HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Jalur Tengah yang Semakin Penuh Sesak

June 22
10:13 2010

Kali ini kita tidak sedang membicarakan kemewahan hotel ini yang tentu saja diatas rata-rata. Jangan tanya juga siapa pengunjungnya, banyak bule-bule serta wajah yang bermata lima watt, terpampang jelas di lift kaca yang tembus pandang itu. Tentu saja gaun para perempuannya bukan jilbab, atau gamis seperti layaknya kaum muslimah PKS yang sedang melaksanakan Munas. Pakaian mereka rok mini, tank top, atau paling tidak celana legging.

Kenapa Ritz Carlton? Kenapa Amerika? Kenapa juga komentar para petinggi partai bernada merayu Amerika? Bahwa Amerika penting sampai-sampai ada lomba anak-anak menulis surat kepada presiden Amerika.

Kita akan membincang sedikit tentang siyasah yang digunakan oleh partai yang mempopulerkan semboyan bersih dan peduli. Apa sebenarnya yang dipikirkan PKS dalam meniti dunia politik Indonesia. Apakah asumsi-asumsi yang dia bangun. Apakah tepat jalan yang ditempuh itu.

Dunia Citra
Seperti kata para pakar politik tidak bisa berlepas diri dari pencitraan. Segala langkah politik dan investasi yang dilakukan adalah dalam rangka membentuk citra politik tertentu. Apa citra yang hendak dibentuk oleh PKS? Apakah ada perubahan citra yang diinginkan oleh partai berlambang ka’bah dengan padi kapas emas ini? Untuk menjawab pertanyaan itu maka kita harus tahu dulu bagaimana citra PKS selama ini.

PKS adalah salah partai yang lahir pascareformasi. Dia bermula bernama Partai Keadilan (PK) yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Sejauh ini PKS cukup berhasil membangun citra sebagai partai islam yang baru, bersih, profesional, dan peduli. Para pemilihnya memutuskan memilih karena alasan-alasan seperti itu. Sehingga memilih PKS berarti punya satu landasan nilai, untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Harapan itu ada dalam diri PKS. Maka basis pemilihnya adalah golongan islam, rasional, menengah keatas, cenderung puritan, dan idealis. PKS berhasil membentuk brand immage sebagai partai modern sekaligus idealis-islam.

Citra yang islam cukup kuat dalam diri PKS itu memang menarik simpati dari massa muslim yang memang besar jumlahnya di Indonesia. Buktinya dia berhasil masuk menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan dalam pentas politik nasional.

Akantetapi citra ini juga tidak membuat PKS serta merta nyaman. Persepsi publik yang semacam itu sepertinya menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Mereka sering dituduh sebagai partai yang eksklusiv, bagian dari jaringan internasional, dan berniat mendirikan negara islam.

Dan langkah mendekati Amerika dengan simbol Ritz Carlton ini saya kira dalam rangka sedikit menggeser citra islam yang mungkin cenderung kaku dan fundamentalis tersebut. Bahwa PKS tidak anti-Amerika. Bahwa PKS juga bisa terbuka dan bekerjasama dengan yang lain.

Mau Kemana PKS?
Lalu perubahan apa yang dilakukan PKS? Dia ingin menjadi partai terbuka. Struktur pengurusnya akan bisa dari orang nonislam. Bahkan dalam rangka mempertegas citra terbukanya salah seorang petinggi partai mengatakan bahwa para artis yang sedang tersandung skandal seks sekalipun bisa masuk PKS, kemudian “masuk PKS tidak perlu syahadat…”, PKS adalah “islam nasionalis”, diperkuat dengan sitiran hadis, “cinta tanah air adalah bagian iman”.

Dengan menyatakan diri sebagai partai terbuka maka PKS mengikuti jejak partai-partai (berbasis massa islam) sebelumnya seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN). Artinya PKS bergerak ke jalur tengah. Jalur yang tidak khusus. Jalur yang memungkinkan mendapat penumpang lebih banyak untuk memuluskan tujuan politik PKS. Sepertinya PKS mengikuti asumsi bahwa ceruk suara islam sagat terbatas. Oleh karena itu dia merasa perlu untuk memperluas segmen pasar yang lebih besar. Dan segmen yang besar itu ada di jalur tengah.

Sekilas ini masuk akal. Tapi apakah ini langkah yang tepat? Mari kita lihat partai berbasis massa islam yang sudah lebih dulu koar-koar sebagai partai yang menempuh jalur tengah, partai terbuka. Ambil contoh PKB. PKB suaranya tidak bergerak, dia tetap mengandalkan massa tradisional Nahdatul Ulama, itupun sangat terbatas sehingga hanya dominan di Jawa Timur saja. Bahkan ada yang berkomentar miring bahwa PKB itu partai lokal, partainya orang-orang Jawa Timur.

PAN bagaimanapun kuatnya ketokohan Amin Rais belum bisa menggeser sumber suaranya dari luar Muhammadiyah. Suara PAN ya suara Muhammadiyah. Bahkan untuk menutupi suaranya pada pemilu kemarin PAN merasa perlu merekrut artis banyak-banyak supaya suaranya tidak jeblok-jeblok amat. Jadi memilih jalur tengah tidak semudah yang dibayangkan. Buktinya PAN dan PKB tidak memperoleh hasil yang signifikan.

Itu pertama. Nah, kedua. Mesti diingat, siapa saja kompetitor di jalur tengah ini. Meskipun jalur ini diasumsikan jalur yang penuh dengan penumpang tapi pemain di jalur ini tidak enteng dan tidak kalah garang. Disini ada pemain lama; Partai Golkar. Partai anak emas orde baru ini punya pengalaman yang panjang dan tentu saja uang. Belum lagi partai nasionalis yang memiliki massa fanatik tersendiri, PDI Perjuangan. Ditambah pemain baru yang fenomenal Partai Demokrat (PD). Partai yang besarkan oleh citra seorang SBY. Partai kemarin sore yang jadi juara pemilu 2010 lalu.

Kekuatan
PKS sebetulnya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh partai lain. Kekuatan massa yang idealis. Kekuatan massa yang dididik dengan rutin dan rapi hingga tingkat yang paling bawah sekalipun. Ciri massa fanatik barangkali dimiliki oleh beberapa partai berbasis massa islam; Partai Persatuan Pembangunan (PPP), PKB, dan PAN. Tapi citra PPP adalah partai orang tua. PKB adalah partai orang Jawa Timur. PAN adalah partai warga Muhammadiyah. PKS relatif lebih mengakomodir aneka golongan meskipun memang masih terbatas massa muda, terpelajar, dan perkotaan. Jadi PKS memiliki keunggulan komparatif yang menarik. Plus tingkat kekentalan ideologi cukup pekat.

Berbeda dengan partai lain yang mengandalkan kekuatan uang bukan kader. Mungkin PKS tidak nihil dari uang. Tapi sejauh ini uang bukan faktor fundamen. Dan yang lebih penting massa partai-partai lain tidak seloyal massa PKS. Kebanyakan massa loyal dengan uang. Dalam era yang serba sulit seperti ini masyarakat juga berpikir pragmatis. Mereka pilih yang memberi duit. Bukan masalah idealisme lagi.

Nah, lalu apa risiko jika PKS mengambil jalur tengah seperti yang lain. Jalur yang dipenuhi dengan tokoh-tokoh pragmatis yang berhadapan dengan massa pragmatis. Belum lagi dengan masuk ke jalur yang umum ini akan berakibat tidak enteng. Setidaknya ini akan menjadi amunisi partai lain untuk menyerang moral massa PKS; ternyata PKS sama saja, tidak ada bedanya dengan yang lain-lain. Apalagi belakangan berkembang isu yang kurang sedap menerpa partai ini karena konon ada dua faksi di PKS; faksi keadilan dan faksi sejahtera. Yang satu dianggap masih sesuai dengan nilai-nilai idealisme yang dijunjung tinggi PKS yang satu dianggap faksi yang cenderung pragmatis, menggunakan kesempatan yang ada untuk kepentingan pribadi. Ditambah toh, tokohnya tidak bersih-bersih amat karena belakangan sudah ada beberapa yang jadi tersangka kasus korupsi.

Ini tentu serangan yang serius. Ketika selama ini kekuatan PKS bertumpu pada idealisme yang artinya kekuatan moral lalu diserang titik krusial itu maka tentu saja itu serangan yang berbahaya. Kejatuhan moral maka kejatuhan partai itu sendiri. Tentu saja ini bergantung pemimpin dan ustaz-ustaz PKS meyakinkan dan menjelaskan kepada massa dibawah tentang pilihan politik yang mereka ambil. Mungkin massa fanatik akan tidak goyah dan mudah dijelaskan oleh jaringan pengajian PKS. Tapi bukan pekerjaan mudah untuk meyakinkan para simpatisan yang secara kultur tidak atau belum bisa disentuh PKS.

Idealisme adalah emas PKS. Jika itu dipertaruhkan untuk kepentingan jangka pendek dan asumsi-asumsi yang kurang tepat maka itu sangat disayangkan. Menempuh jalur tengah bisa jadi blunder yang bisa membuat PKS terjerembab kedalam kubangan hitam dunia politik Indonesia. Sekali masuk kubangan maka tidak akan mudah untuk bangkit apalagi tumbuh dan berkembang.

Atau ini bisa jadi karena PKS ketakutan dengan semakin maraknya penumpasan teroris di Indonesia? Bagaimana garangnya Densus 88, unit khusus kepolisian yang didanai oleh Amerika dan Australia. Apakah PKS memiliki data yang cukup akurat bahwa posisi politik dan citra politik mereka akan membahayakan masa depan mereka. Itu sangat sulit dibuktikan. Tapi fakta bahwa beberapa partai politik yang terlampau kental ideologinya cenderung gampang dihantam oleh lawan politiknya. Misalnya ikhwanul muslimin di Mesir yang dibubarkan paksa. Atau yang didalam negeri adalah Masyumi yang juga dibubarkan oleh Sukarno. Dan pemimpinnya, Muhammad Natsir dijebloskan ke penjara.

Tidak mudah memang mengelola politik. Ada banyak pilihan-pilihan di hadapan. Tapi saya jadi teringat salah seorang teman saya yang cukup puritan. Dia mengatakan kecewa berat dengan langkah politik PKS ini. Menurut dia PKS sudah sangat pragmatis, mengejar kedudukan semata, hubbud dunya. Saya kira teman saya ini mewakili sebagian –kalau tidak sebagian besar- massa PKS.

Langkah yang ditempuh PKS memang sangat berisiko. Mempertahankan ideologi politiknya mungkin bisa jadi terancam jadi sasaran tembak lawan politikya, misalnya bisa saja dituduh sebagai sarang teroris. Tapi jika terlalu pragmatis tentu akan mengaburkan identitas dan karakter PKS dan itu berarti rawan ditinggalkan massa fanatiknya. Karena jika itu terjadi maka tentu saja akan menjadi kiamat bagi PKS. PKS bisa terdegradasi dan menjadi paria dalam politik Indonesia.
Kita lihat hasilnya di 2014!

Roni Hidayat
Koordinator Majelis Syuro PB HMI

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment