus-menerus menggoda dan dengan cepat menawarkan produk-produk barunya. Boleh dikata, hidup kita sedang dijajah oleh pasar.

Bagaimana menghindar dari konsumerisme ?

Mengonsumsi sebenarnya merupakan kegiatan yang wajar dilakukan. Namun, dewasa ini disadari bahwa masyarakat tidak hanya mengonsumsi, tapi telah terjebak ke dalam budaya konsumerisme dan lebih daripada itu masyarakat lagi tidak dapat membedakan yang mana sebagai kebutuhan primer dan yang mana sebagai keinginan (desire).

Budaya ini dikatakan berbahaya karena berekses negatif terhadap lingkungan hidup, juga meluruhnya hubungan sosial dan bertahtanya kesadaran palsu di benak masyarakat. Sekarang sudah saatnya menjadi konsumen yang cerdas dan kritis, bukan lagi saatnya menjadi–dalam istilah Bre Redana, mindless consumer (konsumen yang tidak berotak, pasif, dan gampang dibodohi). Mulailah mengendalikan diri dan membelanjakan uang sehemat mungkun–hanya untuk barang kebutuhan yang kita perlukan, jangan mudah terpengaruh dengan rayuan untuk membeli. Dan mulailah mempertanyakan proses di balik pembuatan barang yang akan kita beli.

Sebagai konsumen, kita berhak melakukannya karena kita adalah raja dan kita adalah tuan. Oleh karena itu, saatnya mengobarkan perang melawan konsumerisme. Perang di sini diartikan dengan sikap kritis praktik konsumtif selama ini, komitmen untuk tidak hidup boros, melakukan skala prioritas kebutuhan. Dan yang lebih penting, peranan orang tua untuk mendidik dan memberikan uang belanja yang seperlunya saja (fundamental), tidak hanyut oleh iming-iming iklan, dan meningkatkan produktivitas sendiri. Jangan biarkan bangsa ini seperti yang digambarkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebagai negara kaya tapi suka mengemis-bangsa peminta. Sudah mengemis, hidup boros lagi. Suatu yang ironis.

By : Ris Al-Faisal

Email: risfaisal@yahoo.co.id

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment