HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Vakum sejak 2011, Pengurus HMI Cabang Jepara Akhirnya Dilantik HMINEWS.COM – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jepara periode 2018-2019 sukses menggelar pelantikan pada Sabtu (28/7/2018) bertempat di gedung Shima Jepara, Jawa Tengah. Sebanyak 17 orang pengurus HMI Cabang Jepara...
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...

INTELEKTUAL SIMBIOTIK ; Prolog Bumi Mahasiswa

May 04
00:57 2010

Pertanyaan di atas diungkapkan oleh Presiden Pakistan (1977-1989) kepada seorang pimpinan redaksi sebuah surat kabar terkemuka di sana. Sang jurnalis menjawab dengan waktu yang cukup lama dan mengatakannya dengan tegas, Politisi. Zia tersenyum, dan membalasnya, “pendek sekali pemikiranmu”. Bagi Zia, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual.

Pakistan merdeka karena terinspirasi oleh karya-karya monumental Iqbal, selain ada Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, dan Syed Ahmad Khan. Begitu juga dengan negeri ini, HOS Cokroaminoto adalah guru bangsa yang mampu melahirkan the founding fathers, mulai dari Soekarno, Wahidin Sudiro Husodo, Agus Salim, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Natsir, hingga Ki Hajar Dewantara .

Negeri ini, seperti yang dikatakan Zia, didirikan oleh para intelektual yang bervisi politik. Mereka secara revolusioner bukan hanya seorang politisi atau intelektual seperti dalam pengertian sekarang. Mereka adalah intelektual yang tidak teralienasi dan pemimpin politik yang tidak terobsesi. Tetapi, harus diakui, ada perbedaan fundamental, dengan konteks zaman yang bergerak. Di masa-masa itu, kaum terpelajar menempati posisi sentral. Karena jumlahnya tak lebih dari 650 orang hingga zaman penjajahan Jepang. Sedangkan, di masa sekarang, kaum intelektual telah menjadi kekuatan pinggiran. Mereka bukan saja tidak mampu mempengaruhi kebijakan, tetapi tidak pula menjadi katalisator perubahan, selain disebabkan oleh menurunnya kemampuan para intelektual dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran alternatif.

Tradisi Intelektualitas

Perbuatan, seperti kata pepatah, berbicara lebih keras daripada kata-kata. Tetapi, bagaimana memahaminya? Ada sebuah anekdot menarik berikut ini, seorang tua bertanya kepada 3 orang anak muda yang sedang menulis. Beliau bertanya kepada anak muda pertama, Apa yang sedang Saudara lakukan? Saya sedang mengerjakan tugas menulis, jawabnya. Kemudian dia bertanya kepada anak muda yang kedua, dengan pertanyaan yang sama. Dijawabnya, “Saya sedang memenuhi kebutuhan hidup saya dengan menulis”. Lalu si Orang tua itu beralih kepada anak muda terakhir, dan ia menjawab, saya sedang meretas peradaban ilmu.

Hanya karena persepsi mengenai tujuan akhir dari pekerjaan, seseorang bisa memberi nilai tambah pada setiap aktivitasnya. Persepsi dibentuk tidak dengan sendirinya, begitu juga dengan kemampuan seorang intelektual, ia hadir setelah melewati proses secara terus-menerus. Membaca, berdiskusi, menulis, riset, demontrasi, dan sebagainya, idealnya rangkaian utuh proses yang dimaksud. Dengan aktivitas itulah visi seorang intelektual dapat muncul sehingga persepsinya akan mampu mengobyektifikasi setiap persoalan dengan baik. Basisnya jelas, karena didukung oleh data dan informasi yang akurat.

Rutinitas proses inilah yang semakin jarang menemani generasi muda dalam melewati hari-harinya. Jangankan untuk membaca, membagi waktu untuk menuntaskan tanggung jawabnya saja, terkadang terabaikan. Pada titik paling krusial, akhirnya wajar bila kualitas pemikiran yang dihasilkan generasi saat ini semakin jauh dari harapan.

Memahami Intelektual Simbiotik

Ada banyak konstruksi intelektual yang telah dibangun sebagai jalan pencerahan memahaminya. Bagi Julian Benda, intelektual menjadi moral oracle (orang bijaksana penjaga moral) sekaligus menjadi penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan prinsip-prinsip moral. Kaum intelektual seharusnya mengambil jarak dengan proses-proses politik, bukannya menggunakan kemampuan intelektualnya untuk mendukung kubu politik tertentu. Kehadiran kaum intelektual dalam ranah politik kecil kemungkinannya dapat menggulirkan ide-ide perubahan. Sebaliknya, hal ini akan membuatnya tenggelam, sekadar menjadi kaki tangan politik, alias budak-budak kekuasaan (servants of power).

Khotbah klasik Julien Benda (La Trahison des clercs) sejatinya mengingatkan ihwal kaum intelektual yang berburu kekuasaan akhirnya bersekutu dengannya dan karena itu mengkhianati jati dirinya. Interpretasi Benda terhadap eksistensi kaum intelektual menyiratkan bahwa kaum intelektual harus tampil sebagai resi atau begawan yang secara sadar mengambil jarak terhadap peristiwa-peristiwa sosial politik di sekitarnya.

Namun, pemahaman Benda ini mendapat serangan balik dari tokoh-tokoh seperti Antonio Gramsci, Karl Mannheim, dan Ernest Gellner. Gramsci membedakan intelektual dalam dua perspektif, yakni intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah figur-figur akademikus atau orang-orang yang lahir dari produk universitas, seperti dosen, ilmuwan, atau akademisi lainnya, termasuk mahasiswa.

Sementara intelektual organik, menurut Gramsci, merupakan bagian tak terpisahkan dari berbagai kelas. Karena itu, kelompok-kelompok, seperti buruh dan nelayan juga memiliki intelektual organik. Tak menutup kemungkinan, masuknya kelompok intelektual tradisional ke dalam klasifikasi ini.

Karl Mainnheim-sejalan dengan Gramsci-membalik tesis Benda seraya menuduh cendekiawan yang tak terlibat dalam masalah-masalah aktual di masyarakat, namun hanya menyuarakan kebenaran dari menara gading adalah sosok cendekiawan yang melakukan pengkhianatan intelektual (La Trahison de la trahison des clercs).

Pandangan yang lebih radikal dikemukakan Ali Syariati bahwa seorang cendekiawan harus melakukan kerja protes terhadap segala macam bentuk penyimpangan yang ada dalam masyarakat (Syariati, 1982). Cendekiawan sejati adalah mereka yang berani melakukan kerja protes atas kecenderungan destruktif di dalam masyarakat, tidak sekadar berdiam diri di atas menara gading atau memosisikan diri sebagai resi.

Untuk intelektual profetik, dimensi pengertiannya cukup holistik karena memasukkan dimensi langit (transedental) yang merujuk pada misi kenabian. Golongan ini hanya bisa mewujud dalam realitas jika disertai dengan kesadaran bahwa kita adalah makhluk Tuhan. Dia atas segalanya ada Dia Yang Maha perkasa, yang ilmu-Nya meliputi langit dan bumi, yang kekuasaan-Nya tak terhingga. Konsekuensi dari kesadaran ini adalah apapun yang kita lakukan – termasuk dunia intelektual – tetaplah diawasi dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Yang Maha Kuasa.

Dari banyak perdebatan di atas maka perlu disederhanakan menjadi arahan baru yang relevan dan mampu diadaptasikan. Dalam artian, seorang intelektual diharapkan mampu berelasi baik dengan masyarakatnya (sosial), komunitasnya (komunal), dan secara efektif mampu mengintegrasikan nilai-nilai tersebut secara personal (individual). Untuk yang terakhir inilah, yang akan membuktikan bahwa seorang intelektual memang tidak terpisah atau membuat kelas sosial baru. Seringkali membahas dan membedah kaum intelektual seakan-akan ia terpisah bahkan paling ironis dalam melahirkan ide dan gagasan cenderung kurang membumi. Ada kesan kuat bahwa kuasa ilmu dari kaum intelektual cenderung ‘memaksa’ untuk dipahami. Padahal ruang-ruang dialog penting dihadirkan dalam rangka membumikan dan merealisasikannya dalam kehidupan.

Intelektual simbiotik bicara tentang keseimbangan peran baik secara individu, komunal, dan sosial. Ia rangkaian utuh yang tak terpisah dan menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Dengan demikian, bila seorang intelektual belum mampu menyelesaikan kontruksi dirinya yang mengarahkan ia sebagai teladan kolektif, maka akan sangat sulit ia mewarnai kehidupan. Karena di zaman sekarang, posisi tawar tadi penting untuk menguatkan basis dan pengaruh dalam menggulirkan perubahan secara masif.

Sering ditemukan di banyak zaman bahwa ketika seorang intelektual mampu melakukan perbaikan dan perubahan, kondisi dirinya dan kehidupannya berantakan. Celah ini terbukti mampu ‘melemahkan’ kedigdayaan idenya di masa-masa mendatang. Walaupun banyak kalangan tidak mempermasalahkan karena bukan hal substansial.

Berikutnya, bila secara individual seorang intelektual mampu menyelesaikan konstruksi tentang dirinya, diharapkan ia bersinergi dengan kalangan intelektual lainnya. Perjuangan yang dilakukan menghadapi medan yang luas, sehingga, semakin banyak aktor yang berjuang otomatis cita-cita yang ingin diraih semakin mudah dicapai. Bukan hanya fokus dalam suatu hal, intelektual simbiotik harus mampu menghilangkan batas dan sekat suku, agama, ras, profesi, ideologi, dan sebagainya. Namun batasan nilai sebagai etika dan norma tetap mutlak dipertimbangkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kemanusiaan dan kehambaan yang tidak bertentangan.

Terakhir, karena masyarakat merupakan muara dari kemanfaatan kaum intelektual, otomatis, pergulatan terhadap masalah dan kompleksitasnya memang sudah seharusnya ditempatkan. Jadi, ada proses dimana di antara keduanya saling memahami dan memberikan solusi. Karena selama ini tanggung jawab berkontribusi hanya domain intelektual, padahal justru peran masyarakat sangat strategis, karena mereka lebih mengerti kebutuhan dan keadaan yang dihadapi.[] Agung Baskoro

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment