HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...
  • Hoax Semakin Meresahkan HMINEWS.COM, Berita hoax yang beredar di media sosial dinilai sudah sangat meresahkan, banyak netizen yang telah menjadi korbannya, kecenderungan netizen yang terlalu mudah membagi informasi tanpa verifikasi awal, turut membantu...
  • Siap Lawan Koruptor, PB HMI Kunjungi Novel Baswedan HMINEWS.COM, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI MPO) menjenguk penyidik KPK, korban serangan teror, Novel Baswdean di Rumah Sakit JEC Menteng Jakpus, Selasa (11/4). Rombongan PB HMI tersebut dipimpin...

Ada Apa dengan Petani dan Tuhan

January 02
18:25 2010

7junipers.com

Sejarah sebuah agama bercerita, nabi adam adalah manusia pertama di dunia. Beliau diusir ke bumi gara-gara memakan buah khuldi di surga. Lalu pertanyaannya, siapa yang menanam dan memelihara buah khuldi tersebut?

Tanaman khuldi merupakan tonggak awal dari sejarah manusia ada di bumi. Namun, apakah hanya karena tanaman tersebut nabi adam harus mendapat murka dari tuhan. Nabi adam yang terhasut rayuan setan lalu memakan buah khuldi yang terlarang akhirnya dilempar ke bumi untuk selama-lamanya. Ini menjadi dasar bahwa tanaman adalah mahluk ciptaan tuhan yang bukan saja sekedar diberi kehidupan. Pun, peran keajaiban dalam menentukan sejarah alam semesta.

Terlepas dari hal itu, tanaman begitu dimuliakan oleh tuhan. Di mata tuhan tanaman diberi porsi adil tanpa dibedakan dengan manusia. Lantas bisa jadi ini ihwal mengapa tidak ada ajaran agama yang mengatakan tanaman-tanaman tumbuh di neraka. Berbagai jenis tanaman dijadikan balasan pahala oleh tuhan di surga.

Lantas, siapa yang menanam dan merawat semua tanaman di surga. Pemuliaan tanaman apapun di dunia ini sangat lekat dengan peran petani. Begitu arif dan bijak para petani memuliakan tanaman hingga dapat bermanfaat bagi banyak orang. Selain petani, siapa yang berani setelah diketahui dengan bertani hanya memperoleh keuntungan kecil, hutang terus melilit, terpinggirkan, dan kesejahteraan sulit didapat- tetapi masih kembali bertani musim selanjutnya. Tanpa hati yang suci dan spiritualitas yang tinggi, tak mungkin petani memiliki kekuatan tetap melanjutkan kembali hidup mengabdi pada alam dengan cara memuliakan tanaman. Bukankah akhirnya kita harus setuju jika semua petani pantas dan seharusnya berada di surga.

Memperdebatkan soal itu takkan ada habisnya, jika dimuat dalam tulisan ini pun akan menghabiskan berlembar-lembar halaman. Namun, kiranya perlu diketahui bagi manusia yang sudah “terlanjur” hidup di dunia ini mengetahui lebih dalam keajaiban tanaman sebagai mahluk hidup selain manusia yang ada di muka bumi ini.

Tanaman sejatinya memiliki nyawa dan sifat-sifat dasar mahluk hidup. Tanaman membutuhkan makanan, kemampuan beradaptasi, bernafas, tumbuh, dan berkembang biak. Meyakini semua sifat itu lalu siapa yang akan menyangkal jika tanaman juga dapat berkomunikasi seperti laiknya manusia. Backster, seorang ahli alat penguji kebohongan di Amerika yang pertama kali menemukan perihal komunikasi antar tanaman. Ia menyambungkan alat detektor kebohongan tersebut kepada sebuah tanaman. Percobaan pertamanya, ia mengancam tanaman tersebut dengan berpura-pura akan membakar salah satu helai daunnya. Alatnya tak mendeteksi perubahan sedikit pun. Selanjutnya, karena penasaran Backster sungguh-sungguh membakar daun tanaman itu. Apa yang terjadi kemudian, alat detektor menunjukkan adanya getaran. Tanaman dapat merasakan ancaman yang hanya pura-pura atau tidak terhadap dirinya. Akhirnya, Backster berkesimpulan bahwa tanaman pun dapat berpikir. Penemuan tersebut menjadi paling penting di zamannya.

Tak berhenti di situ saja, penelitian tentang keajaiban tumbuhan terus berlanjut. Sauvin, peneliti sensitivitas tanaman, membuat sebuah alat yang dihubungkan dengan tanaman untuk mengukur potensial listrik AC (arus bolak-balik) yang terjadi pada medan energi tanaman. Sauvin segera menemukan bahwa tanaman bereaksi terhadap kegembiraan dan kesenangan. Bahkan Sauvin mengubah alatnya dengan menggunakan tanaman Begonia dalam pot menjadi barang komersial. Setelah terbukti bahwa alat tanaman temuannya itu mampu memonitor para suami yang mata keranjang dan sering selingkuh.

Tanaman ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa, mampu berkomunikasi dengan lingkungan disekitarnya. Mahluk hidup yang diciptakan tuhan jauh sebelum manusia ada di bumi ini. Namun, selama ini terkadang ada golongan manusia tamak selalu menyiksa tanaman. Ada juga golongan lain yang begitu memahami tanaman. Mereka mengabdikan diri untuk merawat tanaman, bekerja selaras dengan alam, menjunjung tinggi kearifan lokalitas. Karena golongan ini begitu mengkultuskan bahwa alam adalah satu-satunya petunjuk dan penentu bagi kehidupan tanaman agar menghasilkan panen yang melimpah. Prinsip menjaga alam agar tetap selaras, serasi, dan seimbang terus dijaga hingga kini. Petani, adalah salah satu golongan tersebut.

Petani pada akhirnya menjadi subjek yang menghubungkan antar mahluk hidup (manusia dan tanaman) serta antara manusia dengan alam semesta. Jalan peradaban manusia secara sederhana dapat dibilang seusia dengan riwayat pertanian. Pertanian adalah cara manusia terdahulu untuk bertahan hidup. Manusia memperoleh energi untuk melakukan aktivitas karena output dari pertanian. Sistem pertanian pun perlahan demi perlahan memaksa manusia untuk mempelajari alam. Manusia akhirnya mampu merenungkan berbagai gejala alam seperti pergantian musim, pergantian siang dan malam, dan gejala-gejala dunia flora dan fauna.

Perkembangan pertanian dari masa ke masa menjadikan manusia mengenal fakta alam semesta. Manusia menjadi mahluk berjiwa yang begitu dekat dengan seluruh ciptaan tuhan. Bahkan memahami dan mengkultuskan peristiwa alam semesta. Untuk meningkatkan produksi pertaniannya manusia mengamati gejala alam yang kemudian menemukan kesamaan dan hubungan. Pertanian menjadi modern karena pengetahuan langit dan bumi sudah dapat diramalkan oleh petani.

Pertanian akhirnya membuat manusia dekat dengan unsur ketuhanan. Kegiatan pertanian yang mementingkan keselarasan alam semesta memiliki sisi religiusitas bahkan makna keagamaan. Mengingat memelihara keseimbangan alam semesta berarti memelihara kualitas hidup bagi manusia. Baik kaitannya bahwa tanaman merupakan produk pertanian juga menjadi asosiasi dari ganjaran atas perbuatan manusia yang baik kelak, yaitu surga. Seperti diajarkan kitab suci dan tradisi, bukan saja surga digambarkan dengan kehijauan tanaman. Kata surga sendiri dalam bahasa arab disebut jannah, yang berarti taman. Maka bukan tanpa sebab pula jika Nabi Muhammad mewanti-wanti agar dalam keadaaan peperangan pasukannya dilarang -selain menggangu orang tua, perempuan, dan anak-anak- juga untuk tidak menginjak-injak tanaman. Penghargaan Nabi terhadap tanaman begitu tinggi hingga tanaman disederajatkan dengan manusia. Laiknya kebiasaan sifat menghargai dari para petani kepada tanaman dengan merawat dari benih hingga panen.

Kebiasaan bertani di masyarakat tradisional pun mengalami perkembangan hingga merasuki adat istiadat yang begitu religius. Masyarakat memiliki pengetahuan tentang ekosistemnya sama dengan tingkat sejarah perkembangan masyarakat itu sendiri. Masyarakat menjadikan alam dan lingkungan sebagai guru, untuk mengatasi hambatan dan meningkatkan potensi. Sistem pertanian akhirnya menjadi beragam sesuai kultur lingkungan dan berakar dari keadaan alam. Seperti sistem ladang berpindah di kawasan hutan, sistem sawah beririgasi (subak) di bali, penataan ruang, tumpang sari, cakar ayam di daerah pasang surut, dan lainnya.

Cara-cara bertani itu akhirnya mengakar hingga membentuk sebuah kebudayaan lokal bahkan kepercayaan. Di Indonesia sendiri, misalnya proses ritual dalam budidaya padi di Toraja. Segalanya dipandang bersifat sakral atau disucikan misalnya sawah dianggap suci dan air yang mengalir pun bersifat suci. Padi mula-mula dianggap muncul dari aktivitas dewa-dewi. Sejarah Dewi Sri dan Dewa Wisnu secara umum dikenal sebagai dewi kemakmuran mencatatkan kultur di tengah masyarakat. Masyarakat Bali selain menyebut Dewi Sri juga ada Dewa Danu sebagai pusat sumber air dan Dewa Sangskara sebagai pemelihara tanaman. Pemeliharaan padi dijadikan sebagai sentral dari berbagai macam upacara adat. Pada prinsipnya masyarakat petani yang bergerak dalam bidang produksi pertanian, secara sadar atau tidak sadar telah dituntun oleh nilai-nilai karma. Di mana memelihara tanaman dan memproduksi makanan dianggap sebagai wujud jalan bakti (bakti marga) dan jalan kerja (karma marga) terhadap sang pencipta.

Jika ditinjau dari perspektif agama islam yang merupakan agama mayoritas di Indonesia, pertanian memiliki posisi penting dalam kehidupan. Kitab suci Al-Quran yang berisi firman Tuhan memiliki perspektif yang khas dan orisinal terhadap kegiatan persawahan, perkebunan, pertanaman, perhutanan, peternakan hingga perikanan. Dalam ajaran kitab suci tersebut ada banyak surat dan ayat yang membahas hal tersebut antara lain Surat Al-An’am 6:99, Al-An’am 6:141, Al-Kahfi 18:32-34, Al-Kahfi 18:42, Al-Baqarah 2:25, Yaassiin 36:35, Ibrahim 14:37, Al-Baqarah 2:266, Al-A’raf 7:130, Ar-Ra’d 13:3, An-Nahl 16:10-11, dan An-Nahl 67-68.

Bahkan karena demikian besarnya manfaat dan keberkahan yang dihasilkan dari kegiatan pertanian. Tuhan banyak sekali menggambarkan perbuatan baik seperti seseorang yang melakukan kegiatan pertanian. Misalnya seseorang yang berinfak di jalan Allah diumpamakan seperti seseorang yang menanam satu butir benih yang kelak menghasilkan berbagai butir lainnya. Selain itu, gambaran untuk orang yang memiliki akidah yang kokoh dengan anggapan seperti tanaman yang menghujamkan akarnya dengan kokoh di dasar bumi, dan memancarkan tunasnya yang menjulang tinggi di langit.

Pertanian menjadi kegiatan yang ternyata berakar dari bawah tanah hingga ke surga. Hidup bertani menjadi sumber inspirasi bagi manusia untuk melakukan hal arif dan berbudi pekerti serta mencintai lingkungan. Namun, era terus berganti. Manusia bukanlah mahluk sempurna yang diciptakan tuhan. Nafsu dan keserakahan akan terus melilit jiwa-jiwa manusia.

Sebagaimana perjuangan Nabi adam melawan rayu setan, namun akhirnya kalah dan telah berdosa karena melanggar larangan tuhan. Perkembangan pertanian yang dijalankan manusia pun diliputi dosa besar yang berupa salah kelola dari sistem pertanian modern. Revolusi hijau adalah salah satu dosa besar pertanian sehingga tuhan memberikan azabnya di bumi ini. Dewi kesuburan pun akhirnya hilang dari kepercayaan karena manusia tak lagi mampu menjaga alam. Gagal panen, puso, kekeringan, banjir dan bencana alam lain mulai membuat susah petani akibat kebrutalan teknologi revolusi hijau yang tak lekat dengan fungsi alamiah.

Sejatinya revolusi hijau dilatar belakangi oleh akibat perang dunia II yang mengakibatkan kelaparan yang melanda dimana-mana. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara revolusioner melalui benih unggul dan teknologi pertanian. Sayangnya, dibalik tujuan brilian itu revolusi hijau justru mengancam keberlanjutan penghidupan. Relasi antar manusia dengan alam (tanaman), juga antar manusia dengan manusia justru berubah jadi semangat mengeksploitasi bukan lagi semangat hidup harmonis seperti dulu. Pada akhirnya petani justru terperangkap dalam teknologi yang diciptakannya sendiri, petani menjadi korban pasar, kesehatan memburuk, dan rusaknya kelestarian lingkungan.

Revolusi hijau menimbulkan dampak terburuk pada kelestarian alam. Bahan pertanian yang digunakan banyak mengandung residu yang berasal dari kimia sintetik. Sehingga bahan tersebut tidak terurai dan mengganggu proses rantai makanan. Serta menyebabkan residu tertinggal dalam tanah, air, dan udara yang dapat menjadi racun bagi mahluk hidup. Penggunaan pestisida kimia dalam revolusi hijau pun dapat merusak kesehatan karena residu pestisida tersebut masih tertinggal dalam makanan. Bahkan, menurut WHO, ada 772 ribu kasus penyakit baru akibat penggunaan pestisida kimiawi. Belum lagi jasad pengganggu (hama) yang akhirnya mampu melahirkan generasi hama baru yang lebih kebal terhadap pestisida. Kondisi ini memaksa para petani untuk menambah dosis pestisida, padahal hal itu dapat menambah kerusakan alam dan kesehatan manusia.

Parahnya lagi, intensifikasi pertanian menurut data FAO telah meyumbang lebih dari 20% emisi rumah kaca global. Kegiatan pertanian tersebut mengancam 70% spesies burung dan 49% spesies tanaman. Revolusi hijau adalah jebakan setan yang ingin merusak alam secara perlahan.

Plasmanutfah yang tersedia di dunia dihabisi oleh proses monokulturisasi yang dianut revolusi hijau. Selama lebih dari 10.000 tahun, petani telah bekerja sama dengan alam untuk mengembangkan secara evolusi ribuan varietas tanaman yang cocok dengan iklim dan budaya lokal petani. Namun, hingga sekarang ini keanekaragaman hayati terancam karena erosi keragaman dan pencurian genetik dengan kekuatan hak paten yang disalahgunakan. Misalnya, dari 10.000 varietas gandum dari China hanya tinggal 1000 dalam waktu 10 tahun. Di papua, lebih dari 5.000 varietas ubi jalar ditanam. Sekarang disana semua seragam menanam padi sebagai pangan pokok. Selanjutnya, diperkirakan ada sebanyak dua benih hilang tiap minggunya.

Proses monokultur ini telah memberangus kedekatan petani dengan alam, bahkan kedekatan petani dengan tuhan. Padahal, tuhan pun mengajarkan untuk mencintai keberagaman. Disitu mengandung makna perbedaan patut disyukuri sebagai karunia langsung dari Tuhan. Petani telah belajar lama untuk mensyukuri keberagaman dengan menciptakan berbagai benih yang sesuai dengan kondisinya. Namun, industri pertanian yang kotor menyusup dan menjauhkan petani dari rasa syukurnya, dengan cara mengenalkan keragaman varietas agar menjadi ketergantungan dengan satu bibit dan faktor produksi lainnya (pupuk, pestisida, dsb).

Teknologi pertanian yang digunakan pun tak pernah ramah terhadap petani. Menggiurkan pada awalnya, selanjutnya malah mematikan. Mengapa bisa begitu? Revolusi hijau dengan teknologinya secara sistematis telah membunuh kreativitas petani untuk menghasilkan pangan dengan menggunakan sumber daya lokalnya. Pada awalnya, teknologi yang ditawarkan gratis. Benih gratis, pestisida gratis, dan pupuk gratis. Setelah petani mulai terperangkap dengan teknologi itu maka semua yang tadinya gratis, untuk memperoleh lagi harus membayar. Petani akhirnya ketergantungan dan tak dapat memutus mata rantai teknologi impor. Karena untuk mengadaptasi teknologi pabrikan itu, petani harus berhadapan dengan hak paten. Untuk kembali ke sumber daya lokal pun sudah tak tersedia lagi.

Revolusi hijau adalah aib bagi dunia pertanian. Petani sendiri yang akhirnya harus menanggung dosa. Tuhan pun telah menurunkan azabnya untuk mengingatkan manusia pada dosa itu. Alam semesta terlanjur menjadi kacau balau. Berbagai musibah terus melanda tanpa henti karena alam sudah tidak seimbang. Rantai makanan terputus karena organisme mati oleh pupuk kimia, pestisida kimia, dan racun lainnya. Semakin banyak lahan kritis akibat erosi pengaruh residu kimia. Pergantian cuaca dan iklim sudah tidak bisa lagi diramalkan oleh petani. Musim kemarau semakin panjang dan kekeringan akhirnya terus menggerus hasil pertanian. Pemanasan global sudah di depan mata akibat salah kelola dari sistem pertanian di bumi ini. Kelaparan di seluruh belahan dunia telah merajalela. Jika sudah seperti ini, manusia harus segera melakukan perubahan. Satu-satunya cara dengan kembali mendekatkan diri pada alam dengan memperbaiki kondisinya. Sebelum Tuhan murka dan memberi amanat kepada Izrail untuk meniup sangsakala. Naudzubillah.

Langkah taubat yang sekarang banyak digembar-gemborkan para praktisi pertanian juga pemerintah adalah sistem pertanian organik. Menurut kamus Wikipedia usaha tani organik adalah bentuk usaha tani yang menghindari atau secara besar-besaran menyingkirkan penggunaan pupuk dan pestisida sintetik, zat pengatur pertumbuhan tanaman, dan perangsang. Pertanian organik memiliki prinsip kembali ke alam (back to nature). Alam mengajari kebajikan bagi umat manusia. Mengutip Saragih (2008), alam merupakan suatu kesatuan, terdiri dari banyak bagian, seperti organisme dengan organ-organnya. Semua bagian berjalan dengan harmoni, saling melayani dan berbagi.Tiap organ memiliki peran masing-masing, saling melengkapi dan memberikan sinergi untuk menghasilkan keseimbangan secara optimal dan berkelanjutan. Itulah gambaran organis, seperti alam melindungi dan mengayomi bagian-bagiannya secara harmonis.

Usaha budidaya tanaman secara organis sebenarnya kembali ke sistem terdahulu. Sekitar tahun 5.000 Sebelum Masehi, petani sudah menggunakan kotoran hewan dan sisa tanaman untuk menyuburkan tanah. Teknik pergiliran tanaman, tumpang sari, dan menumpuk sisa tanaman juga sudah dilakukan. Bahkan penggunaan pupuk kandang dan kompos juga ditemui di Kerajaan Romawi sekitar tahun 23-79 Setelah Masehi. Di Indonesia sudah secara turun-temurun keterampilan bertani organis ditularkan dari generasi ke generasi. Misalnya sistem perladangan Suku Dayak Pedalaman Kalimantan yang memiliki unsur tanah berkadar alumunium beracun, sistem perladangan berpindah pada Suku Batak, Suku Melayu yang efektif mengembalikan kesuburan tanah, sistem Surjan pada Suku Jawa yang cocok pada lahan yang tidak terkontrol, sistem tumpang sari yang mampu menghindarkan tanaman dari meledaknya hama dan penyakit, sistem bertani lada di Lampung dan Sulawesi dengan sistem tanah bakar untuk memperbaiki struktur dan konsistensi tanah, sistem peramalan musim tanam Suku Batak, Suku Jawa, Suku Dayak, Suku Bali untuk mengendalikan serangan hama, dan Sistem Bondang di Desa Silo, Sumatera Utara, yang cukup efektif menciptakan keseimbangan lingkungan.

Melihat tradisi itu, dapat dilihat bahwa akar dari pertanian organik adalah pertanian tradisional yang sudah berabad-abad lalu dipraktikan oleh petani dan teruji kemanjurannnya. Saat ini, pilihan tergantung pada manusia sebagai mahluk Tuhan. Akankah terus mendapat dosa dengan melakukan budidaya pertanian yang merusak alam, dengan mewarisi tradisi revolusi hijau. Atau memilih menjadi orang suci dengan sistem pertanian yang bersahabat dengan alam, melestarikan dan menjaga keseimbangannya untuk generasi selanjutnya.

Penting untuk dicamkan, ternyata setiap rinci kegiatan bertani bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan serampangan dan eksploitatif. Melainkan sebuah ikhtiar penyatuan aktualisasi diri dengan alam, bahkan dengan Sang Maha Pencipta. Ketiganya, seikat bagai sirih, serumpun bagai serai.

Oleh Umar Said
Penulis adalah lulusan Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pernah aktif di BPPM Balairung dan sempat menjadi pimpinan umum Lembaga Pers Mahasiswa AGRITA semasa kuliahnya. Penulis saat ini tinggal di Cirebon dan dapat dihubungi melalui e-mail : bungumarsaid@yahoo.co.id

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. pisca
    pisca January 20, 16:06

    sepakat

    Reply to this comment

Write a Comment