HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Islam dan Neososialis Membangun Tata Dunia Baru

June 09
11:12 2010

Oleh: Ardi Winangun

Teheran, Iran, pada Mei 2010, bisa menjadi sebuah saksi bangkitnya kekuatan untuk menciptakan tata dunia baru yang selama ini didominasi oleh Barat. Pada bulan itu, Presiden Brasil Inacio Lula da Silva, PM Turki Turki Recep Erdogan, dan Presiden Iran Mahmood Ahmadinejad mensepakati pertukaran bahan uranium Iran ke Turki, begitu sebaliknya, dari Turki ke Iran.

Kesepakatan itu otomatis akan ‘melawan’ kesepakatan sebelumnya, yakni Iran harus mengirim uraniumnya ke Rusia dan Perancis, dan selanjutnya Rusia dan Perancis akan mengirimkan kembali ke Iran. Dengan kesepakatan itu, maka Iran dengan di-back up oleh Brasil dan Turki akan melaksanakan kesepakatan yang  baru, dan mengacuhkan kesepakatan lama.

Adanya kesepakatan tiga negara tersebut, Brasil-Turki-Iran, membuat Presiden Amerika Serikat Barack Obama menjadi berang. Dalam pembicaraan telepon dengan Erdogan, anak Menteng itu mengatakan pembahasan rancangan sanksi baru terhadap Iran di forum DK PBB akan terus berlanjut walau ada kesepakatan segitiga itu.

Brasil dan Turki berani mendukung Iran melawan hegemoni Amerika karena dilandasi oleh dua hal. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang positif di Brasil dan Turki. Turkish Weekly, koran di Turki yang berbahasa Inggris menyebut keberanian Turki berbeda pendapat dengan AS soal isu nuklir Iran adalah karena kondisi ekonomi Turki yang kini sangat kuat. Dengan pula Brasil, di bawah da Silva negara bola itu berhasil membangun perekonomiannya secara fantastis.

Kedua, kedua pemimpin dengan ideologi dan agama yang diyakini merasa bahwa Amerika sudah terlalu sewenang-wenang kepada dunia. Erdogan adalah deklarator Partai Keadilan Pembangunan (AKP, Adalet ve Kalkinma Partisi) yang berhaluan Islam. Sedang Presiden da Silva berlatar belakang ideologi kiri (Neososialis). Dengan Neososialis, da Silva leluasa berhubungan erat dengan para pemimpin anti-Barat, seperti Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Terlibatnya da Silva dalam kesepakatan itu selain ia berfaham neososialis juga karena kedekatan hubungan da Silva dan Ahmadinejad. Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, Ahmadinejad melakukan lawatan ke Brasil. Dalam lawatan itu, Ahmadinejad mengatakan, tata dunia baru harus segera dibangun di muka bumi. Keinginan itu disambut baik oleh da Silva.

Sikap hangat da Silva itu secara implisit mendukung program nuklir Iran. Apa yang dilakukan Brasil bagi Amerika Serikat sebagai suatu sikap yang tidak pada tempatnya. Amerika pun mencurigai Brasil.

Iran adalah salah satu negara yang getol untuk membangun tata dunia baru, sehingga negara itu sering melakukan kontak dengan negara-negara yang potensial untuk diajak kerjasama untuk membangun satu kekuatan yang bisa menandingi Amerika. Negara yang mempunyai potensi itu adalah negara-negara di kawasan Amerika Latin dan bekas negara-negara yang berhaluan sosialis-komunis.

Meski Iran sudah menjalin kontak kerja sama dengan Veneuzeula dan Bolivia, namun dalam kunjungan ke Brasil, negara-negara itu tetap dikunjungi. Diplomasi Iran ke negara-negara yang dianggap berseberangan dengan Amerika itu dilakukan sebagai upaya untuk mencari dukungan program nuklir Iran, entah itu untuk tujuan damai atau untuk kepentingan menyerang Israel dan Amerika Serikat.

Kunjungan Ahmadinejad ke negara-negara Amerika Latin itu sepertinya sebagai gong untuk membangkitkan kekuatan baru anti Amerika Serikat. Sebab kemenangan Jose Mujica dalam Pilpres Uruguay, semakin membuat Amerika Latin bergerak ke kiri (baru). Kiri yang dimaksud di sini bisa dibaca bebas sebagai pemerintahan sosialis-marxis yang radikal seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, ataupun sosialis-demokrat yang moderat semisal Brazil dan Cile.

Tata dunia baru yang diinginkan oleh Ahmadinejad itu sepertinya bisa segera terwujud. Dengan dikuatkannya hubungan militer Cina-Korea Utara, maka jalinan kerjasama dengan komunis itu akan membuat ketar-ketir Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sebab saat terjadi Perang Korea, 1950-1953, Cina adalah sekutu Korea Utara. Kunjungan Menteri Pertahanan Cina Liang Guanglie ke Korea Utara, beberapa waktu yang lalu, diperkirakan untuk mendukung program perundingan nuklir.

Meski DKPBB telah mengeluarkan Resolusi 1695 dan Resolusi 1718 Tahun 2006 dan Resolusi 1874 Tahun 2009, namun Korea Utara (Korut) tetap tak mempedulikan resolusi-resolusi itu. Resolusi itu yang dikeluarkan pada tahun 2006 yang salah satu isinya menuntut Korut agar menghancurkan semua senjata nuklir, senjata pemusnah masal, dan rudal-rudal balistik itu, serta resolusi yang dikeluarkan pada tahun 2009 itu yang isinya memperkeras sanksi bagi Korea Utara atas tindakan negara tersebut melakukan uji coba nuklir pada 25 Mei lalu, seolah-olah resolusi itu bagi Korea Utara, masuk telinga kanan kemudian langsung keluar dari telinga kiri atau malah balik lagi ke keluar lewat telinga kanannya. Korut tetap melakukan uji coba peluncurkan rudal jarak dekat atau pendek.

Dalam uji coba rudal balistik selanjutnya China pun tidak bersikap ketika sekutunya itu melakukan ujicoba lagi. Meski DK PBB telah mengeluarkan tiga resolusi, namun ‘membengkuk’ Korut  tidak mudah. Apa faktornya sehingga Korut meski diberi sanksi DKPBB tetap dengan leha-leha melakukan ujicoba rudal-rudalnya? Faktornya karena sikap China. China sebagai tetangga, saudara lama, dan seideologi komunis membuat sikap China diam-diam mendukung apa yang dilakukan negara itu.

China sebagai negara yang disegani membuat Amerika Serikat, Korsel, Jepang, dan negara-negara sekutu lainnya berpikir-pikir bila melakukan invasi atau agresi militer kepada Korut. Bila negara-negara itu melakukan invasi dan agresi militer ke Korut, maka China akan melibatkan diri dalam peperangan itu. Untuk itu diplomasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan ‘kenakalan’ Korut adalah diplomasi bersama China.

China diharap bisa membujuk agar Korut menghentikan segala bentuk ujicoba persenjataannya. Meski Presiden Korsel Lee Myung Bak ngomel-ngomel dan berang terhadap sikap Korut, namun akhirnya dia juga mengucapkan agar China membujuk Korut agar menghentikan segala bentuk ujicoba persenjataannya. Jepang sebagai wilayah yang ikut terancam dengan ujicoba rudal Korut juga mengharap hal yang sama kepada China.

Apa yang dilakukan Cina, Iran, Korea Utara, Brasil, Venezuela, Bolivia, dan negara lain yang sefaham dengan negara-negara itu merupakan sebuah sikap positif untuk membentuk tatanan dunia baru. Setidak-tidaknya mencegah kesewenangan-wenangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara lain.[]

Oleh: Ardi Winangun
Pengamat Hubungan Internasional dan
Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment