HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Setelah Habib Tiada; Waktu, Kebangsaan & Pluralitas

April 21
07:04 2009

Habib menutup mata beberapa bulan silam. Canda tawanya tak lagi terdengar. Tubuh direbahkan di ruang depan, dikelilingi rak-rak tanpa debu. Buku-buku terlihat rapi menghiasi ruangan dimana jenazah disemayamkan. Ruangan itu, adalah titik persimpangan waktu. Tempat berseterunya beberapa tempo dan narasi. Ruang-ruang di dalam ruangan. Semua berkumpul membentuk dinamika warna-warni tanpa keseragaman. Yang ada hanyalah multiplisitas suara keragaman. Dan ruangan itu menjadi monumen memori dan ingatan terlupakan.

Fragmen dari narasi tanpa ruang dalam imaji kebangsaan yang selalu mendobrak, menantang dan mengecam linearitas masa. Ruangan itu bukan taman makam pahlawan yang hanya menyediakan tempat bagi mereka yang terkenal dan dikenal karena telah mengamankan sudut pribadi dalam koridor republik. Ruangan Habib adalah sebuah monumen bagi mereka yang terlupakan dan dilupakan, gagal dalam menyejarah tanpa memiliki celah dalam narasi nasional. Ini adalah ruang pembuangan. Dimana tong sampah sejarah dibuka dan dipaparkan, diingat dan dibaca, dicermati dan diamankan. Dalam ruangan Habib, tidak ada narasi; yang ada kontestasi dan negosiasi…membentuk sebuah musyawarah akbar oleh para buku dengan teriakan dan bisikannya. Namun di hari habib tiada, musyawarah buku berakhir.
Setelah jenazah diusung, diceraikan dari atap, rumah dan pekarangannya untuk dibawa ke tanah lapang bunga kamboja, buku-buku dimasukkan dalam lemari secara paksa. Ditutup dan dikunci tanpa ruang untuk bernafas. Walaupun para buku berteriak, tiada satu orang-pun mendengar. Bagaimana bisa mendengar? Membuka buku saja tidak pernah, apalagi mencermati? Bagaimana bisa mamahami? Jika buku tak pernah dibiarkan bercerita namun hanya menjadi objek penalaran sang pembaca. Apakah beda sebuah buku dan catatan kosong? Toh sang pembaca yang berbicara. Biarkan saja buku-buku itu menjadi cermin, tempat berkaca guna mengagumi diri sendiri. Layaknya benda mati, kehidupan buku-buku diberangus dan perbedaan-perbedaan tempo disejajarkan dan disatukan hingga membentuk sebuah garis lurus. Mereka yang tak memiliki ruang akan tertinggal karena garis ini berjalan cepat menuju infinitas. Kereta api ekspress menuju negeri senja.

Habib Muhammad b. Husein al-‘Attas lahir di Jakarta diakhir dekade 50an. Mengenyam ilmu dari beberapa ulama lokal, sebelum dikirim ke Lawang, Jawa Timur untuk mengikuti ritus pendidikan pesantren. Kembali ke Jakarta beliau digembleng oleh kakeknya, Habib ‘Ali b. Husein al-‘Attas seorang ulama kharismatik dari Bungur, Kemayoran yang dahulu menulis buku Taj al-‘Arasberketebalan 1652 halaman. Sepeninggal sang kakek, Habib bertemu dengan seorang ulama ahli hadith dari Mekkah yang memiliki banyak murid di Indonesia, Sayyid Muhammad b. ‘Alawi al-Maliki. Namanya tersohor di seantero dunia Islam. Konon beliau meraih gelar doktorat summa cum laudee dari al-Azhar di umur yang sangat dini. Terkesima dengan sang ulama, Habib mengikutinya menuju tanah gersang penuh barokah. Belajar di salah satu pojok Masjid al-Haram, membaca buku dan memandang Ka’bah. Setelah beberapa tahun di Mekkah, Habib kembali ke tanah air dengan sebuah tekad baru.

Begitu banyak kitab-kitab, catatan, syair dan manuskrip tercecer di nusantara. Dilupakan oleh mereka yang tak lagi memperdulikan khazanah skriptural. Banyak masyarakat telah melupakan cara berdialog dengan teks-teks tersebut, sehingga mereka menjadi bosan karenanya. Habib mulai mengumpulkan manuskrip-manuskrip. Dengan segala keterbatasan material tekadnya tetap membara. Sewa kontrakan rumah petak mungil di Kebon Baru terpaksa ditunggak, karena uang telah dihabiskan di tempat fotokopi. Beliau mulai memasuki ruang-ruang berdebu yang telah lama dikunci. Melihat, mempelajari, mencatat dan menyelamatkan manuskrip-manuskrip usang. Tak ada yang melihat dan memahami perjuangannya. Namun ia tetap bersabar.

Akhirnya seorang kaya bersimpati kepadanya. Habib dibangunkan rumah di Kalibata. Disuntikkan dana guna menggaji beberapa pekerja: tukang jilid dan fotokopi. Bersama beberapa anak buahnya, Habib meneruskan pekerjaannya. Mengumpulkan dan mereparasi. Mencetak dan menjilid. Hingga akhirnya ruang depan rumah Habib dipenuhi rak-rak berisi buku-buku indah terjilid rapi. Sebuah perpustakaan timbul dan mengembang di ruangan itu dan Habib tak lagi sendiri. Ruangan kerja sepi itu berubah menjadi ajang dialog dan negosiasi, dimana suara-suara teks terdengar dan dialog berlangsung. Habib tak perlu sorak sorai tepuk tangan para hadirin seperti yang dinikmati oleh para dai. Ia cukup puas dengan teriakkan-teriakkan kitab yang hanya didengarnya sendiri tanpa gangguan orang lain. Setiap mengunjungi rumahnya, pasti kita temukan Habib duduk dimuka meja kerjanya, asyik mengkaji ataupun mencatat beberapa informasi yang didapat dari teks-teks yang sedang dibaca. Dan hobi ini terus berlanjut hingga saat Habib menutup mata di sebuah sore di akhir Agustus 2008. Sebuah investasi, ungkap Habib, agar masa depan tidak terputus dari masa lalunya.

Kini buku-buku itu hanya sekedar jadi penghias. Pemanis ruangan hampa tanpa makna. Sumber otoritas pria bersorban yang mungkin memahami saja tak bisa. “Yang penting image Boss!” Agar terlihat intelektual? Dapat berfoto didepan rak penuh buku? Sedangkan tangan semakin tipis karena terlalu banyak diciumi, oleh mereka yang terkesima dengan pajangan buku di dinding. Tak peduli jika buku-buku itu menipis membentuk sketsa satu dimensi. Multiplisitas ruang dan waktu telah sirna. Ruang depan rumah Habib menjadi senyap. Buku-buku menjadi tempat persemayaman debu dan rak-raknya kini pekuburan para rayap. Yang tinggal hanya suara jam dinding di sudut kiri. Tik..tok..tik..tok..tik..tok. Tanda waktu mekanis dan seragam. Horison telah tertutup dan waktu sukses di provinsikan.
Provinsialisasi Waktu

Macondo. Kesunyian terus berlangsung hingga seratus tahun lebih. Sebuah narasi berisikan ambiguitas waktu. Memang betul, waktu berjalan dan keluarga Buendía beranak-pinak. Namun Márquez memberikan ruang besar bagi multiplisitas waktu. Seakan-akan, seluruh kejadian dalam sejarah kesunyian itu berlangsung secara silmultan. Dan laboratorium sang alchemist tetap abadi. Tak bergeser dalam semakin kuatnya arus perubahan dan semakin dalamnya ruang waktu. Laboratorium Melquíades seakan tetap sama. Waktu memang tidak seragam…. kota Macondo terus berubah sedangkan laboratorium tak bergeming. Ruangan itu seakan-akan menertawakan disiplin masa yang selalu ingin menyempitkan ruang waktu. Laboratorium dan kota seakan berada dalam dua dimensi waktu berbeda walaupun dalam satu ruang ke-kinian. Koeksistensi tempo. Interpolasi masa. Selalu menantang laju sejarah menuju masa depan dengan iluminasi involunter masa lalu. Semua terjadi dalam teater masa kini.

Saul… Saul…Mengapa engkau menganiyaya diriku? Sang penunggang kuda terkejut melihat kilatan cahaya dalam perjalanan antara Yerusalem dan Damaskus. Siapakah engkau tuanku? Aku adalah Yesus yang engkau aniyaya, sekarang berdirilah engkau dan pergi ke kota itu. Saul terkejut dan akhirnya beriman. Dalam kisah ini, sejarah tidak memonopoli pemaknaan. Kronologi tidak jelas, karena Yesus, sebuah suara dari masa lalu, datang dan muncul di masa kini. Mengingatkan. Sebuah iluminasi involunter yang datang tiba-tiba. Mengagetkan dan mengejutkan hingga Saul akhirnya menyadari kesalahannya. Masa kini tidaklah sebatas properti mereka yang hidup. Yang sudah tiada-pun masih merupakan bagian integral dalam ruang kehidupan. Dan yang ada dalam masa kini menempati dimensi waktu yang beragam. Tidak semua sama dan tidak segala hal mengikuti alur historis tunggal. Ruang majemuk yang menandakan sebuah situasi kontemporer tanpa sinkronitas. Dinamika waktu yang ditandai oleh kontestasi dan negosiasi antara keberbedaan masa. Ini adalah ‘Pertanyaan Selatan’ yang dahulu dilontarkan Gramsci: pluralitas temporal dalam ruang kebersamaan sebuah bangsa.

“Ini adalah Angelus Novus,” kata Walter Benjamin. Kepala malaikat ini melihat kebelakang. Mengingat yang terlupakan. Memperhatikan berlalunya masa dan mereka yang pernah melintas dalam panggung kehidupan. Tiba-tiba badai berhembus dari balik gerbang surga, meniupkan angin kencang hingga sang malaikat tak lagi dapat menahan tiupan angin yang mendorongnya ke depan. Matanya masih terbelalak melihat belakang, namun sayapnya terus mengepak meninggalkan masa silam. Sang malaikat akhirnya terus mengikuti badai menuju ke masa depan, walaupun kepalanya tetap mengamati masa lalu. Masa lalu yang semakin menjauh.Angelus Novus adalah malaikat sejarah dan badai dari balik gerbang surga adalah progressi. Maju… Maju… Maju… Semua harus maju… rakyat harus maju… bangsa harus maju… ummat harus maju… hidup untuk kemajuan! Ingin maju kemana pak? Wah, kalau itu kurang tahu juga dik…

Dalam logika kemajuan ruang menjadi sempit. Yang tinggal hanyalah kapital, bangsa atau negara. Sebuah lorong satu petak yang dipenuhi oleh imaji-imaji masa depan tanpa memikirkan masa lalu. Sepertinya disekeliling kita lautan tak bertepi dan satu-satunya jalan hanya maju kedepan melalui lorong sempit ini. Dengan tongkat Musa laut dibelah dan lorong perjalanan terbuka. Kita semua memasuki berdempet-dempetan. Semua menuju ke titik yang sama tanpa ada jalur alternatif maupun tujuan berbeda, dan bergerak secara seragam dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ayo cepat berbondong-bondong! Hati-hati jangan terinjak! Yang terinjak hilang ditelan masa. Sepertinya lorong waktu telah berubah bak lorong Mina.

Dahulu, ruangan buku Habib seperti laboratorium Melquíades. Disana kita duduk bersama ditemani buku-buku yang saling berteriak. Ruangan itu penuh dengan iluminasi sehingga tokoh-tokoh dari masa lalu duduk berdampingan dengan kita, menasehati dan berbincang dalam proses interpolasi temporal seperti yang terjadi antara Yesus dan Paulus. Dalam ruangan itu, ruang waktu tidak seperti lorong sempit ditengah laut merah. Kita tidak dibendung dan dibatasi oleh perbatasan negara dan penjara kebangsaan. Dipan Habib selalu bepergian dari Afrika Timur menyebrang Laut Merah ke Arabia melintas Teluk Persia menuju India hingga Asia Tenggara dan Cina. Ambivalensi ruang dan waktu selalu mewarnai. Kita duduk di masa kini ditemani para tokoh masa lalu bersama bermimpi akan masa depan. Sebuah dinamika temporal yang berbeda dari ruang waktu hampa dan homogen. Masa lalu hidup penuh arti, selalu aktif menantang masa kini. Tak ada kronologi natural. Yang ada hanyalah anak panah Tuhan, menandakan konflik temporal seiring dengan kontak dan bentrokan. Konflik inilah yang dalam imajinasi Chinua Achebe menghasilkan produksi dan penyebaran kultur hibrida. Paragon dari keseragaman kebangsaan.

Namun setelah Habib tiada, musyawarah buku berakhir dan waktu diprovinsikan. Provinsialisasi waktu tercapai pada saat dunia hanya menjadi properti bagi mereka yang hidup. Orang-orang mati tidak memiliki bagian apapun dalam kehidupan kita. Setidaknya begitu ungkap T.S. Eliot dahulu. Tik…tok…tik…tok…tik…tok. Demi Masa! Kita semua memang merugi. Merugi? Ya..yang ada hanyalah waktu yang ditunjukkan oleh panah jarum jam diatas dinding dipojok kiri ruangan hampa. Tanda waktu mekanis dan seragam. Tik..tok..tik..tok..tik..tok.

Pengkafanan Tradisi

Saat Habib dimandikan, tradisi juga ikut dikafankan. Bukankah setiap yang mati harus dikafankan? Begitu juga definisi kematian adalah terhentinya dinamika alur waktu. Gerakan adalah simbol kehidupan. Namun, setelah Habib tiada, tradisi menjadi statis, mati, tak bergerak, tanpa laju. Jalur dinamika tradisi telah ditutup. Tradisi telah diadopsi dan dijinakkan oleh waktu mekanis. Ia hanyalah sebuah bayangan dalam ruang waktu hampa dan homogen, seperti pajangan buku yang menghias dinding.

Di dipan Habib, tradisi adalah sebuah dinamika waktu. Sebuah perjanjian antara masa lalu, kini dan masa depan. Ia membuahkan sebuah ruang tersendiri, dengan dinamika temporal yang unik. Tradisi adalah wacana yang disetujui oleh sekelompok manusia. Melihat masa lalu mencari inspirasi. Mengintip masa depan mencari impian. Menilik masa kini mencari kesempatan. Namun kemungkinan-kemungkinan yang timbul dalam dinamika ini tertutup, disaat masa lalu terputus dan lemari buku dikunci. Dinamika tradisi hancur disaat komunikasi dengan suara-suara di balik kubur terputus. Ia hanya menjadi sederatan kitab-kitab indah, pajangan tak terbaca dan tak tersentuh. Tradisi masuk dalam ‘logika klasik’: buku-buku yang ‘harus’ dibaca namun tidak dibaca. Tiada lagi dimengerti, namun semua berasumsi memahami. Dalam lemari, buku dipuja-puja bagai berhala. Dan tradisi tak lagi dalam ruang dan waktu dan karenanya ia tak lagi berubah. Tetapi, bukankah hanya Tuhan yang tak berubah? Karena hanya Dia yang berada di luar ruang dan waktu? Jika memang tradisi telah menjadi seperti sebongkah batu hitam yang diciumi para pelancong, lebih baik tutup saja kisah ini. Mari kafankan tradisi!

Kini tradisi menjadi sebuah pementasan par excellence. Sebuah panggung teatrikal guna memukau warga sekampung. Ketimbang menyepi sendiri dengan buku-buku, lebih baik berkhotbah di mukai khalayak. Toh sekarang jaman internet. Sudah ada youtube kata para dai muda. Tinggal dengarkan saja ceramah-ceramah ulama Timur Tengah. Nanti tinggal diterjemahkan dan dibumbui sedikit. Pasti laku Boss! Undangan pasti akan bertumpuk. Bisa-bisa sehari tiga majelis harus dihadiri. Oh, jadi ceramahnya di daur ulang ustadz? Tentu saja, kan waktu adalah uang! Buka buku? Mana sempat! Yang penting banyakkan teriakan dan tangisan, sehingga para hadirin hadirat (rohimakumullah) bisa ikut menangis dalam kesyahduan. Menangislah seakan-akan besok kiamat! Kata sang ustadz dalam hatinya, aduh kiamat?.. padahal mobil mewah belum kudapat. Jangan lupa akhiri khutbah dengan kalimat syahadat. Untuk diikuti para penonton. Mungkin awan akan turut berdzikir. Membentuk nama Tuhan yang Maha Tinggi. Jangan ketinggalan juga rebana dan marawisnya, agar ibu-ibu merinding. Ini semua saudara, adalah resep mendapat amplop tebal.

Apa untungnya mengurus Kitab? Duit banyak keluar, tapi tak ada yang masuk. Jelas-jelas masyarakat kita tak suka buku. Banyak penerbit gulung tikar. Apalagi ngurus manuskrip! Apa bisa kertas-kertas itu dijadikan modal? Untuk akumulasi finansial? Jika tidak, bisa-bisa kita nyangkut jadi proletar! Saudara, ini sudah jaman post-post-moderen. Modal, kapital sudah merambat masuk hingga ke urat nadi. Tidak ada lagi ranah yang bebas dari penjinakkan ekspansi kapital. Dari mulai angkasa luar, hingga urat nadi. Urat nadi? Ya! Coba lihat kebun tebu yang diolah menjadi gula. Dari tanaman menjadi modal. Sebuah komoditas jadi santapan, tinggal di campur teh hangat langsung diminum. Gula bercampur darah pekat menguasai urat nadi. Pantas, semua kena diabet… penyakit kapitalisme paling mutakhir. Ternyata tidak hanya ‘logika klasik,’ tradisi juga telah resmi menjadi bagian dari logika kapital.

Pung ketipang ketipung, suara gendang bertalu-talu. Pergelaran dan pementasan tradisi masih berlanjut dan terus berlanjut. Menampilkan para dai muda manis rupawan sangat menawan. Inilah para penerus tradisi, para mubaligh bintang undangan. Setelah sekolah di luar negeri dapat kembali ke tanah Jawa dan merengkuh popularitas. Berapa tahun ustadz sekolahnya? Cukup empat tahun. Empat tahun? Kok singkat sekali? Ya.. karena empat tahun di tempat saya belajar, bagaikan tiga puluh tahun di al-Azhar. Wah kok bisa? Namanya juga barokah. Kini setelah pulang ke Jawa, dapat langsung memanjat panggung dan memukau penonton. Tidak perlu dibuka dengan salam, langsung saja mulai ceramah agar terlihat lulusan luar negeri. Inilah para penerus dan penjaga tradisi di era post-post-moderen. Yang penting kita banyak menghafal syair-syair masa lalu mengingatkan para hadirin bahwa tradisi kita adalah yang terbaik. Sanadnya sambung-menyambung dari anak ke ayah hingga kakek. Semua mengikuti langkah demi langkah. Jadi tak usahlah mengurus kitab, manfaatnya tak sebesar ceramah.

Dalam pementasan ini, tradisi menjadi fenomena satu dimensi. Sebuah retorika panggung. Dialog telah berubah jadi monolog. Dengan pembicara-pembicara tetap, tradisi menjadi objek untuk didefinisikan, dan karena tak lagi bergerak, ia dapat dengan mudah diartikan. Para juru bicara menjadi pemegang hak tunggal artikulasi tradisi. Tetapi mengapa sangat banyak juru bicara? Mending kita langsungkan kontes pidato agar kita memiliki satu juru bicara. Tetapi saudara, jurinya bingung. Kok bingung? Seratus peserta, gara ceramahnya sama semua! Mungkin di hari pengkafanan tradisi, kreativitas dan improvisasi ikut mati. Semua bergaya sama, berpakaian sama, berjenggot sama dan berkacamata sama. Intonasi suara-pun ikut sama.

Pung ketipang ketipung, suara gendang bertalu-talu. Ritual hanya tinggal ritual. Makna hilang bersama perginya Habib. Ritual tak lagi menjadi ranah liminal, ruang tak disini dan tak disana…antara ada dan tiada. Ritual tidak lagi menjadi tempat anti-struktur dimana communitasegaliter yang berbeda dari hierarkhi struktural sehari-hari dapat tercipta. Dik dik.. tolong jangan duduk didepan ya, itu khusus untuk para habaib dan kyai. Eh, disitu juga tidak boleh dik.. itu khusus untuk para pejabat dan para donatur berdompet tebal. Tolong anda duduk dibelakang saja ya. Ternyata ritual tidak lagi jadi ranah liminal. Hierarki struktural sudah tercipta didalamnya.

Dan juga waktu. Ritual adalah tempat dimana dinamika waktu yang berbeda mendapat ruang. Dalam ritual, interpolasi waktu layak terjadi dan yang mati dapat kembali hadir. Itulah sebabnya kita berdiri ditengah pembacaan maulid, karena sang nabi hadir. Tetapi kini ritual tak lagi membuka jalur waktu alternatif. Majelis maulid kemarin diadakan untuk memperingati hari ulang tahun republik. Wah. Tampaknya ranah liminal tak lagi ada dan tiada. Yang ada hanya keberadaan. Keberadaan dalam ruang waktu hampa dan homogen. Ritual hanya sebatas pementasan dalam ruang waktu kenegaraan. Ruang kekinian. Yang ada hanyalah waktu yang ditunjukkan oleh panah jarum jam diatas dinding dipojok kiri ruangan hampa. Tanda waktu mekanis dan seragam. Tik..tok..tik..tok..tik..tok.

Buntut Komet

Di hari habib tiada, sang janda menangis durja. Musik tak lagi terdengar dan teater telah mati. Coretan mulai tampak didinding, seperti dahulu ia terlihat di tembok istana Belshazzar. Mene, Mene, Tekel u-Pharsin. Dan sang raja terbunuh malam itu juga. Yang tinggal hanya Sisyphus, terus mendorong batu hingga ke atas bukit. Tetapi batu kembali mengelinding kebawah dan proses bermula kembali. Kemana hilangnya makna? Berkata atau mengkritik sedikit dituduh berubah, taghayyar! Perubahan menjadi kata paling ditakuti, karena tradisi sudah beku dan semua sudah final bak kitab suci yang tak perlu diperbaharui. Pembaruan itu madzhab Nurcholis dan pengikutnya! Disini semua telah stabil, seperti pilar pilar ‘Iram. Alladzi lam yuthlak mitslahu fi al-bilad. Kota seribu pilar, yang tak pernah ada sepertinya di kota-kota lain. Tapi toh akhirnya ‘Iram hancur dan pilar-pilarnya runtuh. Habis tak berbekas menjadi dogengan sebelum tidur.

Tetapi, walaupun komet telah berlalu, buntutnya tetap terlihat. Tetap bersama kita, bersedimentasi, membubuhkan pemaknaan-pemaknaan plural di sudut-sudut ruang hampa, membentuk masa kini yang tidak sinkron. Marx telah memikirkannya, sebelum Husserl membubuhkan konsep ‘buntut komet.’ Walaupun proses ekspansi pasar dunia menyeluruh, Marx juga menegaskan perkembangan tak seimbang dalam mode produksi. Ekspansi kapital yang ingin menenggelamkan mode-mode produksi yang beragam dalam sebuah logika universal dan ruang waktu seragam, tidak akan pernah sepenuhnya berhasil karena setiap ranah yang dimasukinya tetap memiliki bekas-bekas mode produksi sebelumnya. Bekas-bekas ini, buntut komet yang bersedimentasi di pojok-pojok ruang homogen kapital, menyimpan memori dan dimensi waktu tanpa sinkronitas. Begitu juga dalam ranah negara-bangsa yang ingin memonopoli semua pemaknaan politik, budaya dan identitas, buntut-buntut komet tetap ada diantara celah-celah kebangsaan. Zona-zona ini, seperti halnya laboratorium Melquíades dan ruang buku Habib, terus menawarkan pemaknaan-pemaknaan yang menurut Immanuel Kant, ‘kekanak-kanakan,’ karena tidak mempersiapkan masyarakat untuk praktik-praktik kewarganegaraan dan tidak pula didasari oleh penggunaan nalar. Buntut komet selalu menantang monopoli kapital dan negara terhadap imajinasi dan artikulasinya.

Refleksi ini bukan requiem. Bukan sebuah missa pro defunctis guna mengakhiri sesuatu yang tak lagi berfungsi. Refleksi ini adalah sebuah intervensi dalam ruang waktu yang kian menghampa. Politik putus asa, kata Dipesh Chakrabarty. Refleksi ini memperlihatkan represi modernitas tunggal dan monopoli ke[maju]an oleh proyek kebangsaan dan kenegaraan moderen. Represi yang mengubur, melupakan dan menghancurkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam solidaritas kemanusiaan. Juga mereka yang tidak memiliki kavling dalam fresco agung republik. Yang tidak memiliki tanah di taman makan pahlawan. Politik putus asa menunjukkan ketidakmungkinan proyek yang diusungnya. Bagaimana mungkin buntut-buntut komet akan hidup dan imajinasi ruang waktu berubah? Sebuah intervensi tanpa kemungkinan. Sebuah proyek sejarah yang selalu melihat pada kematiannya sendiri dengan memaparkan proses kehancurannya. Terikat dalam represi peminggiran dan pelupaan. Terperangkap dalam ruang kosong dengan jam dinding. Tik..tok…tik…tok.. Mungkin makna timbul dalam proses dan bukan pada akhir tujuan. Mungkin dalam keputus-asaan ini timbul kemungkinan imajinasi-imajinasi yang berbeda secara radikal dari apa yang sudah ada. Dan imajinasi-imajinasi ini dapat membuka temporalitas yang plural dan heterogen, dimana setiap alur sejarah memiliki ruangnya sendiri. Tak terpinggirkan dan dipinggirkan, seperti dalam ruang hampa homogen. Toh, apa artinya demokrasi jika pluralitas dan heterogenitas tidak memiliki ruang expressi?

Oleh Ismail F. Alatas
(Penulis adalah Ph.D Student, University of Michigan)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment