HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Sinergisitas yang diperlukan (Catatan 100 Hari Program Kerja SBY)

January 27
15:05 2010

gurulib.com

Pada 28 Januari 2010 Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II tepat memasuki 100 hari program pemerintahan. Banyak ‘hajatan’ untuk menyambut momen tersebut, mulai dari diskusi, seminar sampai aksi. Semua jajaran kabinet terlihat sibuk bekerja hanya untuk memperlihatkan kinerja dalam 100 hari. Para menterinya ada yang sibuk melakukan kunjungan kerja, ada yang sibuk mengurusi partainya, ada  yang kasak-kusuk supaya tidak dicopot dalam 100 hari dan ada yang masih sibuk mempelajari dan  memahami apa yang harus dikerjakan dalam 5 tahun mendatang.

Pertanyaan yang muncul adalah, sudahkah program 100 hari memperlihatkan ada perubahan, sudahkah masyarakat puas akan program 100 hari, apakah program 100 hari bisa menjadi parameter keberhasilan 5 tahun kedepan? Masyarakatpun hanya bisa menunggu dan berharap. Masyarakat  berharap segala permasalahan kebijakan, permasalahan pembangunan infrastruktur, permasalahan harga kebutuhan pokok dan sebagainya yang terus merangkak naik ada solusinya. Permasalahannya program 100 hari di jajaran kabinet masih abu – abu untuk bisa kita soroti, dikarenakan hanya tingkah laku menteri dan pejabat tinggi negara yang tidak produktif yang menjadi terlihat. Ini bisa dilihat dari program utama yaitu “pemberantasan mafia hukum” yang sampai sekarang belum juga mendapat titik terang. Pendapat saya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (KIB jilid II) tidak jauh dari sekedar rasa terimakasih SBY terhadap partai koalisinya untuk menempatkan beberapa menteri dan termasuk  yang paling fatal adalah menggandeng Boediyono menjadi wakilnya. Kenapa fatal, hemat saya SBY hanya mencari aman. Belajar dari pengalaman KIB Jilid I memang SBY sangat berhati-hati dalam membangun koalisi, termasuk juga dalam menggandeng wakilnya sekarang yang dirasa memang itu keinginan SBY untuk benar-benar menempatkan Boediyono sebagai ‘pembantu’ nya.

Berangkat dari hal tersebut, SBY sebagai kepala pemerintahan tentunya  ingin mengatakan, bahwa kemajuan percepatan pembangunan bangsa bukan hanya dilihat dari 100 hari saja. Tetapi terlepas dari itu tentunya bahwa 100 hari program kerja menjadi evaluasi tingkat keseriusan  pemerintahan dalam mewujudkan keadaaan bangsa yang lebih kondusif.

Beragam catatan singkat yang bisa menjadikan kita untuk mengevaluasi KIB Jilid II, khususnya program utama terkait pembarantasan mafia hukum, pembarantasan korupsi sudah sejauh mana??

Skandal Bank Century masih terus menjadi idola media dikarenakan adanya keterlibatan pejabat Negara belum tuntas sampai hampir selesai KIB Jilid II dalam program 100 hari. Akibatnya masyarakat ragu akan pemerintahan SBY yang memprioritaskan pemberantasan mafia hukum, sebaliknya masyarakat hanya disuguhi berbagai permasalahan yang yang menimpa lembaga penegak hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan mafia hukum.

Saya pun berfikir, mengurus kasus dengan bank yang relatif kecil saja tak kunjung rampung,  bagaimana mau mengurus Negara yang masih banyak harus dibenahi? Pengangguran, kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.  Belum lagi permasalahan penyuapan, diskriminasi pelayanan di LP yang memberikan pelayanan eksklusif kepada Napi berduit, permasalahan Bank Century ini setidaknya menjadi kebangkitan bangsa ini dalam memberantas mafia hukum. Masyarakat tentunya tidak berpikir terlalu jauh untuk kesitu, melainkan hanya keinginan untuk mendapatkan keadilan, kenyamanan dan mendapatkan hak-haknya yang layak sesuai yang ada dalam UUD 1945. Tetapi masyarakatpun tidak boleh tinggal diam, semakin lama diselesaikan maka semakin luas dampak kebobrokan yang ada pada bangsa ini.
Sederhana dalam benak masyarakat tentunya, mereka hanya berfikir bagaimana untuk mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan, kesehatan dan sebagaianya masih banyak terhambat oleh birokrasi yang rumit, adanya calo atau Markus (maklar kasus) yang sekarang ini banyak terlihat, naiknya kebutuhan pokok ,Infranstruktur yang belum merata, seperti jalanan macet dan tidak adanya angkutan umum yang nyaman dan aman, biaya pendidikan semakin tidak terjangkau dan lain sebagainya.

Apa yang Harus kita dan Pemerintah lakukan?

Saya melibatkan kata ‘kita’ diatas, memang sudah seharusnya kita pun terlibat dalam membangun bangsa ini. Yakin atau tidak kita terhadap pemerintahan SBY sekarang ini, tentunya kita juga bisa melihat pemerintahan SBY periode sebelumnya. Besar harapan permasalahan – permasalahan di atas bukan saja menjadi agenda program 100 hari KIB jilid II , tetapi Presiden SBY harus menjalankannya dengan tegas dan tepat sehingga Indonesia akan lebih baiik.

Evaluasi

Resuffle atau tidak tentunya sudah menjadi hak preogatif presiden, tetapi permasalahannya menjamin tidak reshuffle akan menjadikan pemerintahann lebih baik, atau bahkan sebaliknya mengalami kemunduran??

Program 100 hari  ternyata belum dirasakan  dampak positifnya bagi masyarakat. Kebijakan – kebijakan yang tertuang dalam 100 hari program kerja dinilai kurang berpihak terhadap masyarakat.

Pada dasarnya program kerja yang dengan harapanya dapat meningkatkan kehidupan masyarakat yang lebih baik perlu di kaji kembali, bahkan bisa melakukan reshuffle dalam tubuh kabinet jika memang diperlukan untuk perbaikan. Disinilah SBY untuk bisa melihat kembali kementrian, departemen – departemen, dan lembaga – lembaga untuk di evaluasi dan harapanya sesuai dengan Proporsi tugasnya masing-masing. Diakui kendala di lapangan ada, terutama dalam pemahaman peraturan baru yang belum merata. Jadi masih perlu penyamaan persepsi yang akan dilakukan baik secara langsung koordinasi maupun secara tidak langsung. Intinya adalah sinergisitas dengan koordinasi dan komunikasi yang efektif dan efisien diantara kita semua.

Pemerintahan

Agak sedikit tergganggu dengan semakin ‘gemuknya’ struktur yang ada..Tetapi harapannya ini bukan menjadi kendala untuk tetap bekerjasama dalam mengawasi,mengkontrol dan bersama-sama mewujudkan program kerja.

DPR

Harapan kami terbesar bagi para anggota Dewan yang terhormat  adalah pemahaman yang besar terhadap semua masyarakat yang memberikan amanah untuk mengontrol pemerintah dalam menjalankan tugasnya, bukan sibuk pada pemuasan individu anggota dewan semata. Masyarakat tidak meminta lebih, tetapi konsistensi dan perjuangan atas nama rakyat sangat diperlukan untuk membangun demokrasi yang sesungguhnya menuju masyarakat adil dan makmur. Ibarat kata ‘ DPR jangan dijadikan lembaga representatif Partai, melainkan representatif kedaulatan rakyat’.

Media

Kontribusi media tidak kalah pentingnya dalam membantu pencitraan bangsa kita dimata dunia. Saya merasa prihatin akan posisi media sekarang ini yang terlihat menjadi lahan pencitraan kelompok tertentu saja. Salah satu kuncinya adalah penerapan sikap independensi dalam menyampaikan informasi yang efekif dan revitalisasi system pemberitaan yang berorientasi pada mutu. Media juga harus melakukan evaluasi yang menyuluruh  termasuk perihal pemberitaan isu – isu yang harus dipilah mengingat banyaknya kasus yang penuh dengan ‘rekayasa’.

Masyarakat (Rakyat)

Rakyat adalah  masa depan bangsa kita,atas dasar itulah gerak kita melangkah. Pengalaman menunjukan bahwa partisipasi masyarakat dalam perubahan bangsa cukuplah berpengaruh. Walaupun dalam pelaksanaan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara  terasa masih kurang apresisasi, mereka cenderung dituntut untuk berfikir bagaimana menghidupi diri sendiri daripada memikirkan pemerintahan karena belum tentu juga pemerintah memikirkan rakyat . Pada dasarnya mereka memiliki rasa kegelisahan dan keinginan untuk berinteraksi dengan pemerintah, salah satunya dengan terus mengkritisi berjalannya pemerintahan. Sayangnya, pemerintahan sendiri belum bisa memberikan perncerahan bagi masyarakat.

Akhirnya saya sedikit memberi opini terkait 100 hari kinerja KIB Jilid II, karena saya rasa kesimpulan ada pada diri kita masing – masing.

Keberhasilan dalam proses berbangsa dan bernegara memerlukan kepemimpinan yang kuat yang tidak saja memiliki visi kedepan yang jauh, akan tetapi memiliki komitmen yang berkelanjutan.  Pemerintahan kali ini memasuki pemerintahan jilid II , yaitu KIB JIlid II dengan program 100 harinya memprioritaskan pemberantasan mafia hukum yang tentunya kita sepakat pemerintah sekarang jauh dari apa yang diharapkan. Kita sadar kesempurnaan masih jauh Dalam mengimplementasikan strategi, oleh kaena itu perlu kesinambungan dalam mensukseskan agenda program kerja. Tetapi langkah – langkah atau strategi untuk terus ikut mengamati masalah keumatan dan kebangsaan, terutama dengan mencoba memperlihatkan atau terlibat dalam ranah pengontrolan pemerintah, sehingga perwujudan masyarakat adil dan makmur bisa terwujud. (Dwi Denny Apriliano, Komisi Pemuda dan Mahasiswa PB HMI – MPO)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment