HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Ironi Hukum Kita

July 21
22:55 2010

HMINEWS.COM- Ada yang mengiris hati saya ketika membaca KOMPAS pagi ini (20/11), seorang ibu diajukan ke pengadilan karena dia ketahuan memetik tiga biji buah kakuo. Yah 3 buah, hanya tiga buah. Dan bisa ditebak, sang ibu atau tepatnya sang nenek pun dijatuhi hukuman. Itulah realitas hukum di negeriku tercinta ini. kasus ini saya kira bukan yang pertama dan bukan satu-satunya.

Saya kira masih banyak kasus yang serupa yang tidak terekspos oleh media massa. Mengapa KOMPAS mengangkatnya. Ini tidak terlepas dari gonjang-ganjing persoalan hukum di negeri ini. kasus makelar kasus (markus) dan para Mafioso peradilan merajalela di negeri ini. orang yang memakan harta rakyat miliaran atau bahkan triliunan rupiah masih dapat berkeliaran. Para pejabat yang kurupsi ratusan juta tidak sempat mencium hawa penjara. Inilah hukum Indonesia. Uang dan kekuasaan lebih banyak berbicara ketimbang keadilan itu sendiri. keadilan adalah barang mahal di negeri yang sedang mengalami krisis hati nurani ini. bukan berarti saya sepatak dengan apa yang dilakukan sang nenek, tetapi saya hanya merasa miris. Sungguh ironis dan kontradiktif.

Hukum di negeri ini adalah laksana pisau bermata satu, dia akan begitu tajam bila berhadapan dengan wong cilik, rakyat jelata, orang tidak berpendidikan, namun menjadi tumpul jika berhadapan dengan para pengusa dan konglomerat. Hukum dapat dibeli, sehingga siapapun yang mempunyai uang pastilah dia akan menguasai hukum. Pagi para hakim pun demikian, kebahagian bukanlah ketika dia mampu memutus perkara dengan keadilan, tetapi bagaimana ketika suatu perkara telah diputus dia mendapatkan uang yang banyak.

Uang berbicara banyak di sini. Uang yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang kalah. Semua karena uang. Orang mau melakukan manipulasi terhadap hukum juga karena uang. Uang menjadi tuhan. Sungguh kasihan manusia yang menjadikan uang sebagai tuhannya. Mereka itulah orang-orang yang dalam setiap aktivitasnya dilakukan untuk mendapatkan uang lalu membelanjakannya. Dia makan demi uang, dia minum demi uang, di tidur demi uang, dia bekerja untuk uang, berkunjung ke saudara ke teman karena alasan uang. Bagi orang yang menjadikan uang sebagai tuhan apa yang dilihat adalah uang, atau minimal berpotensi menjadi uang.

Sungguh rendah sekali manusia yang menjadikan uang atau kekayaan sebagai tuhannya. Uang adalah hasil kreasi manusia. Sebagai sesama makhluk Tuhan jelas uang jauh lebih rendah derajatnya dari manusia. Dengan menjadikan uang sebagai tujuan setiap aktivitasnya, berarti manusia tersebut telah merendahkan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dalam keadaan paling baik, sempurna, ahsanu taqwim, namun diantara mereka ada yang dikembalikan pada derajat paling rendah, yaitu orangorang yang tidak beriman. Iman bukan tidak mengakui akan adanya Tuhan, tetapi juga berarti menjadikan Tuhan sebagai Tujuan awal dan akhir setiap aktivitas keseharian kita.

Bagi insan-insan kehakiman, sebagai hakim, hendaklah sadara bahwa kata hakim itu tidak lain lain dari nama Tuhansediri. Al-Hakim, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana. Manusia adalah pencerminan diri Tuhan, untuk itu Rasul SAW bersabda takhalaqu bi khuluqillah, berakhlaklah dengan akhlak tuhan. Dengan demikian seorang hakim hendaklah pada dirinya juga terdapat sifat al-Hakim,dengan demikian sesungguhnya dia telah berjalan menuju Tuhan, dia menjadi wakil Tuhan dan dia menjadi saksi akan keadilah Tuhan. Haruskakn Tuhan sendiri yang mengadili kita, sekarang juga?

Habibi Muhammad

email : muhabibi@gmail.com

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment