HMINEWS.COM

 Breaking News
  • Pengurus Besar HMI Resmi Dilantik HMINews.com-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) MPO periode 2018-2020 resmi dilantik di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2018) lalu. Dalam pelantikan tersebut, Pengurus PB HMI dikukuhkan langsung oleh Ketua...
  • Masyarakat Papua Sambut Hangat Kongres HMI ke-31 HMINEWS.COM – Kongres HMI ke-31 sukses dibuka di gedung Aimas Convention Centre (ACC) kabupaten Sorong pada Minggu 28 Januri 2018. Kongres kali ini mengangkat tema “HMI untuk umat dan bangsa; merawat generasi...
  • Pancasila dan Pembubaran Ormas Radikal Belakangan ini wacana pembubaran organisasi yang (dianggap) menentang Pancasila ramai dibicarakan. Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Mei, usai memberi sambutan dalam acara Mukernas dan Halaqah Nasional Himpunan Pengusaha Nahdliyin di Pondok Pesantren As-Tsaqafah, Jakarta menyampaikan bahwa wacana pembubaran itu sedang dikalkulasi oleh menkopolhukam....
  • PB HMI Sambut Baik Vonis Terhadap Ahok HMINEWS.COM, Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat tanggapan dari PB HMI MPO. Direktur Eksekutif Lembaga Kekaryaan Bantuan Hukum (LKBH) PB HMI,...
  • Solusi Ideal Stagnasi Pendidikan Indonesia Suatu hari di tahun 2017, seorang guru yang ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk mengajar di sebuah daerah perbatasan Indonesia – Malaysia di daratan Kalimantan, merekam empat...

Teror vs Jihad

November 16
06:44 2008

Sejak aksi bom Bali I hingga eksekusi mati tiga aktornya Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera, diskursus apakah itu tindakan teror atau sebuah perang suci, hingga kini tak kunjung tuntas.

Bagi para korban Bom Bali I dan keluarganya, apa yang dilakukan Amrozi Cs jelas sebuah tindakan teroris, karena ada korban jiwa sebanyak 202 orang, dimana 88 diantaranya warga negara Ausrtalia. Sangkaan serupa juga disampaikan kebanyakan kaum muslim Indonesia, bahkan MUI melalui Ketuanya Umar Shihab menegaskan bahwa apa yang dilakukan Amrozi Cs bukanlah sebuah jihad.

Sebaliknya, bagi para pendukungnya, apa yang dilakukan Amrozi Cs sungguh sebuah perang suci. Itu adalah sebuah simbol perlawanan umat Islam atas penindasan yang dilakukan Amerika dan pasukan multinasional yang menyerang saudara seiman di Palestina, Afghanistan dan Irak.

Pendek kata, apa yang dilakukan Amrozi Cs bisa diseret ke ranah teror sebagaimana bisa dijustifikasi sebagai jihad.

Esensi teror

Hingga kini definisi teror belum seragam, ada yang menerjemahkan teror sebuah kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Ada juga yang mendefinisikan, teror sebagai aksi brutal dengan korban harta dan jiwa yang menimpa masyarakat sipil. Teror juga diartikan sebagai aksi menguasai perasaan orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar.

Memang generik teror tidak pernah seragam, tergantung siapa yang menafsirkan. Paling tidak kita bisa menarik simpul besar dari teror adalah tindakan radikal, kalau dia menjelma menjadi sebuah keyakinan jadilah ia radikalisme.

Pelaku teror bisa orang per orang, sekelompok orang, sipil, militer bahkan negara dan kumpulan negara. Sehingga jika makin banyak melibatkan korban manusia, terutama rakyat sipil, maka makin mudah mengidentifikasinya bahwa itu adalah tindakan teror. Tapi ada padanan kata lain yang cenderung diperlakukan sama dengaan terorisme, yakni fundamentalisme atau militan.

Masalahnya, sebagaimana dalam wacana ‘terorisme’, ‘fundamentalisme’, ‘militan’, para peneliti masalah sosial keagamaan, akan selalu terbentur pada soal ‘definisi’. Apa dan siapa yang disebut ‘radikalisme’?

Definisi ini sangat penting, agar jangan salah dalam memberikan cap, sehingga menimpakan kezaliman. Orang yang dizalimi doanya maqbul. Tidak ada hijab lagi antara dirinya dengan Allah. Jangan sampai para ulama itu salah membuat definisi dan membuat cap teroris atau radikal.
Tapi ada istilah lain yang juga patut dicermati, yakni anti-teror, yakni tindakan apapun yang digunakan untuk menghentikan atau paling tidak meminimalisir dampak terorisme. Bagi polisi, pembentukan Densus-88 merupakan tindakan anti-teror kelompok Amrozi Cs, sebaliknya bagi para penganut Islam Salafi, apa yang dilakukan Amrozi Cs adalah tindakan anti-teror atas teror yang lebih besar yang dilakukan Amerika dan pasukan multinasionalnya.

Esensi jihad

Jihad berasal dari kata bentukan jahada, yujahidu, jihadan, yang berarti perjuangan atau optimalisasi usaha. Al-Quran sendiri memiliki kata khusus untuk perang, yakni harb, atau qital untuk membunuh. Karena itu al-Quran menggunakan istilah harbul muqoddas untuk perang suci.

Dalam berjihad sendiri Rasulullah memberi rambu-rambu, antara lain: jangan membunuh wanit, anak-anak, orang jompo, bahkan merusak tumbuhan dan membunuh hewan. Jadi jihad memang benar-benar perang suci, itu sebabnya hal-hal kotor yang menodai akhlaq dalam berjihad sangat dilarang, kalau tidak bisa dikatakan diharamkan.

Bagi mujahid, pelaku jihad, ada janji pahala yang besar jika ia menjadi korban dalam proses peperangan melawan kaum kafir. Tapi yang lebih menarik, jihad memang harus dalam konteks di medan perang.

Diantara tingkatan jihad, ternyata yang paling berat sebenarnya bukan jihad melawan musuh, melainkan jihad melawan hawa nafsu, sebagaimana pesan Rasul pasca perang Uhud.

Tapi esensi dari jihad adalah bagaimana mengerahkan segala potensi yang ada untuk menegakkan kalimat Allah dan memerangi siapa saja yang memerangi agama Allah.

Dari Amru bin Abasah ra. beliau berkata,” Ada orang bertanya kepada Rosulullah,”Wahai Rosulullah, iman bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab,”‘Hijrah.” Orang tersebut bertanya lagi,” Apakah hijrah itu?” Beliau menjawab,”Engkau meninggalkan amalan jelek.” Orang tersebut bertanya lagi,”Lalu hijrah bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjawab,” Jihad.” Orang tersebut bertanya lagi,”

Apakah jihad itu?”

Beliau menjawab,” Engkau memerangi orang kafir jika kamu bertemu mereka.” Orang tersebut bertanya lagi,” Lalu bagaimanakah jihad yang paling utama?” Beliau menjawab,” Siapa saja yang terluka kudanya dan tertumpah darahnya.” Soal Amrozi Cs

Lalu kita coba elaborasi apakah yang dilakukan Amrozi Cs masuk kategori teror atau jihad? Penulis melihat apa yang dilakukan ada unsur jihad tapi terselip juga aksi teror.

Tekad Amrozi Cs memerangi para pembantai kaum muslim di belahan dunia lain sudah sesuai dengan watak dasar seorang beriman yang kuat. Tapi niat itu menjadi benar jika dilakukan di Palestina, Afghanistan dan Irak, itupun ditujukan bagi tentara pembantai dan bukan rakyat.

Tapi mereka mungkin beralasan tidak cukup kapasitas berhadapan dengan mesin pembunuh yang dimiliki Israel, Amerika dan antek-anteknya. Lalu mereka belokan kepada simbol-simbol yang mendukung proses tersebut, dalam hal ini warga sipil Australia.

Pada sisi lain, karena bom diledakkan di tengah kerumunan orang banyak yang mungkin sedang melakukan ‘maksiat’, tapi pesan nabi bahwa dalam berjihad dilarang membunuh wanita, anak-anak, orang jompo, bahkan dilarang merusak tanaman, ternyata kurang diindahkan.

Yang menarik, tanda-tanda mujahid justru terlihat saat-saat Amrozi Cs akan dieksekusi, tak terlihat gentar, malah bertabur senyum seolah akan mendapat imbalan surga. Ditambah pula dalam proses eksekusi ketiganya tak ingin matanya ditutup. Ini adalah simbol-simbol keberanian seorang mujahid.

Namun yang namanya syuhada, orang yang mati berjihad, selaiknya tidak perlu dimandikan, karena malaikat langsung yang akan memandikan. Tapi dalam kasus ketiganya semua dimandikan.

Karena itu penulis berpendapat, galilah makna jihad sedalam-dalamnya, sehingga dalam pelaksanaannya menjadi tepat sasaran, sesuai dengan akhlaq dan berdampak positif bagi kaum muslim.

Sudut pandang

Kalau sudah begitu kejadiannya, lantas apakah mereka dapat dikatakan mati sebagai syuhada? Disinilah perlunya diperhatikan dua hal, pertama, cita-cita yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Kedua, cita-cita  yang baik bisa jadi batal lantaran dilakukan dengan cara  yang keliru.
Aksioma itu memang berlaku umum, namun dalam konteks perang yang dilakukan Amrozi Cs bisa jadi adalah perang melawan dan menghancurkan kepentingan AS dan sekutunya di seluruh negeri, termasuk Indonesia. Bukan perang head to head melawan Amerika seperti yang dilakukan Taliban di Afghanistan dan tentara para militer di Irak.

Karena itu dalam kaitan ini ada yang berpandangan bahwa yang dilakukan
Amrozi Cs itu adalah sebuah ijtihad. Dalam ijtihad ada kaidah, jika ijtihad itu benar maka akan memperoleh dua kebajikan, sedangkan jika ijtihad yang dilakukan salah maka akan tetap mendapat reward sebuah kebajikan. Itu sebabnya menurut kelompok ini, apa yang dilakukan Amrozi Cs masih dikategorikan sebagai jihad dan dia layak masuk surga.
Tapi bagi kelompok yang lain, terutama yang dinyatakan MUI, apa yang dilakukan Amrozi Cs bukanlah sebuah aktivitas jihad dan oleh karenanya mereka tak berhak menyandang gelar syuhada.
Lepas dari pro dan kontra soal apakah yang dilakukan Amrozi Cs itu jihad atau teror, sebenarnya masuk dalam wilayah otoritas Allah SWT. Allah yang memiliki surga dan neraka, sehingga Allah pula yang berhak memvonis dia syuhada atau teroris.

Kita hanya memiliki alat ukur yang sangat relatif, itu sebabnya pandangan mengenai hal ini terbelah menjadi dua antara jihad dan teror. Akhirnya, yang lebih bijak adalah mari kita kembalikan saja kepada yang maha memiliki otoritas itu. Wallahu a’lam…! (Djony Edward, Penulis adalah Wartawan Bisnis Indonesia, (www.djonyedward.blospot.com))

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment