HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Politik, Seni dan Budaya

June 11
20:55 2010

(Bagian I)

Membicarakan teater sama membosankannya dengan bicara politik. Dalam diskusi teater dan politik di galeri nasional rabu, 9 juni 2010 diskusi yang dibawakan sedikit formal oleh Fajroel Rahman dan Yeni Rosa Damayanti itu seperti mengulang kembali cerita-cerita tentang keterpurukan seni budaya, seni pertunjukkan khususnya, serta tidak adanya perhatian pemerintah terhadapnya. Teater hanyalah satu dari sekian banyaknya kesenian yang ada di Indonesia. Sedikit lebih menarik jika kita bicara tentang kesenian.

Persoalan kesenian untuk saat ini belum bisa dipecahkan, selain kesenian yang memang tidak mempunyai standar baku dan juga bukan sesuatu yang bersifat komersil, baik itu kesenian kontemporer ataupun kesenian tradisional. Kesenian lebih dekat pada sesuatu yang besifat transenden. Jangan berharap perhatian yang akan diberikan pemerintah terhadap dunia seni, karena hal itu hanya akan membuang energi kita saja sebagai pekerja seni. Secara struktur dalam pemerintahannya saja sudah salah. Kesenian atau kebudayaan berdampingan dengan pariwisata yang notabene titik tekan dari tujuan pariwisata adalah devisa (Depbudpar). Hal inilah yang membuat kesenian atau kebudayaan tidak akan berkembang jika kebudayaan atau kesenian diarahkan pada kepentingan pasar/kapital.

Selain itu problematika lain dalam bidang kebudayaan adalah kurangnya keyakinan masyarakat seni terhadap sesuatu yang mereka kerjakan, sebagai sebuah gerakan ideologis, penggiat seni selayaknya tidak berkutat dengan persoalan ekonomi, persoalan yang selama ini mereka tuntut dari pemerintah.

Ada dua pilihan yang harus diambil oleh para penggiat seni, pertama, mereka mengikuti arus yang menginginkan kesenian menjadi sesuatu yang menguntungkan, yang dikehendaki pasar, kemudian setelah proses negosiasi itu beranjut sehingga pemerintah merasa membutuhkan hal-hal yang marketable dari kesenian, barulah kita bisa mempunyai daya tawar untuk sesuatu yang ideologis. Kedua, melawan, selama ini dunia kesenian memang kurang dirasakan keberadaannya, selain memang pemerintah ataupun masyarakat masih memandang sebelah mata, juga penggiat seni belum melakukan pendobrakan yang besar dalam produksi kreatifnya. Misalnya saja para penggiat seni melakukan pertunjukkan atau pameran yang sengaja menyerang pemerintah, sehingga pemerintah menjadi gerah dengan serangan kesenian itu (paling tidak ada yang mati dalam proses itu), barulah kesenian (mungkin) akan diperhitungkan.

Sebagai sebuah negara dari dunia ketiga, kita masih harus berkutat dengan persoalan kesejahteraan ekonomi. Karena dalam sejarahnya, kesenian sendiri  merupakan konsumsi bagi masyarakat mapan khususnya secara ekonomi. Di negara kitapun saat ini bisa kita rasakan hal ini sekarang. Misalnya, berapa besar biaya yang harus kita keluarkan hanya untuk membeli sebuah lukisan misalnya, atau berapa ratus ribu uang yang harus kita tukar dengan selambar tiket pertunjukkan. Sementara pergelaran kesenian sendiri bukan sesuatu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Di lain pihak pekerja senipun bukanlah golongan yang mempunyai kemapanan ekonomi.

Selama semua srtuktur masih belum memadai, berkesenian masih berbanding lurus dengan pengorbanan. Maka sebagai sebuah kegiatan ideologis hendaknya para penggiat seni tidak lagi berkutat dengan persoalan dukungan pemerintah lagi. Berkarya adalah satu-satunya jalan terbaik bari para penggiat seni. (Ayat Muhammad)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment