HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Neolitikum, Revolusi Industri Dan Mimpi

June 03
01:12 2010

Dahulu kala mungkin, jauh sebelum era modern tiba, kita membayangkan ada keadaan yang begitu damai. Di masa itu manusia hidup tenteram, karena tanah tempat mereka berpijak begitu pasti, dan kebudayaan sebagai tatanan hidup kukuh berpuluh-puluh tahun, bahkan ratusan tahun.

Di masa itu, petuah orang tua adalah pelajaran berharga emas. Sekolah tidak diperlukan, karena adat istiadat masih mampu menjadi senjata. Di masa itu, bila kita mereka-reka lagi, cukuplah manusia patuh pada orang tua, maka selamatlah dia sampai di ujung hayatnya.

Tapi jauh sebelum itu, takdir sejarah telah memilih manusia. Lewat evolusi yang panjang, ditempa oleh proses survive yang keras, manusia belajar dan muncul sebagai satu-satunya mahluk yang menggunakan alat. Oleh karena itu manusia boleh berbangga dan mengklaim diri sebagai spesial.

Di zaman tenang itu, manusia juga menggunakan alat. Dan alat adalah bukti, bahwa manusia berharap mengatasi kelemahan. Peradaban terus bergerak, berderap meninggalkan masa tenang itu. Peradaban terus bergerak, dan roda yang menggelinding itu adalah tanda bahwa manusia terus bermimpi.

Dan lalu apakah alat itu, dan apakah hubungannya dengan mimpi. Alat adalah wahana untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Dan sekaligus juga, alat adalah entitas yang terus-menerus memproduksi mimpi. Maka roda peradaban seperti terbakar, menggelinding dan bergerak semakin cepat.

Berabad-abad kemudian, dengan rentang masa yang panjang dan melewati beberapa fase sejarah, dari zaman neolitikum itu sampailah manusia pada fase sejarah yang disebut sebagai zaman Revolusi Industri. Dimulai dengan penemuan mesin uap, alat berkembang dengan kecemerlangan luar biasa. Sistem monarki ambruk, dan terpaksalah manusia berganti adat istiadat dengan sistem yang mampu mengakomodir perubahan-perubahan yang cepat, yang lahir akibat perkembangan tehnologi yang dahsyat itu.

Jauh setelah itu, dan tentu saja dengan perkembangan alat yang lebih fantastis, generasi baru lahir. Generasi abad XXI. Generasi yang hidup dalam ketidakpastian, karena perubahan bisa berlangsung dalam hitungan detik. Setiap hari manusia dihadapkan pada jutaan kemungkinan-kemungkinan, dan pada saat yang bersamaan, tidak ada tempat yang pasti untuk berpijak. Zaman ini kita juluki, era informasi, dan ada adagium yang hidup di dalamnya, siapa menutup diri, dia akan terlindas.

Di zaman itu, tidak ada ketenangan, meskipun hanya dipermukaan.  Di zaman itu mimpi menggebu-gebu, dan yang ada adalah kegelisahan. Dan di zaman itu juga, demokrasi adalah niscaya, karena dialah satu-satunya sistem yang terbukti mampu mengakomodir perubahan-perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Namun masyarakat jaman itu juga mengimpi, mereka menginginkan kedamaian. Dan mungkin berharap, kedamaian neolitikum bisa dihadirkan kembali.

Lalu kita kembali bertanya, bisakah manusia hidup damai dalam kedamaian. Bukankah di dalam kata damai terkandung juga kata : stagnasi, monoton, tidak ada dinamika dan disitu ada rasa yang hambar. Dan sebaliknya, bukankah gerak merepresentasikan keadaan hidup, menceritakan sebuah gairah.

Jadi mungkin manusia tidak butuh hidup damai ala neolitikum, tapi manusia hanya butuh berdamai dengan ketidakpastian, sehingga bisa hidup damai dalam ketidak-menentuan.

(Nasrul Sani M Toaha)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment