HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Hina Alqur’an, HMI Akan Laporkan Ahok ke Mabes Polri HMINEWS.COM- Jakarta- Pengurus Besar HMI (MPO) Komisi Hukum dan HAM akan melaporkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke Mabes Polri karena dianggap telah menghina agama Islam terkait videonya yang...
  • Pilgub DKI 2017, Mahfud MD: KAHMI Netral HMINEWS.COM, Jakarta- Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 mendatang, akan diikuti oleh tiga pasangan kandidat calon gubernur dan wakil gubernur. Dari tiga pasangan calon tersebut, dua diantaranya adalah alumni HMI atau...
  • Ketua KAHMI: Konsepsi Masyarakat Madani Sangat Tepat Untuk Masa Depan Indonesia HMINEWS.COM, Mataram- Ketua Presidium Majelis Nasional Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mahfud MD mengatakan bahwa konsepsi pemerintahan yang dikelola secara masyarakat madani sangat tepat untuk merawat masa depan Indonesia....
  • Sambut Mahasiswa Baru, UNM Hadirkan Akbar Faizal HMINEWS.COM- Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan penyambutan mahasiswa baru tahun akademik 2016-2017 di pelataran Gedung Phinisi, Sabtu (27/8/2016). Dalam acara tersebut UNM menghadirkan beberapa pembicara, Salah satunya adalah alumni UNM Akbar...
  • Pendiri KPPSI Tutup Usia, PB HMI Berduka HMINEWS.COM- Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun, Kabar duka menyelimuti umat Islam di Makassar, Kanda Kalmuddin, M.Si, seorang aktivis Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI), berpulang ke rahmatullah pada pukul 00.30 Wita,...

Neolitikum, Revolusi Industri Dan Mimpi

June 03
01:12 2010

Dahulu kala mungkin, jauh sebelum era modern tiba, kita membayangkan ada keadaan yang begitu damai. Di masa itu manusia hidup tenteram, karena tanah tempat mereka berpijak begitu pasti, dan kebudayaan sebagai tatanan hidup kukuh berpuluh-puluh tahun, bahkan ratusan tahun.

Di masa itu, petuah orang tua adalah pelajaran berharga emas. Sekolah tidak diperlukan, karena adat istiadat masih mampu menjadi senjata. Di masa itu, bila kita mereka-reka lagi, cukuplah manusia patuh pada orang tua, maka selamatlah dia sampai di ujung hayatnya.

Tapi jauh sebelum itu, takdir sejarah telah memilih manusia. Lewat evolusi yang panjang, ditempa oleh proses survive yang keras, manusia belajar dan muncul sebagai satu-satunya mahluk yang menggunakan alat. Oleh karena itu manusia boleh berbangga dan mengklaim diri sebagai spesial.

Di zaman tenang itu, manusia juga menggunakan alat. Dan alat adalah bukti, bahwa manusia berharap mengatasi kelemahan. Peradaban terus bergerak, berderap meninggalkan masa tenang itu. Peradaban terus bergerak, dan roda yang menggelinding itu adalah tanda bahwa manusia terus bermimpi.

Dan lalu apakah alat itu, dan apakah hubungannya dengan mimpi. Alat adalah wahana untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Dan sekaligus juga, alat adalah entitas yang terus-menerus memproduksi mimpi. Maka roda peradaban seperti terbakar, menggelinding dan bergerak semakin cepat.

Berabad-abad kemudian, dengan rentang masa yang panjang dan melewati beberapa fase sejarah, dari zaman neolitikum itu sampailah manusia pada fase sejarah yang disebut sebagai zaman Revolusi Industri. Dimulai dengan penemuan mesin uap, alat berkembang dengan kecemerlangan luar biasa. Sistem monarki ambruk, dan terpaksalah manusia berganti adat istiadat dengan sistem yang mampu mengakomodir perubahan-perubahan yang cepat, yang lahir akibat perkembangan tehnologi yang dahsyat itu.

Jauh setelah itu, dan tentu saja dengan perkembangan alat yang lebih fantastis, generasi baru lahir. Generasi abad XXI. Generasi yang hidup dalam ketidakpastian, karena perubahan bisa berlangsung dalam hitungan detik. Setiap hari manusia dihadapkan pada jutaan kemungkinan-kemungkinan, dan pada saat yang bersamaan, tidak ada tempat yang pasti untuk berpijak. Zaman ini kita juluki, era informasi, dan ada adagium yang hidup di dalamnya, siapa menutup diri, dia akan terlindas.

Di zaman itu, tidak ada ketenangan, meskipun hanya dipermukaan.  Di zaman itu mimpi menggebu-gebu, dan yang ada adalah kegelisahan. Dan di zaman itu juga, demokrasi adalah niscaya, karena dialah satu-satunya sistem yang terbukti mampu mengakomodir perubahan-perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Namun masyarakat jaman itu juga mengimpi, mereka menginginkan kedamaian. Dan mungkin berharap, kedamaian neolitikum bisa dihadirkan kembali.

Lalu kita kembali bertanya, bisakah manusia hidup damai dalam kedamaian. Bukankah di dalam kata damai terkandung juga kata : stagnasi, monoton, tidak ada dinamika dan disitu ada rasa yang hambar. Dan sebaliknya, bukankah gerak merepresentasikan keadaan hidup, menceritakan sebuah gairah.

Jadi mungkin manusia tidak butuh hidup damai ala neolitikum, tapi manusia hanya butuh berdamai dengan ketidakpastian, sehingga bisa hidup damai dalam ketidak-menentuan.

(Nasrul Sani M Toaha)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment